
Ini memabukkan!
Nuga memberikan semua sentuhan di setiap titik sensitif Nanda. Tanpa terkecuali. Dia mengenalkan pada gadis ini dimana dan bagaimana rasanya. Dan gadis ini responsif. Mungkin karena masih polos dan Nanda memang tidak pernah malu mengekspresikan perasaannya, Nuga senang di buatnya.
"Om, stop—ahh!" Dia tidak tahan saat Nuga terus menyesap ujung dadanya dengan hisapan intens dan beritme. Dinamis tetapi random. Otak Nanda berbenturan menerjemahkan.
Nanda merasakan dirinya meledak penuh dengan perasaan lega. Tubuhnya melengkung ringan hingga kepalanya menengadah. Nuga tahu harus apa, jadi tangannya yang lain meremas dada Nanda tanpa melepaskan bibirnya dari ujung satunya.
"Ah, stop, Om!" ucap Nanda terbata, napasnya terengah. Kakinya meronta setelah merapat hingga saling menumpu. "Aku harus ke kamar mandi!" ucapnya selanjutnya.
Dia merasa ingin buang air kecil karena ulah Nuga barusan. Ini kacau dan memalukan. Beginikah semua pasangan pengantin baru itu?
Tapi Nuga menahan Nanda membiarkan gadis itu meronta. Dia tidak akan kalah. Nuga kembali menciumnya namun kali ini dengan lembut dan seakan meredakan gejolak di dada Nanda.
"Let's try the next lesson!" ucap Nuga di atas bibir Nanda yang basah.
Nanda terperangah, tetapi tubuhnya terlalu lemas, lidahnya terlalu kelu. Entah kemana perginya jutaan volt energi yang dia punya.
Nanda hanya menggeleng saat Nuga mulai menaikinya seraya mencengkeram bahu Nuga. Matanya terpejam—menahan malu. Benarkah akhirnya dia berakhir di sini? Tumpang tindih dengan Nuga?
Tapi bukankah tadi sedikit menjijikkan? Dia merasa kotor. Lalu dia mendorong Nuga yang sejak tadi bermain di dadanya, membuat seluruh tubuhnya geli. "Om ...."
Tidak ada respons yang berarti, yang ada Nuga makin semangat menjelajahi tubuhnya. Nanda menggeliat saking geli. Ini sudah kali ke berapa dia merasa "pipis" di atas ranjang.
Dan yang paling membuatnya syok dan tak tahan lagi untuk memekik keras adalah ketika jemari Nuga membelai sesuatu diantara kedua kakinya yang tidak bisa lagi merapat.
Itu bagian paling tertutup dan terlarang. Nanda terkejut dan merinding, tetapi sekali lagi ... Nuga tidak mengindahkan panggilannya. Justru membuat Nanda kembali melentingkan tubuhnya ke atas.
Dia kelelahan setelah merasakan hantaman yang sudah dua kali dirasakannya. Di sana, ya ... disana rasanya sangat basah dan sensitif.
Nuga berpindah dari ujung dada Nanda ke bibir, lalu menciumnya penuh perasaan. Napas pria itu berat dan panas.
__ADS_1
Belum kembali napas Nanda teratur, Nuga sudah berusaha menjejalkan miliknya yang sangat besar dan keras. Air mata Nanda keluar saat merasakan sakit yang luar biasa. Rasanya di sana terbelah jadi dua. Sakit, nyeri, dan perih.
Nanda meraung keras, yang langsung dibungkam dengan ciuman Nuga yang menggebu. Ini apa-apaan? Sakit sekali!
Nuga sementara itu tidak bisa berkata apa-apa saat Nanda terus menghimpit miliknya hingga terasa nyeri. Dia mengumpat, lalu mendorong masuk lebih dalam sehingga membuat Nanda menggigit bibirdan mencakar lengannya. Seketika dia merasakan darah keluar dari bekas kekerasan istrinya ini.
Nuga terpaksa membiarkan Nanda melakukan itu. Dia tahu ini pasti menyakitkan tapi dia juga tidak mau berhenti. Sampai Nanda benar-benar tenang, dia baru melepaskan diri.
Dia paham, tak ada kenikmatan untuk pengalaman pertama, tetapi setidaknya sebelum mengoyak kegadisan Nanda, dia sudah memastikan Nanda berhasil mendapatkan pelepasan.
Ini adalah perasaan, pengalaman, dan sensasi yang luar biasa. Panas dan mendebarkan. Nuga tidak yakin bisa menepati janji, atau bahkan membenci kebiasaan manusia yang diulang-ulang dari waktu ke waktu. Mungkin dia kan ingkar kali ini. Hanya ini adalah rahasia yang disimpannya dalam hati.
Perlahan tetapi dinamis, Nuga membuat gerakan di atas tubuh Nanda. Gadis itu membuka diri pada akhirnya, tetapi bukan karena dia mau, tapi dia tidak punya tenaga lagi untuk melawannya.
Hanya desah napasnya yang terus keluar besar dan keras, hanya rintihan kecil yang terus digumamkan bibir yang selalu diciumi Nuga, bergantian dengan ujung dada. Desain tubuh Nanda yang indah dan padat membuat Nuga terus menarik sudut bibirnya sejak awal melihatnya.
"Stop, Om!"
Tanpa banyak bicara, Nuga menarik miliknya hingga keluar dan menumpahkannya di atas perut Nanda.
Secara sadar dan sengaja. Dia ingin menikmati Nanda lagi dan lagi, sebelum memutuskan ada pengganggu lain selain Hima.
Nanda mendesah hebat, lalu miring dan menekuk tubuhnya. Badannya serasa di tarik dari segala Arah, dan dia perlu menyatukannya lagi dengan posisi seperti itu.
Nuga mengecup kepala Nanda dan memeluknya. Matanya terpejam menikmati sisa pelepasan dengan menempel di badan Nanda yang berkeringat. Keduanya terdiam, hanya napas dan sisa hawa panas yang masih memenuhi ruangan ini.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Jika Nuga memikirkan bagaimana meminta lagi pada Nanda, Nanda justru takut pada apa yang barusan dialami. Apa dia akan jadi ibu sebentar lagi?
***
Sebelum subuh, Nuga sudah bangun dan mengurus Hima yang akan ikut Nur. Gadis kecil itu tampak senang dan ceria saat mandi dan berganti pakaian, bahkan ketika harus minum obat pereda mabuk darat, Hima meminumnya tanpa rewel.
__ADS_1
"Ayah, aku pamit Nda dulu, ya." Ketika selesai minum obat, Hima meninggalkan Nuga yang masih mengemasi handuk dan segala perlengkapan pasca mandi milik Hima.
Nuga bergegas mengikuti Hima, sebab gadis itu pasti seenaknya mengganggu Nanda yang masih kelelahan setelah dipaksanya melanjutkan sesi kedua.
Begitu masuk, Hima langsung mencium kening Nda yang masih terlelap dengan selimut menutup hingga ke bawah leher. Ya, Nuga yang menyelimutinya sebelum mengurus Hima. Bahkan Nuga yang membersihkan kekacauan yang di buat hingga memakaikan Nanda piama gambar kartun tanpa dalamañ. Asal Hima tidak melihat bekas kejahatannya saja sebenarnya.
"Nda, Hima berangkat, ya." Di cium nya kening Nanda, disisihkan rambut ibu jarinya itu agar wajah Nda terlihat jelas. "Pasti Nda nggak bisa tidur karena ayah, jadinya Nda nggak bangun walau udah aku cium."
Nuga mendengar itu sedikit terkejut. Ya, memang benar, tapi heran saja Hima mengatakan itu dengan raut yang begitu iba melihat Nda-nya.
"Nda baik-baik, ya ... Hima pulang lusa. Selwmat bersenang-senang, Nda!" bisik Hima di telinga Nanda yang sama sekali tidak bergerak. Mungkin Nda pingsan.
Setelah itu, Hima melangkah riang meninggalkan Nda dan ke depan untuk menunggu mobil trevel yang akan mengangkut mereka bertiga ke kampung halaman Nur.
Sekitar lima belas menit kemudian, Nuga kembali ke kamar setelah rombongan kecil itu meninggalkan rumah.
Nuga kembali merebah dan masuk ke dalam selimut bersama Nanda, berbisik pelan seraya menyentuh Nanda pada bagian dada yang membuat Nanda melenguh pelan.
"Mari kita ulangi lagi, Sayang!"
Ahh ...!
*
*
*
Nuga duda yess, dia hanya lama nggak anu. Tapi, bukan berarti nggak tau apalagi nggak bisa🤣
Yg jelas, yang tau dan bisa adalah ... aku 🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan diomeli kalau nggak lolos lagi🙆♀️