
Axcel menyalakan mode pesawat pada ponselnya selama penerbangan. Benda itu bergeming kaku, sekaku hatinya telah patah oleh Nanda. Meski seharusnya, yang dilakukan adalah mengejar Nanda ke kampung halaman, tetapi seketika pikirannya yang kusut tercerahkan saat kedua orang tuanya dengan sabar menasehati.
"Jodoh semakin dikejar semakin jauh, Cel. Papa pikir, pacarmu nikah ndak bilang-bilang itu pasti ada sesuatu di baliknya. Bisa saja dijodohkan, lalu pacarmu tidak bisa menolak, kan? Percaya sama Papa, dia akan setia sama kamu meski tubuhnya diikat oleh pria lain. Jaman sekarang bukan waktunya patah hati hanya karena pacar menikah, apalagi alasannya nggak jelas. Mending sekarang kamu fokus kuliah, lalu berkarir. Percaya sama dia saja, ya. Jodoh nggak akan kemana."
Axcel menghela napasnya dalam-dalam seraya menatap keluar jendela pesawat yang hanya terpampangkan gelap.
Untuk saat ini, dia hanya percaya Nanda tidak bisa dimilikinya. Tapi tekatnya kuat jika kembali, dia ingin memiliki Nanda lagi. Dia bisa melakukan apa saja demi Nanda. Gadis pertama yang bisa membuatnya jatuh dan tak bisa berdiri lagi. Kubangan cinta Nanda begitu kuat menghisapnya.
Dengan cinta yang mereka punyai, memiliki Nanda bukanlah hal sulit. Dia hanya perlu fokus dan menata hidupnya dengan baik.
"Nda ... titip cintaku selama aku pergi. Nanti aku ambil kembali saat aku pulang."
Axcel mengirimkan pesan itu jauh sebelum dia terbang diatas langit. Semoga Nanda membacanya.
Perlahan Axcel memejamkan mata, mencoba terus meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, meski hatinya tetap saja merasa sakit jika ingat malam ini adalah malam untuk Nanda dan suaminya. Axcel mencoba mengusir bayangan buruk yang memenuhi kepalanya.
"Nanda nggak mungkin khianati aku. Nanda hanya cinta sama aku," ucap Axcel tanpa suara.
__ADS_1
Pesawat terus mengudara semakin jauh meninggalkan langit Asia. Membiarkan Axcel terus menggenggam asa. Ini hanya jarak dan perbedaan waktu, dia menggenggam keyakinan bisa mengatasi itu.
***
Ponsel Nanda telah mati berjam-jam lalu dan sekarang Nanda hanya bisa menatap benda itu dengan mata yang basah. Karena terburu-buru, ponsel Nanda jatuh dan rusak layarnya.
Di depan toko ponsel dia meratap, niatnya membeli ponsel pun gagal. Mungkin orang rumah telah mengantisipasi semuanya sehingga, sisa uang tunai tak seberapa ini yang tertinggal di dompetnya. ATM yang berisi tabungannya telah lenyap. Nanda menatap langit dengan air mata berderai.
Dan langit terkadang susah ditebak. Di tempat yang baru dia tinggalkan, bahkan bintang memenuhi malam, tetapi langit kota yang dilalui Nanda, begitu murah hati mencurahkan hujan. Petir menyambar tanah dengan kejam seakan tanah telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan.
Setiap cambukan petir menghantam hati Nanda. Sesaat ingin menyerah, tetapi Nanda segera ingat senyum Axcel yang menantinya. Tangan Nanda sudah kebas dan beku tertimpa dinginnya air hujan, menggigil dan buram pandangannya, tetapi telah membuat tangan dan matanya menjadi kuat.
Tangan Nanda memutar tuas gas dengan erat, dia memacu motor matic-nya penuh semangat. Dia harus cepat sampai demi Axcel.
***
Mungkin sebagian orang telah hanyut dalam mimpi, tetapi tidak dengan Nanda yang dini hari ini telah sampai di depan kos yang ditempati Tasya.
__ADS_1
Motor Nanda jatuh terguling sebab Nanda tidak kuat lagi membenarkan posisi motornya tersebut. Dia tidak tahan menahan dingin yang menghujam setiap inci kulitnya.
"Nanda—astaga." Tasya memapah tubuh Nanda yang dingin dan basah. Masih memakai kebaya sanggul yang berantakan. Kakinya berbalut legging tipis dengan celana jas hujan yang basah kuyup.
Tasya tidak tidur dan terus menghubungi Nanda sebab Axcel telah berangkat sore tadi.
"Tes ... anter aku ke rumah Axcel sekarang." Nanda gemetar dan terbata mengatakannya, bibirnya pucat dan tangannya menggigil.
Tasya menangis melihat sahabatnya ini. "Nda ... kamu harusnya jangan nekat begini. Axcel udah berangkat bareng orang tuanya ke Jerman. Kata pembantunya, mereka akan kembali dua minggu lagi."
"Apa?!" Nanda sudah setengah sadar saat mencoba mencerna ucapan Tasya. "Nggak mungkin. Aku janji akan datang jam dua, sekarang baru jam satu. Di dekat sekolah Hima ...."
"Ndes ... Axcel udah pergi. Aku udah ke rumah dia." Tangis Tasya pecah, lalu memeluk tubuh Nanda yang panas dan basah. Nanda pingsan di pelukan Tasya.
"Ndes ...!" Tasya melihat ke bagian yang menurutnya aneh. Jas hujan Nanda robek dan mengeluarkan darah. "Astaga, Nanda!"
*
__ADS_1
*
*