Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
17.


__ADS_3

Axcel baru kembali ke kotanya Minggu siang, dan akan langsung terbang ke Jerman malam nanti. Dia pulang hanya untuk mencari Nanda, berpamitan, dan mengatakan niat baiknya menikahi Nanda setelah S2 nya selesai.


Setidaknya, mantan dosennya tak akan meragukannya lagi setelah ini. Dia sejak awal memang tidak berniat mempermainkan hubungannya dengan Nanda. Mungkin karena Nanda hanya dititipkan di rumah itu jadi Pak Nuga sedikit protektif dan salah paham. Tapi memang di sini, Axcel yang salah sebenarnya.


Pintu pagar tertutup rapat, rumah itu tampak sepi. Axcel agak ragu ketika mengetukkan besi berbentuk lingkaran yang menggantung di sana.


Axcel bergegas mengambil ponsel dan menelpon Nanda. Dari bandara ke sini, dia memang tidak menghubungi Nanda. Gadis itu kemana memangnya? Hari minggu selalu di rumah dan bermain bersama Hima. Axcel hafal betul kegiatan Nanda setiap hari, dan agaknya membosankan.


Tak ada jawaban, hanya nada sambung yang terdengar. Axcel berdecak gusar seraya memutar tubuh menghadap ke jalan di mana taksi baru saja meninggalkannya.


Bergegas Axcel mengirimi Nanda pesan text, yang sayangnya hanya berlambang centang satu berwarna abu-abu.


"Kemana sih, Nda kamu?" gumam Axcel.


Axcel membuang napas dan akhirnya mengetuk pintu pagar dengan debar jantung yang menggila. Ini seperti saat akan ujian skripsi, pikirnya. Atau saat Nuga dengan kejam memberikan coretan kasar dan asal di lembaran yang Axcel sodorkan ke hadapan Nuga.


"Ya, sebentar." Suara nyaring terdengar dari dalam, dan tak berapa lama pintu pagar terbuka. "Oh, Pak Nuga di dalam."


Axcel bahkan belum mengatakan apa-apa, tapi wanita itu telah membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Axcel masuk.


"Biar saya panggilkan Pak Nuganya, Mas." Nur berjalan mendahului Axcel ke dalam rumah. "Silakan tunggu sambil duduk, Mas."


Nur menunjuk kursi di teras rumah, sambil terus melangkah ke dalam.

__ADS_1


Axcel semula ingin menyela langkah Nur, sekadar mengatakan kalau dia mencari Nanda, tetapi ini rumah Nuga, wajar jika dia harus bertemu pemilik rumah lebih dulu sebelum bertemu Nanda.


Axcel baru akan menjatuhkan pantatnya ke kursi kayu yang ditunjuk Nur saat Nuga muncul dengan wajahnya yang suram. Pria itu memakai kaos merah bata, yang sedikit pas di badannya yang cukup atletis.


"Pak—"


"Nanda pulang kampung dan menikah hari ini." Nuga kesal melihat wajah mantan mahasiswa yang dulu merupakan anak emasnya. Entah mengapa dia ingin sekali menonjok wajah Axcel yang menurutnya sok polos itu.


"Apa?!" Axcel kini berdiri dengan tubuh gemetar panas dingin. "Bapak jangan bercanda!"


"Tanya pembantu saya atau Tasya, kalau tidak percaya!" Nuga menegaskan kalau bercanda dengan Axcel hanya membuang waktu. Tidak ada gunanya bercanda soal itu kan? Dia sibuk membujuk Hima yang ingin Nda-nya kembali ke sini hari ini juga. Gila memang dunia ini. Kenapa Hima jadi nakal begitu hanya karena Nanda bilang mau menikah?


"Pak, tapi Nanda pacar saya! Nggak mungkin kan kalau nikah, sementara saya di sini?" Axcel jelas tidak bisa menerima alasan mengada-ada pria ini. Itu trik kuno yang tidak akan menyurutkan niat Axcel untuk melamar Nanda.


"Memangnya, pria di dunia hanya kamu? Nanda bisa sama siapa saja, kan? Dia hanya pacarmu, bukan istrimu! Siapa yang menjamin dia bisa setia sama kamu? Itu kenapa aku bilang kalian bodoh, pacaran sama siapa, nikah sama siapa? Kamu dibodohi Nanda!"


"Pak ... Nanda nggak mungkin kaya gitu. Nanda itu wanita baik, Bapak jangan mengada-ada—"


Nuga tersenyum sinis, antara senang melihat Axcel merana seperti itu dan kesal karena sikap ngeyel pria itu. "Ucapkan itu pada kenyataan yang ada, Axcel! Aku tidak punya waktu untuk membuat alasan hanya agar kalian putus! Terserah saja kalau kau tidak percaya!"


Axcel perlahan goyah saat Nuga menyedekapkan tangan di dada. Nuga bukan orang yang suka basa-basi atau iseng. Bukan karakter Nuga jika untuk membuat orang menyerah dengan cara curang yang kotor. Ada banyak celah kebenaran yang Nuga punya untuk membuat Axcel mundur, tanpa membuat alasan menjijikkan seperti sekarang.


"Yah ...."

__ADS_1


Axcel menoleh ke pintu dimana Hima sedang memeluk boneka dengan mata sembab dan merah. Nuga juga terkejut melihat Hima yang baru saja tidur sudah bangun dan menyusulnya.


"Hima ingin Nda, Yah ... Nda bawa kesini lagi!" Tangis Hima pecah, seiring ekspresi di wajah Nuga yang perlahan melunak.


Nuga menarik napasnya dalam-dalam. Menghadapi Hima mode ngambek jauh lebih mudah ketimbang dalam mode sedih begini.


Tangan besar Nuga meraih anaknya dalam gendongan. Menenangkan Hima dengan tepukan pelan di kepala.


"Ayah larang Nda nikah, ya! Nanti Nda nggak balik ke sini lagi." Hima tersedu-sedu.


"Nda balik kok, Sayang ... dia tetap akan jadi guru Hima di sekolah—"


"Tapi kata Mbak Nur, Nda akan ke Bandung ikut suaminya. Nggak akan ke sini lagi, Yah."


Nuga mendelik, lalu mencari keberadaan Nur. Kenapa Nur malah memperkeruh keadaan setelah susah payah Hima dia jinakkan? Ya ampun, mulut Nur ini ember sekali."


Nur yang melihat majikannya masuk ke rumah dengan tatapan mengerikan hanya bisa menunduk.


"Maaf, Pak ... saya hanya mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Nur lirih.


Nuga menjatuhkan napas dan kepalanya ke pundak Hima. Astaga ... Kenapa semua orang jadi polos seperti Nanda sih?


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2