Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
46


__ADS_3

Sesuai saran dokter Nanda mengompres bagian yang gatal dengan air dingin, dan itu benar-benar terasa nyaman. Rasa panas hilang seketika. Namun karena itu juga, Nanda malam ini berniat tidur sendiri di kamarnya. Kompres akan mengembun dan membasahi baju, selimut, dan sprei.


Akan aman kalau tidur sendiri, kunci pintu, matikan AC atau suhunya sedikit dinaikkan, agar tidak terlalu dingin atau panas. Dia bisa membuka baju tanpa takut dilihat oleh siapapun.


Nanda menarik ice bag dari sela lengannya, lalu ke kamar Cica yang sudah bersiap tidur. "Mbak, temani Hima ya."


Cica yang baru saja duduk di tepi ranjang itu kembali berdiri dan mengacungkan jempol seraya menguap.


"Apa masih gatal, Nda?" Cica memutar badan Nanda dan menaikkan piyama katun berukuran besar itu hingga luka-lukanya terlihat semua. "Sakit kalau pakai be ha?"


"Iya, agak tertekan gitu, kan, Mbak! Aku pakai tank top sebagai gantinya. Selain sakit, gatel juga, Mbak. Mana kalau digaruk kekencangan malah lecet dan perih." Nanda sedikit merengek.


Cica melihat betapa berantakan bentuk samping tubuh Nanda ini. Demi cinta, dia sampai harus babak belur.


"Udah minum obat?" Cica mengingatkan. Dia tidak bisa berbuat banyak terhadap penderitaan Nanda. Hanya berharap cepat sembuh dan bekas luka itu menghilang. Kalau masih membekas, pasti mengerikan.


"Udah ... ini mau kompres dulu sebelum kasih salep. Kayaknya panasnya bakal ilang dan nggak terlalu gatel nanti." Nanda menegakkan tubuh ketika Cica menurunkan bajunya.


"Ya udah sana, buruan tidur. Jangan lupa kunci pintu." Cica melepaskan Nanda dan membiarkan Nanda ke kamarnya. Dia sendiri segera mengunci kamarnya dan menuju kamar Hima.


Nanda menuju kamarnya sendiri, dimana kamar itu belum ditempatinya selama kembali ke sini. Handle pintu yang biasanya mudah dibuka itu kali ini terasa berat dan tidak mau bergerak. Nanda memandanginya. "Kok di kunci?"


Nanda mundur dan mencoba membuka lagi, namun nihil. "Kenapa dikunci sih?"


Nanda memukul pintu keras-keras. "Ngapain coba di kunci begini? Bajuku ada di dalam semua."


Tubuh Nanda berputar seraya berteriak. "Mbak Nur ... Mbak Cica!"

__ADS_1


Nanda mencoba membuka kamar Hima, hal yang sama terjadi. Pun ketika dia ke kamar bawah dan kamar belakang dimana Nur dan Cica tidur, semuanya dikunci. Seluruh kamar dikunci rapat dan satu sahutanpun tidak didengar oleh Nanda.


"Sengaja emang mereka!" Nanda menghentakkan kaki dengan kesal, lalu berjalan gontai ke depan kamar Nuga. "Masa di sini sih? Aku harus sekamar sama Om lagi, sih? Padahal aku mau ... haish, sudahlah!"


Nanda masuk dan mengompres lukanya di kamar mandi Nuga yang seperti biasa selalu rapi dan wangi. "Pria kok pinter macak(bersolek)!"


Nuga selalu rapi, wangi, dan bersih. Kamar mandinya seperti di kamar hotel dengan mangkuk bathup yang mewah. Redup cahaya di sini bisa membuat Nanda tidur saking nyaman nya.


"Eh, baknya kinclong banget." Nanda mengusapnya, lalu masuk dengan kaki berselunjur ke tepian bath up. "Kompres di sini, ah ... biar gak basah kemana-mana."


Kepala Nanda menengadah, memejamkan mata dan berkhayal. Tentang semua mimpi yang benar-benar hanya mimpi. Jalan-jalan ke Korea atau Jepang, naik pesawat berjam-jam ke Jerman bersama Axcel sambil berpelukan erat di pesawat, lalu apalagi, ya ... punya dua anak perempuan dan satu lelaki, punya usaha sendiri, dan Nanda ingin membuka sanggar tari. Anak-anak biasanya senang menari.


Nanda membuang napas perlahan, sesalnya perlahan dilempar keluar. Air matanya dipaksa mundur meski sudah siap turun. Menggigit bibir dan mendesis, saat sadar dia tidak boleh lagi menangis. Ini adalah takdir ... hidupnya memang harus begini. Begini sulit dan sakit.


Ponsel Nanda bergetar pelan. Nanda mengambilnya dan melihat itu dari Yessa.


Nanda menipiskan bibir. Entah kenapa dia sedikit penasaran dengan Arum yang sejak pertama kali dia kesini tak pernah dibahas atau disebutkan.


"Minimal ada peringatan seribu hari meninggalnya Mama Hima, kan?" gumam Nanda pelan.


Di rasa kulitnya telah kebas, Nanda melepaskan ice bag dan berdiri dari bath up. "Yah, basah kan?"


Sebelah bajunya basah kena embun dari campuran air dan es batu. "Asem bener, mana nggak bisa ambil baju lagi!"


Matanya berkeliaran mencari sesuatu untuk mengeringkan baju. Namun nihil, Nuga tidak mungkin punya sesuatu untuk mengeringkan pakaiannya ini.


"Lebay kalau begini aja mau disetrika, mending ambil yang baru." Nanda beranjak meninggalkan kamar mandi untuk ke ruang belakang untuk mengambil baju. Dia ingat masih ada pakaian yang berada di tempat cuci. Namun, seketika dia ingat, kalau di kamar Nuga ada baju wanita. Itu pasti punya Arum.

__ADS_1


Nanda memutar langkah ke sana. Melihat-lihat apa ada yang cocok untuknya, tetapi ternyata, semua itu sudah lenyap. Kosong dan hanya ada pakaian Nuga saja.


Bibir Nanda meliuk sinis, "Jangan harap aku bakal pakai bajunya, Om ... kayak di drakor gitu?"


Tangan Nanda menari, menunjuk dan mengamati. Pakaian Nuga semua rapi dan teratur. "Om memang orang yang rapi."


Kemudian dia keluar ruangan itu, lalu duduk di ranjang seraya membuka pakaiannya untuk mengoles salep ke bagian yang gatal. "Sudahlah, nanti juga kering."


Sementara Nuga yang baru pulang merasa heran sebab kamar Hima dan Nanda dikunci semua. Apa mereka sibuk nonton? Mata Nuga tanpa sengaja melihat sisa makanan ada di meja ruang santai lantai dua. Artinya, mereka tadi di sini, dan mungkin baru saja tidur.


Nuga dengan langkah ringan membuka pintu kamarnya.


"Astaga!" gumam Nuga saat melihat pemandangan indah di depannya. Nuga merinding sebadan-badan. Jika pertama kali hanya lihat setengah paha, kini dia melihat separuh dada dan perut. Celana Nanda yang pendek, membuatnya seperti tidak memakai bawahan sebab habis tertarik ke pangkal paha.


Nanda kesulitan mengoles salep hingga dia bergerak tak beraturan ke kanan dan kiri demi mencapai posisi yang gatal.


"Ahh ....susah sekali!" Nanda mendengus, lalu melempar salep ke meja lampu. Tanpa peduli kondisinya, Nanda merebahkan badan ke ranjang hingga bagian depan tubuhnya terekspose semua. "Sudahlah, kan udah minum obat. Gatelnya pasti ilang."


Nuga menelan ludah. Ada yang langsung tegak tapi bukan keadilan.


*


*


*


Maap, br update ya ... ada masalah sampai aku baru up jam segini. Tunggu esok kita oleng sama2. Nayra juga belum up malam ini😘

__ADS_1


__ADS_2