Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
84. Kita Sambung Alon-Alon


__ADS_3

"Kamu ini loh!" Yang Ti mematikan panggilan tergesa-gesa. Dia khawatir kesayangannya di ujung telepon mendengar ancaman Nanda yang sangat keras tadi. Kesal, ia menatap Nanda. Rasane iku loh, pengen nggremus Nanda sampe jadi remahan.


"Nda bakal panggil sodara dari pihak Ibuk, mereka jauh lebih tulus, kompak, dan rajin! Nggak kaya Emaknya Giant itu!" Nanda menantang.


"Mereka beda adat sama kita!" Yang Ti geram. Matanya sudah mulai merah.


"Bedanya paling Ibuk makin ringan kerjaannya!" Nanda mencibir remeh.


"Oh, jadi ini Ibu juga yang nyuruh?"


Nanda tertawa meremehkan. Dugaan Yang Ti kelewat cetek. Kaya sinetron kisah nyata. Mudah sekali menyimpulkan. Dasar Eyang sumbu pendek.


"Yang Ti-Yang Ti ... kapan aku sama Ibuk sempat bicara? Bukan e tadi Ibuk sibuk terus ya? Ngurus kerjaan rumah." Nanda membentuk tanda kutip di udara. "Itu maunya aku, niatnya aku, dan idenya spontan dari aku! Boro-boro Ibuk berani ajari aku ini itu, orang dia nyelametin diri sendiri aja nggak bisa."


Nanda sedikit menertawakan neneknya—lagi. Dia sebenarnya kasihan, tapi sikap neneknya sudah keterlaluan, jadi Nanda tidak bisa diam lagi. Mengajari ya mengajari, menyayangi ya, menyayangi, tapi seharusnya, Yang Ti lebih sayang pada orang yang tiap hari bersamanya.


Ngelu mules(sakit) yang tahu pertama adalah yang dekat, sementara gerombolan Giant itu hanya datang pas senang. Coba pas dikabari Yang Ti sakit, disuruh bantu jaga alasannya ini lah, itu lah ... menyebalkan, kan?


"Empat tahun kamu kuliah, empat tahun kamu hidup sama keluarga Puji ... ini hasilnya?" Yang Ti meradang. Dia tidak tahan lagi melihat perubahan sikap Nanda yang manis dan penurut dulu, menjadi urakan dan pembangkang seperti ini. Cucu yang disayanginya malah berbalik memusuhinya.


"Ini nggak ada hubungan sama mereka! Bapak tinggal di luar negeri selama ini, dan sikap aku ini murni karena selama aku tinggal pergi, Yang Ti masih sama saja! Sudah tua, sudah seharusnya pasrah dan lengser ... bukan makin menggila begini!"


Nanda bersedekap. Yang harusnya marah adalah dia. Kenapa Yang Ti ini diluruskan ke jalan yang benar, malah sukanya belok, sih?


"Pokoknya, Adiku harus kesini mulai besok—"


"Terserah Yang Ti ... kalaupun kesini, dia hanya akan jadi tukang cuci piring! Semua sudah aku ubah dan gerombolan Giant itu hanya akan dapat malu!!" Nanda mengancam. "Mereka pulang dengan kepala ditutup kresek hitam! Atau nyelinap lewat kandang sapi sana, biar nggak ditertawakan orang!"


Padmasari kembang kempis menahan amarah. Dia tidak punya tempat untuk membela Partin dan keluarganya. Keluarga terdekat yang begitu disayanginya.


Melihat Yang Ti tersudut, Nanda tersenyum puas. Lantas dia memutar badan meninggalkan Yang Ti.

__ADS_1


"Gusti ...," rintih Padmasari seraya menekan dadanya yang mendadak nyeri. Matanya berguncang khawatir. Akan jadi kabar dan pemandangan yang buruk kalau sampai Partin tidak hadir di sini besok. Apa kata orang nanti?


"Nduk ...."


Nanda barusan ingin naik ke mobil yang sudah dikeluarkan sebelumnya dari parkiran berjubel-jubel di halaman rumah. Dia menoleh dan mendapati Nuga tersenyum geli padanya.


"Opo toh, Om?" Kening Nanda mengerut. Dia dipanggil Nduk jam segini—dan menoleh. Jijik. Itu kedengaran berbau percintaan yang kasar. Oh, apa Nanda pernah bilang kalau ada orang di sekitar sini yang terkenal suka kasar pada pasangannya, tapi dikeseharian si istri dipanggil Nduk oleh suaminya? Pasti Nuga mendengar itu dari bapak-bapak. Ngeri.


Cih ....


Nanda membuang muka. Si Om kakunya suka rumpi dan copy paste panggilan orang.


"Kamu ndak salah naik, to?" Nanda menoleh saat Nuga mendekat dan berkata menggunkan logat sini.


Ih, geli!


"Yo enggak to, Om!" Nanda mulai kembali ke sikap galaknya jika Nuga berulah. "Nggak usah panggil aku Ndak-nduk!"


Nuga begitu—cengengesan, karena dua hal. Satu karena mendengar cerita tetangga soal "nduk" tadi, kedua karena Nanda naik ke kursi sopir. Bisa emang si bocah tengil ini nyetir?


Nanda tetap naik di mobil ompreng milik bapaknya, yang lampunya mati semua. Dengan pergi memakai mobil ini, Nuga tidak punya alasan untuk kemana-mana hari ini—maksudnya ajak dia belak-belok ke hotel atau apa, mengingat sudah berhari-hari pria itu tidak menjamahnya.


"Buruan naik!" perintah Nanda sok.


Ketika Nanda ingin menutup pintu kemudi, Nuga menahannya dan merangsek mendekati Nanda yang memegang kemudi di satu tangannya.


Tangan Nuga lebih dulu memberi kode dengan meremas dada Nanda—Nanda membuang napas muak, tapi menahan rasa geli yang menjalar hingga ke ujung terluar sarafnya.


"Plak!"


"Bapak, tolong tangannya yang di sekolahkan sampai ke Aussie ini dijaga etikanya, ya! Ini sudah termasuk tindak asusila, loh ...!" Nanda mencoba lepas. Tapi Nuga tampaknya sudah ingin memangsanya di tempat.

__ADS_1


"Om kangen, Nduk," bisiknya mendesah.


"Ck, jijik Om!" Nanda beneran merinding sekarang. Kekuatan tangan Nuga saat meremas dadanya sudah dalam tahap tak bisa dibicarakan lagi, Nanda tahu kalau semua tidak akan semulus menjenguk orang sakit ke rumah sakit, lalu pulang dan makan malam bersama. Dia tahu alur Nuga hari ini. Agak lain memang duda tua satu ini.


Nuga terkekeh. "Geser, Nduk!"


"Om pindah ke sana aja! Aku yang nyetir, sekalian kangen-kangenan sama Opi." Nanda mengelus nakal setir kemudi mobil ompreng ini.


"Mas e cemburu loh, Nduk." Nuga menambahi kadar candaannya.


"Om ini kenapa toh, kok aku jijik sih?" Nanda kali ini beneran ingin muntah. Mas e? Ya ampun, Nuga terlalu seram untuk dipanggil Mas e. Bagas dan Dika—kakaknya, dipanggil begitu karena sikap lembutnya, lah kalau galak begini disebut Pak Raden saja masih kebagusan.


"Sana naik!" Nanda mendorong Nuga keras, tapi tubuh Nuga yang jauh lebih bertenaga tentu bukan tandingannya. "Keburu sore, Om! Kalau masih gitu terus, nanti aku dengkul burung prencinya Om loh!"


Nuga membeliak. Apa kata Nanda tadi? Prenci? Kecil dong?


"Ulangi lagi!"


"Apa?!" Nanda memutar matanya ke segala arah. Sok tidak merasa salah berkata.


"Burung e Om kamu sebut opo?!"


"Yang punya burung prenci cuma Bapak, tuh di kandangin disana!" elak Nanda seraya menunjuk kandang burung aneka jenis di seberang jalan.


Nuga menatap Nanda penuh perhitungan. "Geser!"


"Om—tapi ...!"


"Geser atau mau aku garap di sini?!"


Eh, astaga!

__ADS_1


Nanda bergeser masih dengan mata membeliak. Ya ampun ... kalau nggak nurut, bisa-bisa ucapan itu jadi kenyataan. Astaga ....


__ADS_2