
Sekitar jam lima sore, Nanda telah selesai berkenalan dengan anak-anak sanggar kesenian milik Zayn. Sebagian besar anak-anak disini adalah anak dari keluarga kurang beruntung, anak yatim, dan anak jalanan. Zayn mengumpulkan mereka di sini setiap sore agar mereka memiliki ketrampilan. Ada yang jago akting sehingga Zayn mencarikan orang yang paham dibidangnya, ada yang suka menari, maka dia mendatangkan Nanda dan beberapa orang lainnya, ada yang suka menyanyi, memainkan alat musik, dan masih banyak lagi. Zayn memberdayakan mereka, dengan uang pribadi pengusaha muda itu.
"Selamat datang di komunitas kami, Nanda." Zayn menyambut Nanda di ruangan yang dipenuhi dengan lukisan abstrak dan bunga.
Nanda tersenyum. "Senang berada disini, Pak."
Menatap Zayn yang berkharisma dan penuh senyum membuat Nanda lega. Sambutan itu lebih dari cukup untuk membuatnya memikirkan ucapan Nuga.
"Ini beberapa keterangan tambahan termasuk gaji dan tunjangan kamu. Kalau ada pentas, kamu akan dibayar di luar gaji pokok." Zayn menyerahkan selembar kertas ke arah Nanda yang kaku menghadapnya. "Santai saja. Aku nggak gigit, kok."
Senyum Nanda melebar, bercampur salah tingkah. "Saya hanya tersentuh, Pak. Belum apa-apa sudah disodori gaji."
"Itu hak kamu untuk tau, Nanda." Zayn berdiri di balik meja dan menyilakan Nanda duduk di sofa. Kemudian dia ikut duduk di sofa bersama Nanda. "Nanti kita semua akan berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama di sini."
Nanda mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tanpa sungkan saat duduk di sofa merah keunguan itu. Ada beberapa meja dan kursi yang menghadap ke tengah ruangan yang diberi karpet merah tua. Meja Zayn di ujung sebagai kepala. Sofa ini di sisi lain, memanjang menempel di dinding.
"Kecil tapi semoga nyaman tinggal di ruangan yang kami sebut kantor ini." Zayn kembali tersenyum. "Karena anak yang kamu ajar masih usia dini, jadi cukup 3 kali seminggu saja kamu masuk. Jam 3 sampai jam 5. Selain anak yang kekurangan, ada juga beberapa anak yang memang dari keluarga cukup berada. Rata-rata mereka donatur tetap saya. Hanya memang kami tidak membedakan."
Nanda mengangguk, "Boleh saya ajak anak saya, Pak?"
Pertanyaan itu spontan muncul. Pikirnya Hima pasti suka dengan banyaknya anak seusianya di sini.
Alis tebal Zayn terangkat saking herannya. "Anak?!"
"Ya, anak saya, Pak." Nanda mengangguk lagi. "Nanti biar saya minta ayahnya jadi donatur juga."
Zayn menghela napas. "Bawa saja, kalau memang anaknya mau. Nggak usah pakai bujuk ayahnya jadi donatur segala. Kami menerima siapa saja kok, tak perlu ada iming-iming imbalan."
Wajah Nanda berubah senang, jauh lebih senang daripada menerima lembar keterangan gaji dari Zayn. "Makasih, Pak."
Zayn tersenyum untuk mencoba mengerti posisi Nanda. Dia tidak mau salah paham lebih dulu pada gadis ini.
Nanda menatap Zayn yang masih terpaku padanya. Nanda heran, tetapi tidak mengatakan apa-apa atas pandangan Zayn padanya. Mungkin Zayn heran kenapa Nanda bisa punya anak? Atau yang lain, menyesal mungkin telah menerima wanita yang punya anak.
Bagaimana nanti kalau Zayn melihat dirinya hamil. Menari dengan anak-anak yang masih berusia 4 sampai 7 tahun itu butuh energi yang banyak, kesabaran yang stoknya tiada pernah habis, dan kreatifitas yang tak terbatas agar anak-anak bisa fokus dan menerima pelajaran yang diberikan. Zayn pasti memikirkan keterbatasan wanita hamil yang riskan pada gerakan tari yang lincah.
Atau Nanda harus mundur sekarang? Mata wanita itu lekat memandang jumlah gaji yang diberikan. Bahkan di TK saja, Nanda tidak tahu di bayar berapa, ini ...? Cukuplah buat kebutuhannya sendiri.
Ditopang ATM Nuga, gaji ini memang tak seberapa, tapi Nanda lebih suka dilihat bagaimana dia berusaha. Kalau bisa, dia ingin mencari pekerjaan lain. Banyak sekali waktu yang dimilikinya meski sudah bekerja di dua tempat.
"Bapak ada lowongan pekerjaan yang lain?" Nanda memecah kebisuan di antara mereka. Membuat Zayn yang sedari tadi menggosok bibir sembari menilai Nanda tersentak lembut.
__ADS_1
"Ada ...." Zayn menegakkan tubuhnya antusias, sementara Nanda juga tak kalah berminat.
"Jadi ibu dari anak-anak saya."
"Ha?!" Nanda memperjelas dengan ekspresi melongo.
Zayn terkekeh. "Bercanda."
"Oh ... saya syok mendengarnya, Pak." Nanda langsung merendahkan diri, merasa lega, sebelum melihat jam yang ada di ponselnya. "Sudah sore, Pak ... kalau tidak ada yang ingin Bapak bicarakan lagi, saya mau pamit pulang."
What?! Apa-apaan itu? Harusnya yang berkata seperti itu adalah bos atau atasan atau yang mempekerjakan. Bukan bawahan apalagi karyawan baru. Ya ampun.
"Oke, silakan." Zayn mengalah akhirnya. Dia berdiri dan menyilakan Nanda keluar dari ruangan ini.
Nanda membungkuk sekilas sebelum berjalan cepat meninggalkan kawasan sanggar yang semakin sepi. Sisa beberapa anak dan orang tua yang menjemput. Juga pengajar yang mengantar anak-anak ke gerbang.
Interaksi di sini cukup baik, bahkan tak terlihat gap yang begitu mencolok.
Tasya setia menunggu Nanda sebab sahabat Nanda ini memang segabut itu hidupnya. Memang Tasya sedang melamar pekerjaan, tetapi baru dua yang ditanggapi. Yang satu hari ini baru interview, dan yang satu masih dua hari lagi. Sehingga Tasya benar-benar gabut, sampai dia rela menunggu Nanda di sini.
Ponsel Nanda berdering nyaring, yang langsung buru-buru diambilnya dari dalam tas. Nuga menelpon rupanya.
Mau tak mau Nanda menjawabnya. "Baru mau pulang, Om! Udah aku WA juga, apa nggak Om baca?"
"Assalamualaikum ...."
Nanda berdecak malas. "Wa alaikum salam, maaf kelupaan tadi."
"Apa-apa biasakan salam, dan kasih kabar lewat telepon. Itu namanya menghargai suami! Izin lewat pesan text, aku anggap menyepelekan."
Nanda berjalan dengan kaki yang menghentak menuju Tasya yang mengerutkan kening saking herannya.
"Astagfirullah Om! Nyebut ... istighfar! Aku ini istri Om, bukan mahasiswa Om—Ya ampun." Nanda memijat keningnya saking lelah menghadapi Nuga. "Aku nggak sempat telpon tadi. Jadi aku WA sebagai ganti. Toh aku nggak kemana-mana, aku nggak bohong pas—"
"Aku tunggu di cafe, jangan banyak ngomel dan jangan buat aku nunggu kelamaan!"
"Iya, Pak Raden! Ini juga mau pulang, yang bikin lama kan Om sendiri, pakai nelpon segala pula! Kaya kurang kerjaan aja si Om ih—"
"Waalaikumsalam."
Panggilan dimatikan. Nanda menempatkan benda pipih itu ke depan wajahnya yang sudah dongkol setengah mati. Jika tidak ingat Nuga adalah suaminya, maka Nanda sudah mengumpat tak karuan.
__ADS_1
"Gini amat nikah sama pria tua setengah kolot!" Nanda mendumal membuat Tasya yang mengulurkan helm ke arah Nanda tertawa kecil.
"Dia bucin dan posesif kali, Ndes!" sahut Tasya enteng.
"Bucin apaan? Dia itu maniak gila yang haus akan se ks, kamu tau?" Nanda segera naik ke motor matic Tasya seraya memakai helm.
Tasya menoleh dengan wajah tak percayanya. "Seriously? Kamu making Lo ve with him? Sama Mr. Anugrah yang hot luar biasa itu? Wah ... luar biasa, Ndes."
"Jangan lupa, kami udah nikah ya! Tapi bukan itu masalahnya. Dia terlalu mengerikan, nggak ada soft-softnya, nggak ada touching with deep feeling kaya di drakor itu, Beb! Kaya aku itu hanya busa dimata dia! Seonggok dakron berbalut kulit manusia, yang diremas kaya adonan donat, yang dibolak balik kaya ikan mujair bakar, yang di tampar kaya pantatku ini udah melakukan dosa sama dia!" Nanda menyerocos keras dan berekspresi gemas, sampai beberapa orang yang masih berada di sana menoleh.
Alih-alih ngeri, Tasya justru terlihat meleleh. Matanya itu sudah tergambar jelas bagaimana hotnya Nuga saat menggauli temannya ini. Tasya melihat betapa uwuw-nya Nuga bagi kaum rahim hangat macam dia.
Tasya tersenyum simpul seraya menggigit bibir. "Kamu beruntung, Nda."
Nanda mendengus makin kesal. "Beruntung apanya? Aset gue bengkak, Begò! Mata lo yang bening kalau lihat Om Nuga itu nggak lihat gue kesusahan jalan!"
"Pasti gede, panjang, dan kekar." Mata Tasya berkabut, dia merinding membayangkan.
"Ck!" Nanda memukul helm Tasya agar segera sadar dari sikapnya yang menjijikan itu. "Iya, gede ... Tapi itu menyiksa, tauk! Rasanya makanan yang masuk ke perut bisa keluar semua pas benda itu nyodok gue!"
Tasya menopang tangannya ke dagu. Huhuhu, mereka hot sekali, Tasya meleleh dibuatnya.
Nanda makin kesal melihat ekspresi Tasya. Lalu turun kembali dan mendorong Tasya turun dari motor. "Minggir lo! Biar gue aja yang nyetir!"
Tasya masih terbuai sehingga menurut saja pada apa yang dilakukan Nanda padanya. Dia masih terbayang-bayang bagaimana sahabatnya di banting oleh pria perkasa macam Nuga.
"Kesel sama lo, lama-lama! Yang ada besok gue pakai kursi roda kalau lo kelamaan ngayal kaya orang gila gini!" Nanda mendumal seraya melajukan motor dengan kecepatan tinggi menuju kafe Nuga.
Nanda dan Tasya memang suka pakai elo gue kalau berdebat, atau salah satunya sedang kesal. Ini karena mereka awalnya mengolok mahasiswa baru dari Jakarta yang terlihat aneh saat mengatakan elo gue di kawasan yang medoknya luar biasa kental.
"Boleh nggak sih, gue jadi pelakor di rumah tangga lo?" Tasya meletakkan dagu di pundak Nanda. Memeluk pinggang Nanda dengan gerakan lembut. Mata gadis muda itu berkabut, bayangan dibuai pria dewasa membuatnya melayang. "Gue bakal jadi pelakor yang saleha kok."
"Enak aja! Kagak ada! Baru juga sebulan gue merit! Lu main nyosor laki gue aja!" jawab Nanda ketus.
"Ya elah, lo nggak bakal mampu atasi Pak Nuga sendirian, Ndes!"
"Gue cemplungin lo ke got sebelah itu, mau?!"
Yang bener wae! Sahabat sih sahabat ...! Dasar Tasya dedengkotnya kaum rahim suam-suam kuku!
*
__ADS_1
*
*