
"Setelah jadi istrinya Nuga kamu kok makin berani, sih, Nda." Lestari dan Nanda berjongkok di depan bak cuci piring, setelah semua orang kabur mendengar kemarahan Nanda.
Nanda membilas dan membawa masuk cucian perabotan yang bersih ke rak di dalam rumah. Ada tetangga yang masih bertahan, sekitar sepuluh orang, mereka sibuk semua. Di desa Nanda(rumahku terutama) sudah biasa tuan rumah cuci perabotan sendiri. Tapi untuk hari ini, setelah Bude Partin dan keluarga maha besarnya pulang, cuci perabotan adalah inisiatif Nanda dan Lestari sendiri. Yu Minem dan kawan-kawan siap membantu, tetapi Lestari melarang, mereka di suruh mengatur letak banyaknya barang dari keluarga Nuga.
"Aku sudah ingin melakukan ini dari nikahan Yuna, Buk! Kesel aku lihat Ibuk sibuk, abis acara nggak ada makanan, malah malam-malam kita bikin mi kuah sama sawi itu!" Nanda sibuk membilas baskom, dia tersenyum. Kebayanya sudah ganti dengan celana longgar selutut, kaos kebesaran kesukaannya, dan sandal swalow favoritnya.
"Kita harus melawan, Buk! Jangan diam saja!"
Lestari menatap anaknya tanpa ekspresi, kemudian menunduk. Dia sudah pasrah. "Bapak kamu kelewat kalem, Nda. Kalau Ibuk mau melawan, kaya ndak ada bekingan, takutnya malah Ibuk yang kehabisan kata-kata."
Ia meraih panci terakhir, lalu menggosoknya. "Tapi kemarin, Bapakmu marahi Yuna." Bibirnya tersenyum.
"Pertama kali Bapak bela Ibuk, ya?" tebak Nanda. Dia tertawa, prihatin sebenarnya. "Bapak kan takut dosa kalau belain Ibuk dan membantah Yang Ti."
"Itu benar juga, Nda," ujar Lestari seraya tersenyum. "Dosa lawan orang tua."
"Lihat-lihat konteksnya sih, Buk." Nanda menarik diri untuk duduk di kursi plastik. Mereka bisa ambil napas dulu, deep talk lah, walau seadanya. Lestari menatap anaknya.
"Kalau nggak mau lawan orang tua dan biarkan anak istrinya tertekan, itu dosa juga, nggak sih? Aku suka bertanya-tanya di bagian, itu." Lagi-lagi Nanda tertawa miris.
"Dalam pandangan aku, anak istri adalah tanggung jawab Bapak atau suami. Ibu benar tempat berbakti, tapi kalau sudah mencampuri, bahkan menindas, itu keterlaluan namanya. Bapak wajib tegas membela anak istrinya menurutku. Ini kasus yang terjadi pada kita, Buk. Aku menilainya seperti itu."
__ADS_1
Lestari menarik napas, seraya membilas panci. "Ibuk hanya ndak mau ribut, toh, Bapak kamu selalu memperlakukan Ibuk dengan baik, Nda."
"Yah, itu pilihan Ibuk sih, tapi kalau aku ndak mau!" Nanda berdiri. "Yang Ti pernah jadi ratu bagi Yang Kung. Harusnya setelah itu, Ibuk jadi ratu buat Bapak, bukan Yang Ti lagi yang berkuasa. Yang Ti harus jadi penasihat yang baik sebagai Ibu suri."
Dia menarik Ibunya berdiri, lalu masing-masing membawa sisa perabotan ke dalam rumah.
"Ibuk juga berhak hidup tenang." Nanda tersenyum ke arah ibunya. "Kalau bahagia sudah diberikan Bapak, sisa ketenangan setelah anak Ibuk semua berkeluarga dan mandiri. Ibuk boleh datang ke rumah Mas Bagas, menginap di sana. Ke rumah Mas Dika dan main sama cucu sepuasnya, jalan-jalan, pokoknya menyenangkan diri di hari tua. Nanti ke rumah Nda juga, Nda ajak ke mol." Dia terkekeh.
"Ibuk akan lakukan itu nanti, Nda." Lestari tersenyum. "Sudah sore, buruan mandi dan tengok Rachel. Besok sudah boleh pulang kayanya."
Nanda meletakkan perabotan, lalu melesat ke kamar mandi. Tak lama dia sudah selesai dan berganti pakaian. Jeans robek di paha, kaos hitam besar—lagi, dan rambutnya diikat tinggi-tinggi.
Nuga baru selesai pesta durian dan berkumpul dengan bapak-bapak. Dia masuk ke kamar, dan melihat Nanda yang membuatnya pusing. Alih-alih berpakaian ketat, Nuga malah bergairah melihat Nanda begini. Dipeluknya Nanda dari belakang.
"Di rumah sakit jangan lama-lama." Nuga berbisik di belakang telinga Nanda. "Aku pusing."
"Om sakit?!" Nanda memutar badan, menatap Nuga khawatir. "Eh, tidur saja kalau sakit. Aku motoran ke rumah sakit sendiri."
"Pusing lihat kamu cantik dan seksi, Sayang!" Dieratkan pelukan di sekitar perut, lalu Nuga menghirup wangi tubuh Nanda dalam-dalam. "Di ruang tengah banyak orang, kalau mau lakukan itu di sini. Pasti derit ranjang kamu kedengaran sama mereka."
Nuga menahan gairah—sungguh. Andai tidak berpikir Nanda akan malu saja, Nuga akan memompa Nanda sekarang juga.
__ADS_1
Nanda menggigit bibir. Gimana, ya? Walau sakit, tapi dia juga menikmatinya. Walau kesal, tapi ingin juga.
"Om mabok duren keknya. Buruan mandi dan kita berangkat! Ntar keburu malam, mobil Bapak lampu jauhnya mati. Jalan pulang kalau malam gelap banget, lewat hutan dan tempat sepi." Nanda menjaga gengsi.
Nuga menaikkan alis, kemudian tersenyum dan menjawil dagu Nanda, lalu mengecupnya sekilas. "Aku akan cepat."
Nanda membeku. Gerakan spontan Nanda membuat dirinya syok. Mendadak dirinya lemas, sehingga Nanda menjadi kesal. Kenapa sih, kok mudah banget dia leleh begini?
Nanda bergegas keluar rumah, menuju mobil ompreng milik bapaknya. Mobil bak terbuka ini cukup terawat dan bersih, tetapi namanya juga dipakai buat angkut panen kebun dan sawah, ya ... jadinya gitu deh. Ada dua mobil angkutan, dan satu mobil khusus untuk keluarga, karena mobil keluarga itu terhalang mobil ompreng, jadi Nanda berniat mengeluarkan mobil minibus tersebut agar nanti dia dan Nuga lebih cepat berangkatnya.
"Yo balik, to, Nduk! Jangan dengarkan Nanda. Dia itu ndak tau apa-apa, masak kamu terpengaruh, sih? Emang e semua kerjaan bakal selesai kalau diurus Nanda sendiri? Yang ada berantakan, toh?"
Nanda memutar badan saat mendengar suara Yang Ti. Kepala Nanda menyelidik ke arah sumber suara. "Pasti play victim si Bude raksasa itu!"
Nanda mendekat, dia tidak bisa membiarkan Bude Partin kembali. Yang Ti harus ikut apa katanya hari ini.
"Wes to! Balik yo, Nanda biar aku tatar—"
"Kalau Bude Partin kembali ke sini, Yang Ti ... akan aku pastikan mereka jadi bahan gibahan orang sedesa! Akan aku permalukan sampai bergerak pun susah!"
*
__ADS_1
*
*