Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
32.


__ADS_3

Nuga benar-benar tidur dengan posisi memunggungi Nanda. Pria itu langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Nanda tak perlu takut Nuga bakal menuntut haknya malam ini.


"Dasar *****!" Nanda merengut seraya melirik punggung Nuga yang lebar. "Padahal biasa melek sampai subuh, ini masih sore udah tidur."


Nanda mendengus, matanya sama sekali tidak bisa diajak tidur. Mungkin karena terlalu lama tidur jadinya sekarang dia benar-benar terjaga.


Jika dulu saat menatap langit-langit kamar dia sibuk memikirkan pria tampan mana yang akan menjadi suaminya, kini ketika dia punya suami malah sibuk memikirkan cara berpisah dari suaminya.


Ya, bukannya Nuga tidak tampan, tapi ... Nanda tidak suka dengan pria yang berumur matang. Ekspektasinya itu menikah dengan lelaki sebaya, atau selisih dua tiga tahun lah. Kalau dia mah kematangan.


"Tapi gimana ceritanya si Om tiba-tiba dateng trus nikahin aku?" Nanda bergumam, kepalanya berpikir keras.


"Apa bener, Om itu sebenarnya emang berniat jadiin aku ibunya Hima? Om suka sama aku, makanya dia kukuh larang aku pacaran? Kalau emang iya, kenapa nggak bilang aja, kan seenggaknya aku tuh gak benci banget sama dia. Kan aku bisa nolak, dan dia nggak terus berharap. Kaya gini, rasanya dia itu sedang frustrasi, gak ada cara lain lagi buat miliki aku."


Nanda berdecak, matanya berotasi ke atas. "Gimanapun, aku tuh anggap Om kaya Mas Bagas dan Mas Dika. Aku hormati dia kaya kakak Atau Om sendiri, jadi kalau tetap nggak pisah, apa aku harus berusaha cinta sama Om?"


"Lalu gimana aku sama Axcel?" Perlahan Nanda menyentuh dadanya, di sana debar untuk Axcel selalu ada, jadi bagaimana dia harus menghapus perasaannya pada Axcel lalu diganti dengan Nuga?


"Itu susah." Nanda mendesah berat. "Itu tuh nggak bakal mungkin."


Sekali lagi Nanda melirik Nuga yang tampak tak terusik oleh gumaman Nanda. "Apalagi Om galak banget, kaku ... selama ini aja aku hanya bisa patuh sama peraturannya. Nggak bisa melawan, nggak bisa bantah, nggak bisa ditawar, sekalinya nawar, dia mencak-mencak. Apa bisa aku jatuh cinta sama pria kaya gitu?"


Air mata Nanda perlahan jatuh. Kali ini, selain patah hati, Nanda juga patah harapan. Setelah penindasan Yang Ti selesai, kini berganti penindasan Nuga—yang mana jauh lebih menyeramkan.


Nanda menutup wajah dengan kedua telapak tangan, agar tangisnya tidak terdengar oleh Nuga. Ya Tuhan, kenapa hidup sesulit ini?


Ponsel Nuga berdering, membuat pria itu bangun dengan terburu-buru. Nanda melihat betapa kagetnya pria itu. Mungkin Nuga lupa mengubah setelan ke mode silent—di rumah biasa begitu karena takut Hima terusik.


Tetapi Nuga tetap menjawabnya.


"Ada apa, Tas?"


Mata Nanda membeliak, tetapi segera dipejamkan ketika Nuga akan memutar kepala menghadapnya.


"Tasya menelpon Om Nuga? Jangan-jangan, Tasya selama ini tahu kalau Om suka sama aku, dan kemarin dia juga yang memberitahu Om Nuga?" Nanda membatin.

__ADS_1


Nanda menahan kekesalan, bertahan sebentar lagi, agar bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan mereka berdua itu.


Nuga mengusap kedua matanya saat Tasya di seberang sana mengucapkan maaf padanya.


"Udah nggak apa-apa, Nanda juga udah baik, kok." Nuga berdehem agar suaranya tidak parau lagi.


"Syukur deh, Pak ... aku lega kalau udah baikan. Dia suka bandel kalau disuruh minum obat dan ngeyel kalau dibilangin jangan banyak gerak dulu. Beruntung ada Pak Nuga di sana, jadi Nanda bisa nurut—hehehe."


"Tadi udah diperiksa lagi sebelum perawatnya balik. Udah normal semuanya, semua sehat katanya." Nuga melirik Nanda yang lelap. "Tas ...."


"Ada apa, Pak ...?"


"Tolong jawab jujur, ya ... Tapi jangan sampai semua ini bocor ke semua orang—paham?!" Nuga berdiri, sedikit menjauh dari Nanda, kemudian merendahkan suaranya.


Nanda berdecak dalam hati, suara Nuga tak bisa didengarnya dengan jelas. "Duh, mereka ngomongin apa sih?"


"Sebenarnya, siapa ayah dari bayi Nanda?"


"Apa, Pak?! Bayi?!" Tasya memekik, sampai Nuga menjauhkan ponsel dari telinga.


"Ya, habisnya Bapak aneh sih, masa Nanda punya bayi? Nanya bapaknya pula?"


"Kok aneh, sih, Tas ... saya nanya sesuai keadaan yang ada! Anehnya dimana? Nanda sekarang hamil, apa kamu lupa kemarin dia pendarahan? Untung—"


"Pak-pak ... maaf saya potong omongan Bapak, tapi—bentar-bentar, saya izin ngakak dulu." Tasya benar-benar tertawa setelah itu.


Nuga mendengus kesal karena ditertawakan oleh anak kecil. Dianggap apa memangnya perkataannya ini?


"Udah?" ketus Nuga saat Tasya sudah berhenti tertawa.


"Belum sih, Pak ... tapi saya sudahi saja, takut Bapak makin kesel." Tasya terdengar menarik napas. "Pak, coba pikir, apa Nanda masih berani macam-macam jika di dekatnya ada macan kumbang yang siap nerkam sewaktu-waktu?"


Nuga sudah membuka bibirnya mendengar sindiran Tasya. Bisa ya, mulut bocah itu lancang ngatain orang tua?


"Kecuali kalau bapaknya bayi itu Bapak, ya, itu beda cerita, Pak." Tasya terkikik. "Satu rumah, dan hanya ada Hima diantara kalian, siapa yang bisa menjamin, Pak? Hehehe ...."

__ADS_1


"Serius kamu?!" Nuga menggerakkan bibirnya.


"Hah? Serius apanya Pak? Serius Bapak adalah Bapak bayi Nanda?" Tasya terkekeh keras.


"Ck ... trus kemarin Nanda berdarah itu apa?" Nuga mendesak Tasya dengan gusar. Dia jelas kesal karena dibodohi oleh keadaan. Kenapa dia tidak bertanya detail waktu itu? Melihat pendarahan yang dialami Nanda, Nuga langsung ingat Arum yang ditemukannya dalam kondisi yang sama. Berdarah di sekitar paha, perut, dan bagian belakang tubuh. Persis ... meski tidak sebanyak Arum—sewaktu Nanda diperiksa, Nuga tidak berada di sana, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Lihat perut Nanda ... ada luka di pinggang kan, Pak? Karena kemarin pas kesini, dia jatuh dari motor, luka parah di pinggang, kaki dan siku. Bapak nggak lihat?"


Nuga menoleh ke ranjang, lalu dengan cepat melangkah ke sana. Tangannya dengan sigap menaik baju Nanda ke atas.


"Om!" Nanda langsung membuka mata dan memukul tangan Nuga yang kurang ajar.


Nuga yang terkejut langsung menatap Nanda, keduanya sama-sama melotot.


"Aku ...."


"Jangan kurang ajar, ya, Om! Meski kita nikah, bukan berarti Om bisa berbuat semaunya tanpa persetujuan dariku!" Nanda berteriak, membuat keributan yang membangunkan kedua orang tua Nanda.


Mereka bergegas bangun dan mengetuk kamar Nanda.


"Buk ...."


Beruntung Pras segera ingat kalau anak mereka sudah menikah, jadi dia menahan tangan Lestari yang ingin mengulangi ketukan di pintu kamar Nanda.


"Jangan ganggu mereka." Pras berbisik dan menarik mundur Lestari yang juga segera paham apa maksud suaminya. "Nanda akan baik-baik saja."


Lestari menghela napas, lalu memandangi pintu kamar Nanda. Meski sedih, tapi Lestari tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin memang takdir Nanda berakhir dengan anak dari sahabat suaminya. Walau setengah hati Lestari menyayangkan perbedaan usia yang jauh dan status Nuga. Selain itu, wajah keras Nuga ditakutkan sekeras wataknya.


*


*


*


Di desa eike ... rumah jarang ada plafon, jadi kadang emang kudu nahan2 suara ya🤭 biar gak kedengaran dari luar. hehehe 🤣 tapi tenang, rumahku ada kok, meski baru kamar aja😁 kan gak asyik kalau live kita kedengeran🤣

__ADS_1


maaf semalam gak update, tangan sakit kena lato-lato, ajarin bocil2 yg lagi demam tuh mainan🤭


__ADS_2