
Mantan duda yang kepentok pesona gadis perawan itu menghentikan mobil sedikit mundur dari gerbang sekolah Hima.
Mereka berdua harus berbicara sekarang. Astaga, sekarang berbicara menjadi sangat susah karena kebanyakan main kuda-kudaan.
"Makasih ya, Om." Nanda pantas mengatakan itu sebab hari ini kota dilanda gerimis dan suasana cukup dingin. Nuga harusnya berangkat jam sembilan tetapi, dia bersiap lebih awal dan mengantar Nanda.
Wanita muda itu mengulurkan tangan, biasa dia mencium tangan Nuga sebelum turun dari mobil. "As—"
"Kita bicara dulu." Nuga menahan tangan Nanda seraya menaikkan lengan kiri untuk melihat jam. "sepuluh menit cukup."
Nanda menghela napas. "Om ingat nggak sih, aku itu masih kesal sama Om?!"
Begini amat ya, nikah sama orang tua. Kejadian semalam itu masih enak loh, kalau diungkit-ungkit lagi ... masa Si Om udah ajak lupa aja? Bahas lagi, lah ... biar seru!
"Kita bahas lagi itu nanti malam, ya, Peas—"
"Nda—just call me Nda!" Nanda menyela dengan galak. "Apa aku ini mirip kacang kapri sih, Om? Mukaku ini kaya kolòr ijo apa?"
Nuga menghela napas seraya mengangkat tangannya agar Nanda tidak berteriak lagi. "Oke ... nggak akan lagi."
Little Cutie Pink kayaknya cocok.
"Jadi ... akan diadakan resepsi dua kali untuk kita. Satu di rumah kamu, satu di sini. Ini memakan waktu sekali. Kalau bisa, kamu urus izin dari sekarang ke sekolah dan untuk sanggar tari kamu, sebaiknya mulai masuk setelah hiruk pikuk acara resepsi selesai. Bagaimana?"
Nanda berpikir sejenak. "Mungkin sebaiknya aku nggak usah ke sanggar tari Om, abis ini paling aku juga hamil, kan?"
"Kamu ingin segera punya anak?" Nuga mengendik penuh selidik. Jika begitu, kan lebih enak, biar nggak mubazir benihnya.
"Sebenarnya, belum sih." Nanda menatap Nuga ragu. "Om jangan marah. Aku belum ingin punya anak sekarang, tapi nanti aku mau kok."
__ADS_1
Ya siapa sih, yang tidak ingin anak didalam sebuah pernikahan. Entah siapa nanti pasti juga akan mendesak, tapi dia ingin begini begitu dulu sebelum punya anak dan sibuk jadi full time mom.
Dia ingin ke Korea. Merasakan udara yang dihirup oleh Song Hye Kyo, Black Pink, BTS, Song Jong Ki, dan Ahjussi Gong Yo. Andai dia boleh meminta, dia ingin melepas masa lajang di sana. Itu keinginannya dalam hati. Tapi....
"Kamu nggak akan hamil sampai aku hamili kamu." Nuga melihat keresahan hati Nanda. Dia tau apa yang ada di pikiran wanita itu.
"Lah, tiap dua jam sekali itu ngapain, coba ... kalau bukan lagi berusaha bikin anak? Mancing belut?" Nanda mendengus kesal. "Si Om ini tua tapi nggak tau ya, yang kaya begitu itu jadinya apa? Bayi Om, bayi!"
"Itu hanya proses aja, Nda ... benihnya nggak sampai di tanam." Nuga merasa Nanda kurang paham konsep. "Aku belum bikin sari patiku, ketemu sama sel telur kamu. Jadi nggak akan bisa hamil."
"Tapi kan itunya Om udah masuk-masuk, udah ... ih, pokoknya itu loh." Nanda terlihat jijik, walau setiap melakukannya selalu menikmati. "Pokoknya kata Ibuk kalau berhubungan badan itu bisa hamil. Makanya lebih baik aku nggak maruk, jalani satu saja yang lebih menjanjikan."
"Percaya sama aku, kamu nggak bakal hamil, jadi tetap ke sanggar itu setelah acara resepsi selesai." Nuga berkeras. "Kalau perlu, kejar apa yang ingin kamu kejar, gapai apa yang ingin kamu gapai. Atau kamu mau S2? Akan aku biayai, Nda ... kamu nggak usah takut sama siapapun lagi."
Nanda mengerjab. "Aku—"
Nuga menangkup tangan Nanda dengan kedua tangannya. "Aku udah sangat tua. Jika aku pergi dulu nanti, kamu yang akan urus anak-anak kita. Kamu harus jadi wanita yang kuat, pintar dan mandiri. Selagi masih muda, tenagamu masih besar, waktumu masih sangat banyak, kejarlah apa yang ingin kamu raih, Nda ... jangan pikir yang kamu lakukan itu untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri."
"Andai aku bisa minta dilahirkan sebaya dengan Axcel, aku pasti akan senang, Nda. Setidaknya, aku bukan pria tua yang memalukan jika jalan sama kamu. Aku akan punya banyak waktu kenal dan menyayangi kamu lebih lama." Nuga mengusap pipi Nanda. Dia tersenyum melihat Nanda yang matanya mulai basah.
Nanda tanpa pikir panjang memeluk Nuga. "Om jangan bilang kalau mau mati lebih dulu, lah ... aku kan takut."
Yah, dia memang melow.
"Aku janji nggak akan rewel, selama Om mau hidup lebih lama denganku. Kita baru nikah, harusnya jangan bahas begitu-begitu. Aku baru saja berharap banyak sama Om, kenapa langsung dihadapkan pada kematian?" Nanda berpikir, Nuga meninggal lebih cepat karena ulahnya yang selalu bikin pusing. "Maaf kalau aku bikin Om pusing. Aku akan sungguh-sungguh cari kerja dan berusaha, biar nggak bebani Om lagi."
Nuga tertawa kecil. Hatinya terharu.
Nanda melepas pelukan, air matanya berderai. Ditatapnya Nuga lekat-lekat. "Aku janji akan bikin masa depanku cerah, tapi jangan suruh aku kuliah lagi, Om! Aku lelah kalau buat skripsi."
__ADS_1
Nuga menyentil kening Nanda.
"Aduh!" Nanda mengusap keningnya. "Sakit!"
"Nakal sih!" Nuga mengambil tisu dan menyerahkan pada Nanda yang meringis. "Lap ingus kamu, tuh! Cengeng!"
"Om sih, bahas mati-mati segala. Aku paling nggak bisa lihat orang dekat meninggal." Nanda mengelap air mata dan cairan hidungnya.
"Tapi benar, Nda ... jarak usia kita 15 tahun dan aku bisa mati kapan saja. Jadi tugasku sekarang adalah membuat kamu jadi wanita yang kuat, hebat, dan mandiri. Bagaimanapun, semakin dewasa usiamu, ujian makin besar. Kamu harus siap." Nuga tersenyum.
"Bagaimana kalau aku yang mati duluan saja?"
"Hus!" Nuga menutup mulut Nanda dengan tangannya yang besar dan jari-jarinya yang panjang. "Diam dan dengarkan saja dulu, jangan banyak mendebat. Ini soal masa depan, Nda."
Nanda menurunkan tangan Nuga. Dia membuang muka dengan kesal. "Auk ah, Om! Atur saja semau Om! Aku turun dulu."
Nuga sekali lagi menahan tangan Nanda, sehingga wanita itu menoleh. Tatapan keduanya kembali terkunci. "Pikirkan baik-baik, Nda ... nggak buru-buru, tapi tetap cepat."
Nanda membuang napas. "Aku usahakan tapi nggak janji."
Nanda membenarkan tasnya, lalu siap membuka pintu. "Aku nanti ke kafe dulu sebelum ke sanggar. Janjian sama Tasya di sana."
Nuga tidak butuh izin seperti itu. Tapi ... sebuah ciuman yang menggetarkan hati.
Ditariknya lengan Nanda sekali lagi, lalu sebelah tangannya meraih tengkuk Nanda agar bibir manis wanita itu dapat dijamahñya dengan mudah.
Nuga mencium Nanda penuh perasaan, tak ada keinginan lain selain memberi Nanda seluruh perasaan sayangnya. Tapi wanita ini memang seperti peri penyihir, bisa mengubah siapapun mudah jatuh dalam pesonanya. Wanita yang memabukkan.
*
__ADS_1
*
*