Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
27.


__ADS_3

Nanda merasa dirinya seperti masih dalam perjalanannya dalam melarikan diri. Seperti masih menyebut nama Axcel sepanjang jalan menuju kota tersebut, berharap dan terus berdoa, Axcel belum berangkat. Terakhir kali, Axcel hanya bilang akan pulang dulu sebelum berangkat ke Jerman. Dan dia berharap—sangat, Axcel masih di rumahnya.


Namun, hujan dan malam sedikit mengganggu pandangan Nanda, sampai dia tak menyadari ada lubang yang cukup besar di depannya. Refleks Nanda menghindar, tetapi sialnya, kecepatan Nanda yang cukup tinggi membuatnya tak mampu mengendalikan motornya. Nanda jatuh terperosok ke sisi jalan yang cukup tinggi.


Sisi jalan tersebut sedang dibangun talut air agar jalan tidak amblas terkikis air, sehingga banyak sekali kawat dan bambu yang mencuat. Pinggang Nanda tergores benda tersebut hingga mengalami luka yang cukup dalam.


Namun, sekarang secara perlahan dia mendengar suara-suara yang amat di kenal nya. Apa ini artinya, pelarian dirinya gagal? Apa dia akan kembali dipaksa menikahi pria yang tak dicintainya?


"Nduk ... apa kamu haus?" Suara lembut itu adalah suara ibunya. Mata Nanda enggan terbuka, seakan dia ingin seperti ini saja selamanya. Air mata merembes di sela matanya, dadanya terasa sesak saat dia merasa tak berdaya.


"Nduk ... Kamu denger Ibuk, ndak? Ini Ibuk, Nduk." Tangan Lestari menyentuhkan tangan Nanda ke pipinya. Tubuh wanita itu bergetar, tak mampu membendung kesedihan dan luka atas apa yang terjadi pada anaknya yang bernasib sangat malang ini.


Lestari merasa gagal. Gagal sebagai Ibu untuk kedua putrinya. Dia terus saja berpikir andai tidak ada orang yang selalu membanding-bandingkan Yuna dan Nanda, kedua anaknya ini pasti sangat akur. Semua ornag yang berada di lingkungan keluarga i ini bertanggung jawab atas rusaknya mental kedua anak perempuannya.


"Nda ... bangun, Nda." Lestari terisak hingga suaranya hilang.


"Nanda mungkin hanya mengigau, Buk ... tolong jangan sedih. Nanda pasti bangun nanti. Saya akan memastikan Nanda baik-baik saja." Nuga yang duduk di sebelah Lestari dan Pras yang terus mengusap punggung Lestari, mulai cemas saat Nanda bersuara. Dia tidak siap dan tidak tahu harus berkata apa ketika Nanda mengetahui kalau mereka sudah menikah. Jujur saja, Nuga takut. Setelah semua yang dilakukannya pada Nanda sebelum ini, apa dia masih punya muka menghadapi Nanda?


Nanda terkejut bukan main dan hampir saja membuka mata mendengar suara Nuga. Jika ini di rumahnya—di desa, kenapa ada duda kolot karatan itu di sini? Jangan bilang, dia yang membawanya pulang? Duda tua itu yang menggagalkan misinya untuk kabur barengan Axcel?


Kurang asam sekali kalau begitu!

__ADS_1


"Biar Nanda istirahat, Bu ... kita keluar aja. Ada Mas Nuga yang akan menjaga Nanda sekarang. Jangan kuatir lagi, ya," ujar Pras lembut. "Ayo ...."


Tunggu dulu ... tunggu! Ini kenapa jadi Duda tua itu lagi yang harus menjaganya di rumahnya sendiri? Apa Yang Ti hanya takut pada Duda kolot ini? Mana Yang Ti kok nggak ngomel panjang lebar? Selagi dia masih pura-pura pingsan, kenapa tidak ada yang menggibahkannya, dia ingin tahu sekali apa yang mereka pikirkan tentang kenakalannya kemarin.


Tak ada suara lagi, hanya ada suara serut kursi yang bergeser, lalu pintu kamarnya yang tertutup. Kening Nanda berkerut, matanya memicing. Mengintip sekeliling, berharap dia menemukan Axcel di sisinya. Astaga, dia merasa dekat sekali dengan Axcel tadi sebelum sadar.


"Cari siapa?!"


Mata Nanda melebar sempurna, dia terkejut sebab tak menyangka kalau ulahnya mengintip ketahuan si Duda kolot itu. Sudah hampir satu jam sejak dia sadar dari pingsannya, sehingga fungsi organ tubuhnya sepenuhnya sudah pulih, sisa bagian perut yang terasa sangat perih dan tebal.


"Bukan urusan Om! Lagian ngapain di sini?!" Tentu sikap sinisnya pada Duda karatan ini telah kembali juga. Malah sekarang makin bertambah karena curiga Nuga yang mengirimnya pulang.


Bibir Nuga tertarik membentuk senyum mengejek. Tangan pria itu bersedekap dan muncul di ambang pandangan Nanda. "Cari Axcel atau pria yang bersama kamu kemarin itu?!"


Hah ... aku berharap aku jadi nikah saja sama Diwa! Biar Duda tua ini malu dan kehilangan muka di depanku! Batin Nanda.


"Yang jelas, aku nggak nyari Om, ya ...! Aku nggak bakal nyari laki-laki yang bibirnya lancip kaya pensil abis diraut!" Bibir Nanda meliuk begitu nyinyir. Meski dia tau ini akan menyakiti perasaan Nuga, tapi dia tidak peduli. Nuga jauh lebih sering nyakitin dirinya.


"Hah ...!" Nuga membuang pandangan ke langit-langit kamar Nanda saking jengahnya. Sungguh Nuga ingin mengungkapkan kehamilan Nanda dan membuat gadis itu frustrasi tak terkira. Pasti bagus melihat Nanda nangis guling-guling dan histeris.


"Kenapa?! Marah? Marah aja? Bukannya udah biasa Om marahin aku? Kenapa? Sekarang takut karena aku ada di rumah dan ada orang tuaku?" Nanda memandang penuh ejekan pada Nuga yang menolak membalas tatapannya. Hanya gerakan lidah pria itu yang tampak dari posisi Nanda yang masih berbaring. Rahang kokoh berlapis jambang tipis itu terdapat gerakan dari dalam. Nuga sepertinya menahan gondok dengan menusukkan lidah ke pipi.

__ADS_1


Senyum penuh ejekan masih saja menghiasi bibir pria itu.


"Biar orang tuaku tau kalau selama ini orang yang begitu dipercayai begitu baik dan ramah itu sangat galak, suka mengatur dan membolak-balik ucapan." Nanda melanjutkan dengan kekehan penuh kemenangan.


"Bapak sama Ibuk nggak pernah larang aku buat pacaran! Itu hanya karena Om iri, iri karena nggak punya pasangan! Ya, pantas, sih ... Om galaknya keterlaluan, mana ada wanita yang mau sama Om kecuali Bu Mey yang genit itu!"


"Stop, Nda!" Nuga membentak Nanda, karena dianggapnya telah kelewatan. Nanda langsung membelalak tanpa takut membalas tatapan tajam Nuga.


Disaat yang sama, Yuna membuka pintu dan melihat bagaimana Nuga membentak Nanda.


"Wah ... manten baru udah berantem aja!?" Yuna menyeringai puas. Terlebih Nanda yang langsung melesatkan tatapan kebingungan padanya.


Yuna terkekeh bahagia melihat Nanda seperti terkena musibah yang tak pernah berhenti. "Mampus saja kamu, Nda!" Batin Yuna


*


*


*


Satu aja ya, nanti tak kasih dobel2 lagi kalau keriwehan hari ibu selesai😘

__ADS_1


Gudnait😘😘😘


__ADS_2