Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
65


__ADS_3

Di sini tidak ada pakaian ganti, itu sebabnya Nuga mengurungkan niatnya untuk mengulang untuk bercinta kembali, meski dia sudah sangat ingin. Selain itu, ponsel di sakunya berdering terus-terusan memaksa Nuga menyudahi permainannya.


"Makan dulu, kita lanjut nanti kalau udah di rumah!" Nuga mengusap rambut Nanda ke belakang. Matanya lekat menatap Nanda yang juga sedang membalas tatapannya. "Ditahan ya, aku tau aku bikin kamu ketagihan."


Plak!


"Aduh!" Nuga mundur seraya mengusap lengan yanh dipukul Nanda. Tamparan Nanda terasa lumayan juga.


"Om jangan GR! Aku mau juga karena Om bawa-bawa pahala dan dosa!" Nanda mendelik tak terima. "Kalau enggak aku nggak mau ya, rusak ditangan duda tua kaya Om!"


Nuga bukannya marah dikatain begitu. Ucapan Nanda itu benar—dia memang duda yang tua. Jadi dia terkekeh menanggapi.


"Yang tua bisanya berbahaya." Nuga sedikit menggoda dengan menaikkan alisnya bersamaan.


Bagi Nanda, itu adalah jokes kuno yang tidak sesuai dengan usianya ... sudah lewat tanggal expired-nya.


"Bisa ngibul, bisa memanipulasi pikiran orang, bisa toxic, bisa aja bikin orang nggak berdaya ... itu kebisaan Om!" Nanda membalas.


Nuga tetap tertawa, tetapi sambil merogoh saku yang isinya terus bergetar keras. "Bisa bikin kamu hamil juga ...."

__ADS_1


Suara Nanda berdecih, kemudian membuang muka. "Kuno! Itu doang ... pacaran nggak bisa! Romantis apalagi ...!"


Merasa diremehkan, Nuga mengacungkan telunjuk ke depan Nanda. Dia tidak bisa berkata apa-apa, sebab panggilan WA itu sudah dijawabnya. Tatapannya terus memperingati Nanda supaya berhati-hati ... sebab Nuga adalah mantan duda yang berbisa.


Pria itu berbalik, meninggalkan kamar ini sambil berbicara dengan orang di seberang telepon. Nanda menarik napas lega setelah dihimpit kedua lengan kekar Nuga. Ditambah milik Nuga yang mengeras membuatnya deg-degan sekaligus takut. Menjauh malah dibelit, diam saja terkesan keenakan. Sudahlah!


Nanda merebahkan diri dengan kaki digantung dan diayun-ayunkan. Menatap langit-langit ruangan dengan perasaan yang kian aneh. Jantung Nanda degupnya semakin tidak beraturan merasai setiap perlakuan Nuga. Dia selalu merinding dan lemas.


Dia terus mengusir perasaan itu sampai matanya terasa berat dan perlahan terlelap. Lelah menguasai, dan dia lebih suka tidur akhir-akhir ini. Mungkin tubuhnya yang biasa santai itu agak syok ketika mendapat masalah yang berat.


Nuga sementara itu, menuju ke belakang meja barista dimana pesanan membludak. Memang, belum lama ini, Nuga memakai sistem bayar dulu, baru menerima pesanan. Sesuatu yang sudah biasa di kota ini, tapi Nuga awalnya merasa itu sedikit kurang ramah, jadi dia belum menerapkan. Akan tetapi, sistem bayar di awal ini rupanya malah membuat kerja karyawannya sedikit lebih ringan. Mungkin juga karena dia menambah satu kasir lagi, jadi terasa lebih terbantu.


Tio melirik sekilas ke arah Nuga yang masih berbincang di telpon. Dia ingin bertanya, tapi sungguh dia tidak punya kelebihan tenaga dan fokus untuk saat ini. Jadi anggap saja Nuga selamat dari cecaran anak buah yang terluka.


Meraih celemek dan mengikatnya di pinggang, Nuga mulai menarik satu pesanan dari mesin print. Tanpa banyak bicara, Nuga segera menyiapkan pesanan tersebut. Meski punya pekerjaan tetap, Nuga tak pernah keberatan kesana kemari menyiapkan atau mengantar pesanan. Baginya semua pekerjaan sama saja selama sesuai dengan keinginan hati. Nuga memang pecinta kopi, menyukai filosofi, dan mendominasi. Sebagai dosen, dia terkadang menyisipkan penilaian terhadap sesuatu. Misalnya: perbuatan manusia yang dilakukan berulang-ulang itu membosankan. Bercinta contohnya; itu terdiri dari melelahkan 75%, sisanya ribet, was-was, dan secuil kenikmatan sebagai bonus.


Ini karena Nuga tidak pernah melibatkan perasaan yang paling terlibat dalam bercinta yaitu rasa nyaman dan cinta. Nuga bukan tidak pernah melakukan, dia pernah sampai pada titik hampir—kadar dosanya sama dengan yang sudah sebenarnya. Hanya dia merasa semua ini salah. Nuga pernah nakal—namanya juga laki-laki, tapi dia tahu, dia lahir bukan untuk menjadi pria penjajah. Selagi sadar, dia segera mundur dan pergi, sampai bertemu Arum.


Beberapa kali, Nuga mencoba melakukannya dengan Arum, tapi dia tidak tega. Arum meski membiarkan, tapi Nuga melihat air mata dan ketakutan Arum, jadi dia tidak pernah lagi melakukan itu. Bahkan dia memutuskan untuk tidak melakukan itu sama sekali dengan membuat opini-opini tak masuk akal, bersikap menyangkal, dan menyatakan hal itu tidak normal.

__ADS_1


Nuga melakukan itu demi menguatkan dirinya sendiri dan ... menakut-nakuti mahasiswanya agar tidak melakukan hal tersebut di luar nikah. Sejauh ini, di kelasnya, hamil diluar nikah bisa ditekan, tapi dia curiga, mahasiswanya sedikit lebih pintar berpura-pura insyaf.


Sampai jam dua siang, Nuga masih sibuk melayani pelanggan hingga lupa pada Nanda. Kepala pria itu mencuri pandang ke meja Tasya yang kini mendadak penuh dengan beberapa teman Tasya dan Nanda, lalu ke ujung tangga. Nanda pasti tidur sebab semalam dibuat kelelahan oleh miliknya yang ternyata masih luar biasa. Padahal dulu dia berpikir akan termakan karat dan mengakibatkan korosi, ternyata malah makin tajam meski baru diasah dua kali.


Sama gadis pula. Bonus nya dobel-dobel pokoknya. Nuga tersenyum saat mengantar nampan ke meja pelanggan. Hal ini membuat Tio kesal.


Sehingga ketika Nuga kembali—sambil sekali lagi mendongak ke tangga, Tio langsung mencetuskan kalimat tajam.


"Sejak kapan, sih, Ga ... elu pakai lipstik?!" Tio sekilas menatap Nuga yang langsung membeku. "Mana belepotan sampai ke pipi! Emang selain Hima ada ya, yang makein lipstik ke kamu?"


Nuga dengan gerakan cepat mengusap pipi ke arah bibir, lalu mengarahkan tangannya ke depan mata. Sial! Lipstik Nanda pindah ke wajahnya! Pantas tadi ada rasa lain saat menjilat bibirnya sendiri.


Nuga bengong menatap pengunjung yang tersenyum menatapnya. Dalam hati dia mengumpat dan badannya kini panas dingin berkeringat.


Sial memang!


*


*

__ADS_1


*


Dopping kuat, makanya masih semangat!


__ADS_2