Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
78


__ADS_3

Yanuar—kakak Nuga, beserta istri dan anak perempuannya tiba hari ini, sehingga membuat rumah ini menjadi sangat ramai.


Sore selepas Isya, pegawai kelurahan datang bersama beberapa tetangga, termasuk mama papa Meylani.


A'i Ling atau biasa Hima memanggilnya Ayi Ling atau Nuga menyebutnya Tante Ling membantu Bu Hapsari dan Nanda dibelakang. Jelas mereka sedang membicarakan acara ngunduh mantu Pak Puji. Serta menjelaskan apa yang terjadi walau harus sedikit berbohong.


Wanita berdarah Cina itu duduk setelah menata makanan kecil di piring. Matanya menatap Nanda.


"Cinlok, ya, Nda." Ayi Ling tertawa kecil.


"Si Nuga, Ling. Kalau Nanda enggak." Bu Hapsari menyela. Dia melindungi Nanda agar tidak terjadi pergunjingan di kalangan ibu-ibu perumahan. Biarlah Nuga saja yang dihujat, Nanda jangan. Nuga itu pria paling tebal kulit telinganya, Nanda tidak. Dia masih terlalu kecil untuk menahan omongan pedas dan kasar ibu-ibu.


"Biasanya Nuga konsisten." Ling memang irit bicara, seirit pengeluarannya, tetapi jleb di hati, nylekit di telinga.


Nanda menatap Ayi Ling dengan tatapan tidak suka, tapi dasarnya Ayi Ling orangnya terbiasa ceplas ceplos, jadi dia mengabaikan tatapan itu. Menurutnya, dia berbicara fakta.


"Dia sedang terpesona saat jatuh cinta sama anak temen bapaknya, Ling." Lagi-lagi Bu Hapsari menjawab, mendahului Nanda. "Lagian ndak ada yang salah, kan, Ling? Selama keduanya mau?"


Ling menggelengkan kepala. "Hanya merasa kok bisa Nuga jadi inkonsisten dengan prinsip hidupnya. Pasti Nanda wanita istimewa."


Nanda ingin menjawab: Oh, jelas, Nanda gitu loh. Sayang, dia hanya bisa membalasnya dengan mata berputar jengah.


Malas sekali pada gaya Ling yang sok baik. Aslinya pasti mau cari bahan gibah buat dispill sama mak emak kompleks.


"Jelas dong." Bu Hapsari menjawab dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. "Nanda itu wanita paling pas bersama Nuga. Empat tahun Nanda selalu mengurus dan memperhatikan anaknya Nuga, belum ngurus Nuga-nya yang kelewat rewel. Kalau nggak hebat, dua hari juga ndak tahan hidup sama Nuga itu."


Ling tertawa. Itu benar. Dia saja segan pada Nuga hanya karena dia melihat betapa gelap mata Nuga dan diamnya pria itu saat mengawasi orang lain bicara. Nuga mengawasi lawan bicaranya seperti seekor macan kumbang mengawasi mangsanya.


"Ayi doakan kamu bahagia, Nda." Ling hanya bisa tersenyum ke arah Nanda sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka, pada akhirnya. Yang Ling sayangkan adalah, kenapa anaknya tidak bisa terlihat sama seperti Nanda dimata Nuga, seumur hidup Mey juga dihabiskan untuk mengikuti Nuga dan membantu mengurus Hima. Ling kasihan pada anak perempuannya itu, tapi tentu bukan karakternya memaksakan kehendak pada orang lain demi anaknya.


Dia tahu, Mey pergi karena Nuga dan pernikahan ini. Namun, dia tidak pernah berani menyuarakan secara vokal sakit hati yang dialami anaknya. Nuga sudah bilang tidak suka pada Mey, sayang Mey ngeyel. Jadi, dia hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anaknya, sebulan ini.


Michelle muncul ketika Ling berdiri hendak meninggalkan ruangan ini. Dia bertemu tatap dengan Michelle.


"Halo, nice to meet you." Ling menyapa dengan senyum ramahnya. "jet lag?"

__ADS_1


Michelle bingung. Dari Bali ke sini, yang membuat jet lag apa?


Bu Hapsari, bahkan Nur sekalipun tertawa. Dia menatap menantunya lembut, seolah mengisyaratkan agar Michelle diam.


"Michelle lama di Bali, Ling! Aku lupa cerita sama kamu."


"Oh, kupikir bule tulen." Ling tertawa kecil.


"Iya, dia asli orang Australia, hanya lama di Bali, bahkan dia bisa berbahasa bali dengan baik. Lancar bahasa Indonesia, bahkan dia lebih banyak tahu soal Indonesia ketimbang kita." Hapsari meninggalkan segala pekerjaannya untuk di serahkan pada Nur. Sisa mengepak bingkisan untuk dibawa tamu di depan, setelah itu selesai.


"Dia bekerja di kedutaan Australia untuk Indonesia, dulu." Hapsari berbisik. "Aku baru tahu semua itu setelah aku tinggal di sana."


"Hei, Ibu ... jangan gosipin aku di depan hidungku!" Michelle sedikit tidak nyaman.


"Kan, dia fasih sekali." Hapsari tertawa menunjukkan kalau bahasa inggris Ling tidak dibutuhkan untuk menyapa Michelle, yang ada dia malah kaget.


Hapsari menyilakan Michelle yang tampaknya ingin menemui Nanda. "Silakan ngobrol sama Nanda. Ibu tahu banyak yang ingin kamu tanyakan ke Nanda."


Di sini, Nanda merasa terjebak. Sejauh apa mereka memberitahu istri kakak iparnya ini tentang dirinya.


Ling syok melihat Michelle, setelah menikah dulu, Yan langsung bekerja di Australia. Yan diterima di sebuah perusahaan besar, lalu sekarang, Yan dan Michelle mengelola peternakan milik mereka sendiri.


Sejauh ini, dia hanya kenal sebatas cerita Hapsari. Dan diakui, Michelle luar biasa juga. Ah, entahlah, dia terlalu ingin memiliki satu dari dua anak Hapsari. Sayang persahabatan mereka membuat Ling tidak mampu berbuat banyak. Hapsari kelewat baik, Pak Puji kelewat dekat bagai saudara.


Nuga baru saja kembali setelah tamu pulang. Pria itu berlari ke kamarnya tanpa menyapa Yan yang sudah siap diberi pelukan oleh Nuga.


"Buset! Kelamaan duda bikin dia ngebet!" Yan menatap kepergian Nuga hingga tak terlihat lagi di pandangan.


"Ibu ndak kaget opo lihat Nuga jadi anak rumahan begini?" Yan menurunkan pandangan ke arah sang Ibu yang terlihat santai mengemasi sisa suguhan untuk tamu tadi.


"Ndak lah! Ibuk udah ngira bakal begini, sebab ngaca pada kelakuan kalian berdua!" Hapsari melirik Pak Puji yang duduk dengan ponsel di tangannya.


Yan terkekeh, kemudian duduk lagi di sebelah bapaknya. "Nuga lebih parah."


Pak Puji mengangguk setuju. "Kronis!"

__ADS_1


Keduanya tertawa keras, sambil saling menepuk. Sementara Bu Hapsari membalas dengan cibiran kesal. "Setel bapak karo anak!"


Nuga lain lagi, dia tergesa-gesa karena harus bersiap sebab subuh besok, dia mesti berangkat ke Jakarta untuk menggantikan rekannya yang sakit. Ada pertemuan dan seminar yang harus dihadirinya selama dua hari di Jakarta.


"Apa sih, Om gubrak gubruk begitu?!" Nanda melihat suaminya menurunkan koper dan membuka lemari lebar-lebar, membuat Nanda yang baru saja meluruskan kaki kaget bukan main.


"Besok aku ke Jakarta, Nda ...!" Nuga masih sibuk memilah baju, tanpa menghiraukan Nanda.


"Berapa lama?"


"Dua hari."


"Yess!"


Nuga sontak menoleh, melihat Nanda yang mengepalkan tangan seraya berjoget tak jelas.


Baju di tangan Nuga dilemparkan begitu saja ke lantai. Dia berjalan menuju ranjang dengan rasa geram menumpuk.


"Apa maksudnya joget-joget kesenangan begitu?" batin Nuga.


"Kenapa?" tanya Nuga saat berjarak satu lengan saja dari Nanda.


"Bebas dari Om—Eh!" Nanda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Mak-maksudnya ... bebas—hemmph!"


Nggak tidur pun dijabani! Bocah ini menyebalkan. Memangnya kalau ia dirumah, Nanda nggak bebas? Bebas apa? Bebas dari tekanan bercinta? Katanya makin ditekan makin enak?


"Ah, Om!" Nanda menjerit saat Nuga langsung memasukinya tanpa pemanasan yang cukup.


Sekali lagi, tubuhnya terbelah dua.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2