
"Pak Nuga itu baik loh. Dia dulu nolong Arum. Arum masih semester satu saat menikah dengan Pak Nuga. Aku tahu jelas ceritanya, dan sungguh aku nggak nyangka Pak Nuga bisa melakukan itu demi mahasiswanya."
"Kamu pasti jadi wanita paling bahagia setelah nikah sama Pak Nuga. Dan pasti kamu wanita spesial karena bisa menaklukan hatinya. Pak Nuga itu gentleman. Idaman banget."
"Tolong sayangi Hima, ya ... Dia kehilangan ibunya sejak bayi."
Pulang dari rumah sakit, Nanda bukannya baikan tetapi malah terus kepikiran. Yessa nama wanita itu, seperti tahu dengan jelas kehidupan masa lalu Nuga. Melihat bagaimana gesturenya saat berbicara, Nanda yakin Arum juga demikian bentuknya saat masih muda.
Hima sudah tidur. Gadis itu barusan bercerita tentang konsep punya mama.
"Tugas Nda sekarang adalah nemenin Hima tidur, nyiapin makan, baju, keperluan sekolah, dan nemenin main. Nggak perlu ada Mbak Cica lagi."
Nanda tersenyum jika ingat kata-kata itu. Dia dari dulu melakukan itu kan? Jadi dia sudah jadi ibu bagi Nanda walau belum menikah dengan Ayahnya.
Mungkin misi mereka dari dulu adalah menjadikan Nanda sebagai Ibu baru Hima. Ini lucu dan Nanda tidak sadar telah diincar sejak dulu. Ini menyebalkan.
Perlahan Nanda menarik tangannya yang dijadikan bantal oleh Hima. Nomor Yessa dia simpan di ponsel Nuga dan sekarang dia belum punya ponsel, sebab dia tidak punya uang serupiahpun. Lupakan soal ATM atau M-bankingnya. Jelas dia tidak pegang itu semua.
Berjalan mengendap, Nanda mengintip ke kamar Nuga yang temaram dan sedikit terbuka. Nanda mengetuknya pelan.
"Om ... belum tidur?"
Tak ada jawaban. Tak ada suara. Nanda tersenyum, artinya Nuga belum kembali ke kamarnya. Semoga duda yang jarang sekali pegang hape itu lupa membawa benda tersebut dan dia bisa menghubungi Yessa. Dia harus tahu soal Arum. Entah apa alasannya.
Soal Hima ini, entah dia anak siapa, Nanda tidak peduli, yang dia pedulikan adalah Arum dinikahi pria tua ini diusia masih muda. Kira-kira 19 tahunan. Apa Pak Dosen ini dulu hamili mahasiswanya? Jadi Nuga yang selalu mengekang dirinya pacaran ternyata pelaku hamil diluar nikah?
Cih, munafik sekali kalau begitu!
Kamar ini, sudah berulang kali Nanda masuki, tapi baru kali ini dia merasa takut. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi di sini.
"Om ...." Nanda kembali memanggil. Harapannya, jika ketahuan Nuga, dia sudah izin masuk hanya Nuga tidak dengar.
"Aku pinjam ponsel." Nanda terkikik, ketika membayangkan muka jutek Nuga menyerahkan ponsel padanya. Lalu omelan khasnya mengikuti.
"Jangan macam-macam! Gunakan seperlunya saja!" bibir Nanda langsung menirukan gaya Nuga saat ngomel. "Ck, dasar pelit!"
Ponsel Nuga berada di rak atas ranjang Nuga yang besar dimana ada lampu juga yang menggantung. Posisi lampu di atas kepala itu bertujuan agar Nuga bisa membaca atau bekerja dengan baik saat menemani Hima.
Nanda naik ke ranjang dan mengambilnya. Tak ada kunci apapun dan Nanda bisa menemukan nomor Yessa dengan mudah, lalu mengirimkannya ke ponsel Hima. Dari sana dia bisa menghubungi Yessa.
__ADS_1
"Kenapa lampunya nggak di nyalain?"
Mata Nanda membeliak, jantungnya nyaris jatuh saking kagetnya.
Nuga selesai dengan pekerjaannya, lalu berniat melihat Hima, tetapi Hima sendirian dan Nanda tidak ada di kamarnya. Nuga tersenyum sebab merasa Nanda akan tidur di ranjang nya mulai malam ini.
Kemajuan, pikirnya.
Tangan Nuga terulur untuk menyalakan lampu, tetapi Nanda berteriak.
"Jangan, Om!" Kening Nuga berkerut, dan kemudian salah tingkah dibuatnya. Mungkinkah ....?
Nanda dengan pelan meletakkan ponsel di dekat bantal. "Aku keluar sekarang."
Senyum Nuga lenyap dalam waktu sedetik. Indah bayangannya berganti tawa mengejek yang berasal dari setan di dalam imajinasinya. Duda kepedean, ejek suara itu disertai tawa terpingkal-pingkal.
Nanda berjalan pelan melewati Nuga. "Tadi Hima nyariin Om. Makanya aku kemari."
"Hima udah tidur kok." Nuga menyahut dengan cepat, tetapi langsung mengumpat dalam hati. Dia berharap Nanda tidak memahami ucapannya.
Nanda terlalu polos untuk tahu apa artinya jika anak-anak sudah tidur.
"Om bisa nemenin Hima tidur, aku takut ganggu karena masih harus bangun buat minum obat." Nanda beralasan. Sebenarnya, dia takut Hima menyikut lukanya lagi.
"Oke ... tidurlah kalau begitu. Biar aku aja yang kesana." Nuga melangkah lebih dulu saking leganya. Nanda benar-benar tidak paham apa maksudnya tadi.
Dia menoleh sebentar. "Ayo masuk sana dan tidur. Kalau perlu kunci juga pintunya."
"Ah, maksudnya aku mau tidur di kamarku ... sen-di-ri." Nanda menunjuk kamarnya berada. Merinding jika ingat harus tidur bareng sama pria itu.
"Belum dibersihkan kamarnya, udah nggak apa-apa tidur di kamarku. Itu kamar kamu juga mulai sekarang." Nuga mengerjakan mata. Astaga ... Ini!
"Eh ... tapi, Om—"
Nuga memutar badan dan langsung melesat masuk ke kamar Hima. Dia malu sekali. Astaga ... salah tingkah sebab merasa Nanda mulai memikirkannya.
"Ck, Om kenapa sih?" Nanda akhirnya masuk ke kamar Nuga dan tersenyum melihat ponsel itu. "Hihihi, nggak apa-apa, deh ... aku kan bisa chat pake hapenya Om kalau begini."
Nanda merebah dengan nyaman, lalu mengirim pesan ke Yessa. "Semoga Yessa nggak sibuk malam ini."
__ADS_1
Nanda memandangi ruang chat dirinya dan Yessa. Sedikit berharap centang itu berubah warna. Namun bukan itu yang Nanda dapatkan, melainkan chat dari Mey.
"Mas ... kapan balik? Mas baik-baik aja, kan? Mey khawatir."
Nanda mencibir, "Dia baik banget lah, udah berhasil nikah sama gue! Misi dia cari emak buat anaknya berhasil udah! Lo nggak ada kesempatan lagi! Kasihan."
Nanda membuka pesan itu, lalu dilihatnya banyak chat dari Mey yang sama sekali tidak dibaca oleh Nuga.
"Mas, bener Mas mau nikah sama Nanda?"
Jempol Nanda geram, apalagi saat ini, Mey kedapatan sedang mengetik.
"Awas saja kamu, Perawan Tua!"
Ketika Nanda mengetikkan pesan, Mey tampak tidak jadi mengirim chat nya.
"Iya, Mey ... aku udah nikah sama Nanda. Jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Jaga perasaan Nanda, kami saling mencintai."
Nanda terkekeh ketika mengirim pesan tersebut. "Kapok kamu perawan gatel. Udah tau ditolak si Om sama Hima juga, masih aja ngeyel! Rasain kamu sekarang!"
Nanda terus mencibir lalu memikirkan bagaimana sikap Nuga pada Mey. "Om juga kurang tegas sih ... nolak wanita satu aja nggak bisa. Nih aku bantuin Om, biar Om nggak pusing lagi galau perawan ganjen."
Nanda menghela napas, lalu menguap. Mungkin efek obat mulai bereaksi, dan dia segera larut dalam mimpi.
Nuga berbeda. Dia lupa kalau beluk mengecek ponselnya. Takut kalau Bapaknya Nanda atau orang tuanya menghubungi, dia dia kembali ke kamar dan mencari ponsel yang seharusnya berada di atas rak.
Dering lembut terdengar dan ponsel menyala. Di depan wajah Nanda, menyentuh hidung.
"Astaga ... lihat hape sedekat itu?!" Nuga menaikkan lulut ke atas ranjang dan terpaksa melangkahi Nanda untuk mengambil ponsel miliknya.
Namun disaat yang sama Nanda bergerak membuat Nuga tertahan sedikit lebih lama diatas tubuh Nanda. Astaga ....
*
*
*
Hari ini gak oleng, tapi doakan besok oleng lagi ya ...😁
__ADS_1
Selamat menyambut tahun baru semuanya😍