
Kabar soal tidak pulangnya Nanda langsung menyebar dengan cepat hingga sampai di telinga keluarga Diwa. Saudara Diwa mulai berkasak kusuk dan berprasangka. Meski begitu, ayah Diwa tetap berpikir positif dan berinisiatif menanyakan kebenarannya pada orang tua Nanda.
Bulik-bulik dan Kakak perempuan Diwa, mulai mencari tahu alasan Nanda tidak pulang di hari pentingnya.
"Padahal sudah disiapkan kebaya buat lamaran, loh, ya ... kok bisa dia ndak pulang? Lha terus nanti buat foto pajangan pas proses lamaran apa? Ini kan juga mau tukar cincin juga, lha nanti mau dipasang di jari siapa?" Bulik Asti berkomentar usai rapat kecil keluarga Said.
Ridwan Said baru saja melajukan sepeda motornya untuk menemui Prasetyo Utomo. Disa—kakak Diwa, bersama Handayani—ibunya, menghela napas bersamaan mendengar ucapan Asti, kedua pasang mata mereka masih terpaku ke halaman yang ditinggalkan Ridwan.
"Sa ... coba kamu tanya Diwa, biar mereka saling menjelaskan. Bulik takut Diwa akan salah paham sebab mereka itu LDRan." Asti menyarankan.
Yani mendengus kesal. Harusnya yang bilang begitu kan dia, bukan Asti. Tentu Yani tersinggung dan merasa dilangkahi oleh adik suaminya tersebut. Seolah Asti paling mengerti langkah apa yang harus mereka ambil untuk saat ini.
"Diwa jangan sampai tahu dulu. Dia masih kerja dan kalau dikasih tau sekarang, takutnya kerjanya ndak fokus." Yani menoleh ke arah Asti. "Kamu kaya ndak tau betapa Diwa menyukai Nanda. Bisa saja dia langsung kalut dan pulang cepat-cepat."
Asti berdecak. "Maksud aku bukan gitu Mbak, tapi aku takut Diwa kesayanganku itu diduakan Nanda. Mbak ingat ndak sih, dulu Nanda itu ngotot pengen kuliah di luar kota sampai sakit dan bikin geger? Ngapain dia sampai begitu kalau bukan untuk menghindari perjodohan dengan Diwa? Nanda paling ndak ada perasaan sama Diwa-ku, Mbak."
__ADS_1
"Bulik ada benarnya, Buk." Disa menyela untuk mendukung kecurigaan Asti. Yani langsung menoleh untuk memprotes ucapan Disa melalui tatapannya yang tampak tersinggung.
"Maksud Disa gini, Buk ...," ucap Dosa buru-buru. "Nanda kuliah di kota besar, pulang jarang-jarang, susah dihubungi bahkan oleh Diwa, apa Ibuk ndak curiga Nanda punya pacar di sana?"
Yani terpengaruh, tapi dia masih kukuh pada pikiran positifnya. "Ndak mungkin Nanda kaya gitu, Sa."
"Ndak ada yang ndak mungkin, Buk. Jadi ini hanya tindakan antisipasi kita dari kacaunya acara hari itu. Bagus kalau Diwa bisa mengajak Nanda pulang, kan? Seenggaknya, kita ndak terlalu malu nanti di hadapan semua orang." Disa meyakinkan ibunya. Kadang, Disa juga merasa aneh dengan sikap Nanda yang semaunya sendiri.
"Bener iku, Mbak ... niat aku tadi baik, kok, sebenarnya. Jadi Mbak jangan tersinggung. ya." Asti tersenyum saat Yani menganggukkan kepalanya usai mendengar penjelasan Disa.
"Yo wes, lakuin aja apa yang menurut kamu baik, Sa." Yani pasrah. Sebenarnya dia kecewa juga, tapi tidak berani mengatakan pada suaminya. "Tapi jangan bikin Diwa terkejut, ya ... dia baru pindah tugas, takutnya bikin dia kepikiran dan kenapa-napa."
Yani berdiri dengan helaan napas yang berat. "Ibuk ke belakang dulu, kalau gitu."
Disa tersenyum dan menyilakan ibunya ke belakang, melanjutkan masak yang sempat tertunda tadi. Tangan wanita berusia 35 tahun itu langsung mengambil ponsel dan bersiap menghubungi Diwa.
__ADS_1
Asti mendekat ke telinga Disa dengan tangan menutupi satu sisi pipinya. Wanita itu berbisik. "Aku pernah lihat di Instagram Nanda, dia jalan sama om-om anak satu."
Disa menoleh dengan tatapan tak percaya mengikuti. "Mungkin itu sodara Pak Pras, Bulik ... bukan pacar Nanda."
Asti merengut. "Hilih ... Coba kamu lihat cara mereka berfoto, pasti kamu ndak bakal bisa nyangkal lagi, Sa. Mereka berfoto kaya keluarga bahagia."
Disa termakan omongan Asti lalu membuka Instagram dan mencari foto yang Buliknya maksud. "Ndak ada, Bulik. Mana?"
Sesaat kemudian, Disa mencibir Buliknya. Dia menganggap Buliknya mengada-ada.
"Nih—Ini ... Bulik sudah sekrinsut fotonya. Ini udah setahun lalu dan mungkin udah dihapus setelah Bulik like postingan itu. Sadar kali kalau dia dan aku follow-followan." Selembar foto yang di maksud Asti terpampang di layar ponsel android Asti. Disa melihatnya dengan jelas, dan Asti memang tidak berbohong kalau Nanda tampak bahagia merangkul anak kecil itu dengan tangan si pria menyentuh pundak Nanda. Senyum mereka tampak bahagia.
Disa langsung kecewa melihat itu dan segera menghubungi Diwa perihal ketidak pulangkan Nanda di acara lamaran hari Minggu nanti. Jelas, Disa tidak akan memberi tahu soal foto itu, tapi jika Nanda tidak pulang juga, mungkin Disa dengan terpaksa memberitahu Diwa soal itu.
*
__ADS_1
*
*