
Nuga mendesah berat saat mendengar Tasya bercerita. Ini apa bisa dikatakan salahnya? Tapi mana tau Lah kalau Nanda di sana bakal dilepaskan? Lagian, bukankah Nanda jalan terakhir bukan dengan Axcel juga? Lalu apa salahnya kalau dia memutus harapan Axcel, toh Nanda juga sudah akan menikah waktu itu.
Jadi kalau Axcel pergi bukan sepenuhnya salahnya kan? Bisa jadi Axcel hanya pamitan, kan?
"Pak!"
"Ya!" Nuga menoleh saat Tasya menepuk lengannya dengan keras.
"Bapak denger aku gak sih?"
Oke, mari kita lupakan siapa Nuga ini dan Tasya harus bersikap bagaimana. Ini darurat dan Pak Nuga yang konsisten juga fokus ini bengong saat mengemudi? Bagaimana Tasya tidak kesal, mulutnya berbusa kaya sabun cuci yang kebanyakan dituang ke mesin cuci yang sedang diputar, sudah begitu, lawan bicaranya tidak mendengarkan.
"Ya, kenapa mesti ke rumah Axcel? Bisa saja dia kerumah pacar satunya lagi, kan?" Itu alasan yang logis. Tasya terlalu menganggap sahabatnya polos dan bersih. Dia dibohongi selama ini. Kasihan sekali.
"Yang terakhir siapa? Nanda cuma pacaran sama Axcel, Pak. Kaya sama Bapak, Nanda ini dibebaskan buat punya hubungan dengan cowok?!" Tasya entah mengapa merasa kesal. Ini yang sok tau siapa sebenarnya?
Nuga mengusap rambutnya kasar dan cepat, gusar tentu saja. Apa dia salah menduga? Tapi pria itu siapa? Nanda tampaknya senang jalan sama dia?
"Pak, stop di depan itu! Kenapa bapak malah nambah kecepatan?"
"Hah?!" Nuga menoleh dengan cepat ke arah Tasya, lalu kembali fokus untuk mencari tempat berhenti yang tepat. Kenapa otaknya bisa ngelag begini?
"Bapak kenapa sih?"
Pertanyaan ini sudah ingin Tasya lontarkan sejak tadi. Orang yang terbiasa cerdas ini kenapa begini? Apa menua jadi alasan kenapa dosen kece ini jadi suka melamun.
__ADS_1
Ooo, kelamaan menduda jadi bingung menghadapi wanita muda yang kasmaran, pikir Tasya.
"Aku hanya sedikit khawatir Nanda semakin parah dari kondisi yang kamu ceritakan tadi." Itu alasan yang dipikirkan Nuga secara refleks. Dia dalam beberapa hal memang gercep, tapi tidak biasa berbohong tentu sulit untuk menyembunyikan fakta yang sedang dipikirkan otaknya.
"Itu Nanda!"
Nuga menoleh ke arah yang ditunjuk Tasya. Lagi-lagi, seseorang tidak menggubris penjelasannya. Tapi itu sebenarnya tidak penting, semua orang sedang panik dan khawatir tentu saja.
Pakaian rumah sakit itu agak norak dengan warna birunya yang sedikit tosca. Nanda tampak jernih meski wajah dan rambutnya kacau. Kulit putihnya yang bersinar itu seakan membuat Nuga buta, apalagi tertimpa mata hari pagi.
Gadis itu meratap di kaki pembantu rumah Axcel—Nuga hafal benar, sebab beberapa kali pernah kemari.
Tasya seperti melayang saat menghampiri Nanda, sebab Nuga tak mendengar sama sekali langkah kaki wanita itu.
"Buk, tolong bilang sama Axcel kalau aku datang ... huhuhu." Tersedu dan isakan itu mengerikan. Nuga meringis. Rasa bersalah menggerogoti hati pria itu.
Tapi siapa pria kemarin? Pikir Nuga, dia telah melakukan yang benar saat mengatakan hal yang dia ketahui pada Axcel. Axcel kuliah, jadi orang yang sukses, membalas sakit hati pada Nanda yang akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga, dinikahkan dengan paksa pula. Untuk tipe Nanda yang susah dikendalikan, Nanda pasti tersiksa. Biarkan saja!
"Pak Nuga! Bapak bisa gak sih bantu aku bawa Nanda ke mobil? Nanda pingsan Pak!"
Wajah Nuga yang terperangah masih sempat Tasya jumpai saat dengan gupuh membopong Nanda. Tubuh Nanda yang tak seberapa itu dengan mudahnya dia bawa masuk ke dalam mobil.
Tasya masuk dan memposisikan kepala Nanda ke pangkuannya. "Ya Allah, Ndes ... kamu kok nekat gini, sih?"
Hanya lirikan yang bisa Nuga berikan untuk melihat kondisi Nanda. Ada noda merah besar menyebar di perut hingga paha. Ini tidak mungkin kan?
__ADS_1
Nuga segera naik dan memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Pikiran pria itu makin kacau melihat apa yang terjadi pada Nanda. Napasnya kembali terhela berat dan air mukanya penuh sesal.
Lagi-lagi dia gagal menjaga seorang gadis yang penjagaannya diserahkan padanya.
Wanita akan nekat mencari pria yang telah membuatnya dibuang. Sama seperti Arum dulu. Bedanya Axcel mencari Nanda, tetapi di buat putus asa olehnya, sementara Arum benar-benar dicampakkan oleh pacarnya karena tidak mau mengugurkan kandungannya.
Apa ini kali kedua dia harus menutupi aib seseorang demi masa depan wanita itu atau biarkan saja kehamilan Nanda itu gagal?
Nuga memutar setir kemudi ke arah rumah sakit dan menempatkannya di depan UGD. Dia turun dengan tangan melambai dan teriakan keras memanggil satpam yang berjaga di pintu masuk UGD.
"Ada yang terluka!"
Tidak, dia belum jadi pria kejam. Biarkan kehamilan itu berlanjut dan takdir yang berbicara.
Tapi, jika saja mulutnya tidak mengatakan satu kalimat kejam, Nanda dan Axcel pasti bahagia.
Pantas Axcel sampai menemuinya, jadi ini yang terjadi. Astaga.
"Dia mengalami pendarahan, tolong selamatkan ibunya."
Itu kalimatnya yang paling benar dan logis. Entahlah. Nuga perlu menimbang niatnya dengan Hima. Dia bisa melakukannya sekali lagi, dengan Hima sebagai alasan.
*
*
__ADS_1
*
Ekhem ... cek 123 dicoba🙃