Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
39.


__ADS_3

Yessa sedang ada kesibukan untuk satu minggu ini, jadi Nanda tidak bisa bertemu dengan wanita itu secepatnya. Ah, menyesal kenapa dia tidak bertanya banyak hal kemarin.


"Aku terlalu terkejut bisa ketemu temannya mama Hima kemarin, sampai nggak bisa apa-apa selain ha-ho." Nanda berdiri dengan muka masam, lalu berniat mengembalikan ponsel ke Nuga. Sudahlah!


"Mbak, Om kemana?" tanya Nanda pada Nur yang sedang mengemasi meja makan.


Nur menoleh sedikit, lalu tersenyum. "Udah berangkat!"


Nanda melihat senyum aneh di bibir Nur itu. "Kenapa senyumnya gitu?"


"Hehehe ... manten baru bawaannya susah pisah, ya." Nur sampai harus meninggalkan pekerjaannya demi menutup mulut. Astaga, kenapa dia senang sekali ya, hari ini. Rumah ini akhirnya hangat oleh cinta yang bersemi.


"Otaknya mesum ini pasti." Nanda berdecak. Paham arti senyum itu yang setiap hari selama empat tahun ini selalu menghiasi wajah Nur. Apalagi kalau dia habis pulang kampung.


Nur nyengir lebar.


Tangan Nanda yang memegang ponsel terangkat, "Nih, mau balikin hape! Dikira mau apa emangnya ... dasar ibuk-ibuk omes! Piktor!"


Nur tertawa. "Kamu nanti juga omes, Nda kalau udah tau rasanya."


"Nggak akan!" balasnya sedikit berteriak.


Nanda mendengus saat melenggang keluar rumah. Langkahnya sedikit cepat berharap Nuga belum pergi. Pasti ponsel ini penting buat Nuga.

__ADS_1


Tepat saat di depan pintu Nanda melihat Nuga berbincang serius dengan Mey. Mungkin bukan serius, tapi menyakitkan, buktinya, Mey menunduk dan terisak-isak.


Nanda sedikit ragu untuk mendekat, tapi kepo juga. Dan senang melihat Mey yang sipit itu makin sipit karena menangis. Hihihi ... menjahili Mey adalah kesenangan yang memuaskan. Sebenarnya, tujuan Nanda menjahili Mey tak lain agar wanita itu move on. Jijik sekali Nanda lihat wanita mengemis cinta pada pria yang menolaknya.


"Em—Mas!"


Yang merasa dipanggil langsung berjengit dan merinding di tengkuk hingga ke punggung. Refleks dia menoleh. Dan astaga ...! Nuga ingin rasanya tertawa melihat gaya Nanda yang seakan-akan jiwa seorang istri merasuk ke tubuh Nanda. Kesetanan apa anak ini?


"Hapenya ketinggalan." Nanda dengan senang hati memeluk pinggang Nuga, menempelkan tubuhnya diatas Nuga. "Oh, ada Bu Mey, to ... pagi, Bu! Ada perlu apa sama suami saya?"


Mey membuka mulut sedikit, demi membuang rasa sesak yang memenuhi dada. Ada yang ingin meledak tapi bukan bom. Tangan Mey sungguh ingin meremas Nanda sampai menjadi bubur saat ini. Sakit sekali, Tuhan!


"Buruan berangkat, Mas ... nanti telat loh." Nanda mengerling Nuga dengan senyum manisnya, hingga membuat Nuga hampir pingsan.


"Hati-hati, ya ...." Tangan Nanda merapikan kerah baju Nuga, dan berjinjit untuk pura-pura mencium pipi Nuga.


Mey dengan cepat menoleh, seakan dia tidak percaya kalau ini adalah Nanda dan Nuga yang setiap hari dia lihat. Kapan perasaan itu berkembang? Sampai ....


"Hah ...!" Mey kembali membuang napas terlukanya.


Nuga terdiam, Nanda melipat bibir menahan tawa.


"Aku pergi, Mas—"

__ADS_1


"Oh, silakan ... pintu di sebelah sana, ya, Bu. Apa perlu saya antar?" Nanda menunjuk pintu pagar. Sebelah tangannya masih memeluk pinggang Nuga dengan erat.


Tangis Mey semakin menjadi. Dalam buramnya pandangan, Mey hanya bisa melihat betapa Nanda sangat bahagia di sini pria idamannya. Dan Nuga ... meski sedikit malu, tapi Mey tau, Nuga juga bahagia.


Mey setengah berlari pulang. Dia merasa tak berdaya dan malu. Nuga sudah mengatakan sendiri kalau dia hanya mencintai Nanda. Sejak semalam, dia tak sabar menunggu pagi, tetapi pagi ini adalah pagi terindah yang disesali Mey. Kenyataan bahwa dia tidak bisa menyinggung Nuga lebih jauh, membuatnya ingin mati saja.


"Bu Mey apa nggak punya kaca di rumah, biar bisa sedikit sadar diri dan move on. Kaya pria cuma satu aja." Nanda mencibir hingga bibirnya bisa dikuncir.


"Yang tampan dan kaya di luar sana banyak. Ngapain sih, cuma bolak-balik sama satu cowok aja? Masa mudamu suram, Bu Mey ... kasihan." lanjutnya seraya perlahan melepaskan diri dari Nuga.


"Kaya masa mudamu paling cerah aja." Nuga mencemooh Nanda.


"Ck ... setidaknya aku pernah punya pacar dan jadi rebutan!" Nanda mendengus kesal. "Daripada yang nggak pernah pacaran, lebih buruk, nggak bisa move on kaya Bu Mey dan Om!"


"Sampai hampir mati karena ngejar pacarnya yang sudah lupa walau baru 10 menit naik pesawat." Meski kesal, dia tetap bisa menjungkirkan Nanda, semudah membalik daun kering. Dan Nanda tidak pernah menang.


"Om ...!"


Itu buktinya ... gadis kecil itu mulai marah jika kenyataan akan dirinya dibeberkan. Wanita suka sekali menyangkal fakta.


*


*

__ADS_1


*


biarkan ditahun baru ini, aku khilaf🙃


__ADS_2