Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
63


__ADS_3

"Sumpah lo, Ndes?"


Nanda langsung menarik turun tubuh Tasya yang berdiri tiba-tiba, setelah mendengar keseluruhan perjalanan cintanya setengah bulan terakhir. "Ya ampun, itu mulut bisa dikondisikan nggak, sih? Udah ku bilang jangan histeris kalau aku kasih tau semuanya!"


Sejenak, Nanda menoleh ke arah pengunjung lain yang tampak kesal sebab terganggu teriakan Tasya. Siang ini cafe Nuga ramai pengunjung, kata Tyo; mereka kewalahan menerima pengunjung tiap harinya. Tasya baru sampai semalam, dan meminta Nanda bertemu untuk melepas rindu.


Mata Tasya masih melebar, menolak percaya pada ucapan Nanda barusan. Sepertinya pengakuan Nanda membuat isi otak Tasya kabur sejenak dan akhirnya sisa bongkahan mirip bubur di dalam tempurung kepala.


"Kok bisa, Ndes? Aku cuma seminggu di kampung, tapi kamu udah berubah status. Ya ampun, aku merasa buruk jadi temen kamu." Tasya merasa bersalah. "Pas itu aku yang minta Pak Nuga buat bantu cari kamu. Ya aku pikir kamu kan lagi terluka, bahaya kalau sampai kenapa-napa, eh, ketemu Pak Nuga di depan rumah sakit, jadi ya ...."


"Lebih buruk ...." Nanda menangkap tangan Tasya, menggenggamnya, lalu mencondongkan tubuh hingga kepala mereka nyaris saling beradu. Dia berbisik tepat di ujung hidung Tasya yang pesek. "Aku dikira hamil sama Si Om!"


"Siapa?!"


"Maksudnya, Om mengira aku hamil—"


"Ya ampun!" pekik Tasya keras saking kesalnya. Lagi-lagi, Nanda harus mengetatkan gigi saat menarik kepala Tasya menunduk kembali saking kesal pada reakso Tasya.


"Bakal aku sumpal pakai kaos kaki kalau kamu ngomong kenceng-kenceng lagi!" ancam Nanda. "Aku juga nggak mau lanjut cerita lagi, kalau kamu masih teriak-teriak begitu!"


Nanda merengut, niatnya setelah pulang sekolah adalah duduk santai di kamar yang dulunya ditempati Arum dan Nuga di lantai dua, atau meregangkan badan yang pegal karena digilas Nuga dua kali semalam—lalu nyaris terulang tadi pagi, jika saja Nanda tak beralasan sakit di area sensitifnya.


Sepenuhnya benar, tapi tidak juga. Hanya merasa kebas, aneh, dan rasanya kakinya susah merapat dengan benar setelah kejadian semalam—tapi dia yakin itu hanya perasaannya saja, sebab dia masih terlihat normal di mata orang. Selain itu, dia terlalu takut pada nafsù pria itu. Mengerikan dan sedikit kasar. Atau entah bagaimana, Nanda tidak paham, apa diremas dan digigit disebut kasar, atau memang begitu cara mainnya.

__ADS_1


Tapi ya, memang kasar, brutal, dan beringas seperti singa di tayangan National Geography saat mengoyak daging segar yang dilempar ke arahnya. Nanda merapatkan kaki agar rasa ngilu yang mendadak datang itu pergi.


"Jangan dong! Hayuk cerita, Beb ... gimana empe-nya? Dibobol duren sehot Pak Nuga sedap nggak? Besar nggak sosisnya? Jumbo apa mini? Atau ukuran koktail yang pas di mulut itu, apa bagaimana?" desak Tasya menggoda. Dia tidak masalah dengan pernikahan itu, mungkin juga memang harus seperti itu, jadi nggak ada yang bisa dia lakukan selain mendengar Nanda dengan baik.


Pikiran Nanda akan rentetan kejadian semalam buyar. Dia berdecak.


"Kamu udah pernah lihat yang jumbo atau yang koktail emang?" Nanda kesal. "Kalau masih amatir jangan bahas begituan, malu sama yang udah pro!"


"Ck, aku hanya ikut-ikutan yang lain aja!" Tasya mendesah berat. "Bisa digorok Abah sama Emak kalau sampai aku macam-macam!"


"Dih, belum lihat aja sotoy!" Nanda menempeleng ringan kepala Tasya hingga kepalanya oleng ke kiri.


Wanita itu terkekeh, lalu mengambil es kopi di dalam cup. Suara sesapan Tasya terdengar mengerikan, sehingga Nanda langsung menegur Tasya.


Tasya melihatnya. "Ck, suami kamu juga Om-om, jadi apa salahnya kalau aku dapet sugar granpa, biar aku beli iphone kaya kamu! Nunggu dia bentar lagi koid, trus kuasai hartanya."


Nanda mendelik. "Pikiranmu udah nggak bisa diselamatkan, Tes ... elo parah!"


Tasya hanya mengendikkan bahu, sambil terus menyeruput es kopinya. Terserah apa kata orang, yang jelas Tasya hanya ingin dia hidup berkecukupan, walau dia tidak pernah macam-macam. Hanya bibir saja yang sok dan ember, kelakuan masih cemen.


"Hai ... udah makan?"


Ketika mereka berdua asyik ngobrol nggak berguna, suara berat seorang pria menghampiri dan membuyarkan obrolan yang sedikit menyerempet ke arah bahaya, tetapi sebisa mungkin, Nanda tidak mengaku kalau sudah melakukan ritual belah duren.

__ADS_1


Pandangan mereka sontak teralihkan. Meski tau itu suara siapa. Hanya nada dan kesan dari suara itu sedikit hangat ... sekitar 40 derajat celcius.


Tasya melongo hingga cup kopi di tangannya jatuh. Oh, My ...


"Pak ...!"


"Om ...!"


*


*


*


Sorry aku semalam ketiduran, trus hari ini aku sibuk karena ada urusan mendadak🙏


Maaf, ya ... btw, yg namanya ini tamat atau belum, jawabnya belum. Akan tamat akhir bulan, sesuai jadwal🙏


Yang nanya otornya cantik apa enggak, aku jawab cantik ... yg ganteng cuma ayang🙏


Sekian terima gajih🙏


Note; dilarang banting piring, dilarang muntah, dilarang injek lantai, apalagi banting hape😌 aku emang cantik😌

__ADS_1


__ADS_2