Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
59


__ADS_3

"Eh, Nda ... Ayah mana? Kok Nda yang kesini?"


Bukannya mempersilakan Nda masuk ketika Nanda datang untuk mengantarkan ponsel, Hima malah mendorong Nda-nya keluar. Gadis kecil itu melongok kanan kiri untuk mencari ayahnya.


"Ayah di kamar—"


Menyadari kalau Nanda kemari hanya untuk menemaninya, Hima berdiri tegak menatap Nanda. "Nda ngapain kemari? Balik ke kamar aja, Nda ... aku tidur sendiri malam ini!"


Tangan kecil Hima mendorong Nanda menjauhi pintu.


"Eh ... kenapa?" Nanda kaget. Kan anak ini asem banget ... udah dibantu bukan makasih, malah ngusir. "Nda mau antar ponsel kamu dan banyu kamu siap-siap buat ikut Mbak Nur besok."


Hima berhenti mendorong, ganti menatap Nanda dengan kepala patah ke kiri. "Bu guru kasih izin? Ciyus? Ayah yang nyuruh Nda kemari, ya?"


Nanda menggoyangkan ponsel ke depan Hima, lalu menaik turunkan alisnya. "Nda yang minta izin ke Bu Hartati tadi, makanya dikasih izin. Kalau Ayah yang ngomong sama Bu Har, pasti Ayah akan bilang kalau Hima hanya main-main ... dan besok Hima nggak jadi ikut ke rumah Mbak Nur."


"Ciyus, Nda ... ciyus ini?" Hima memandang Nanda tak percaya sampai mengguncang tubuh Nda kuat-kuat, lalu memeluknya. "Makasih ya, Nda, makasiiih banget. Sayang Nda banyak-banyak pokoknya."


Nanda berlutut lalu membalas pelukan Hima dengan perasaan gemas. Di dalam hati, dia masih tidak percaya kalau Hima yang ceria ini, mengalami penderitaan sejak masih dalam kandungan. "Sama-sama, Sayang."


Suara Nanda menjadi serak dan bergetar saat menahan tangis. Hatinya tersentuh mengingat betapa Hima ini sangat kuat. Sendirian dan tidak diharapkan. Andai Hima tahu kisah hidupnya, apa dia masih bisa seceria ini?


Perlahan Hima menjauhkan tubuhnya, lalu menatap Nanda. "Hima harus segera tidur, Nda ... besok berangkat subuh soalnya."


"Kalau gitu kita berkemas sekarang biar cepat-cepat bobo biar nggak kesiangan besok." Nanda mencubit gemas pipi Hima, kemudian mengantar Hima ke kamar.


"Eh, Nda ambil hape dulu, ya ... takut temen Nda nelpon nanti."


Hima mengangguk cepat, kemudian membiarkan Nanda keluar usai mengusap rambutnya. Namun, begitu Nanda keluar, Hima langsung mengunci pintu kamarnya.


"Loh, Him ... kok ditutup?! Dikunci pula?" Nanda menggedor dari luar, lalu memutar handle berulang-ulang. Hima tertawa kecil.


"Nda bobok sama Ayah aja! Hima bisa sendiri kok!"

__ADS_1


Di dalam ada Cica yang masih di kamar mandi. Dia sudah berkemas, bahkan sudah gosok gigi, karena dia ingin segera tidur agar tidak terlambat bangun esok pagi. Nur dan Cica sudah setuju bekerja sama dengannya untuk menjadikan Nda istri yang baik buat ayahnya.


Hima berlari ke kamar mandi, melongok ke dalam lalu berbisik ke arah Cica yang sedang mencuci muka. "Nda udah kuusir, Mbak Cica. Misi kita selesai!"


Cica mengangguk riang, lalu bergegas mengelap muka, dan menggendong Hima ke ranjang. "Pokoknya, sampai Nda dinyatakan punya baby di perut, misi masih di jalankan, mengerti?!"


"Syaaap mengerti, Bos!" Hima memasang posisi hormat lalu tertawa ceria. Meski di kepalanya berputar bagaimana bisa ada bayi di perut Nda hanya dengan membuat Nda menjadi istri yang baik.


"Hah, orang dewasa itu rumit! Masih kecil jadi anak yang baik, sudah besar harus jadi istri yang baik, punya anak jadi ibu yang baik ... merepotkan sekali." Hima membatin. Terserahlah, dia tidak peduli.


Nanda kembali ke kamar lima menit kemudian. Disambut Nuga yang entah mau melakukan sholat apa. Pria itu sudah pada posisi siap menjalankan ibadah. Tapi dia tidak bertanya juga, lagian dia baru tahu ini hari ini jam sembilan malam pake koko dan sarung, gelar sajadah pula.


Dia memilih duduk di tepi ranjang, memunggungi posisi Nuga sekarang. Mengambil ponsel lalu menggulir layar menelusuri media sosial. Kali ini dia melihat review makanan dan buah-buahan import, sepertinya enak. Walau dia tidak punya uang. Dalam hati Nanda cekikikan.


"Kok malah duduk di situ?"


Nanda menoleh dengan cepat sebab merasa dirinya dipanggil. Mengerutkan kening, menatap Nuga penuh tanya.


"Ayo ... ambil wudhu dan mukena! Kita shalat sama-sama." Air masih tampak lembab membasahi wajah Nuga. Sebagian bulir tersangkut di jambang dan kumis tipisnya. Wajah itu teduh dan segar. Tenang saat melihatnya.


Nanda memang mudah bergaul, senang menyapa, walau respons yang diterima kerap menyakitkan. Tapi Nanda tak pernah menyerah untuk terus menyapa lagi dan lagi.


"Shalat apa sih, Om? Aku udah shalat Isya' abis Adzan tadi." Nanda berdiri, heran, dan sedikit kesal. "Mata udah ngantuk, harusnya kan tidur, kalau wudhu lagi nanti malah ilang ngantuknya!"


"Emang harusnya kamu nggak boleh ngantuk! Buruan ambil wudhu ... kita harus shalat sunnah sebelum melakukannya, kan? Kamu tau itu, kan?" Nuga beranjak dari sajadah, lalu mendekati Nanda—menjaga jarak.


Tatapan Nanda langsung berputar ke atas, pura-pura tidak tahu. "Melakukan apa?"


"Ini malam pertama kita, kan? Harus shalat dulu biar jadi ibadah, biar berkah dan dapat pahala. Biar iblis dan setan nggak menggoda kita, biar nanti kalau diberi keturunan, jadi keturunan yang shaleh dan saliha," jelas Nuga.


Nanda menggeleng. Dia panik. "Om serius? Aku nggak menarik kok Om masih nàfsù aja sama aku? Om yakin nggak akan nyesel ngelakuin itu sama aku? Beneran aku belang dan burik! Banyak stretch mark, banyak noda pokoknya."


Nuga menarik napas, lalu mengibaskan tangan agar Nanda segera ke kamar mandi. "Buruan ambil wudhu ... nurut sama perintah suami! Itu kita bahas nanti."

__ADS_1


Tatapan Nuga menyiratkan kalau dia tidak mau dibantah lagi, sehingga Nanda menurut akhirnya. Meski ya, dia kesal. Dan berdebar.


"Om ngebet banget begituan ... kaya orang kelaparan!" gumam Nanda saat berjalan ke kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Nanda langsung mewek.


"Huhuhu ... beneran aku mau itu sama Om? Aku mesti gimana ini?" Nanda kelabakan mencari sesuatu untuk melindungi dirinya.


"Ah, aku ada ide!" Nanda berbalik keluar, dan menghadap Nuga. Senyum yang semula terpancar langsung lenyap setelah bertemu tatap dengan Nuga.


Nuga menyelidik penuh curiga, sehingga dia menatap Nanda tajam. Sampai gadis itu tak berani membalas tatapannya.


"Om, aku lagi datang bulan, jadi ... aku nggak shalat!" ucap Nanda ragu, sedikit takut. Nuga tidak mungkin tahu jadwal bulanannya kan?


"Ini tanggal berapa? Biasanya kamu mens akhir bulan! Bukannya bulan kemarin kamu minta antar beli pembalut malam-malam pas ujan? Itu hanya beberapa hari sebelum kamu kabur!"


Nanda membeliak. Kaget setengah mati. "Mungkin aku kecapekan, stress ... jadinya—"


Nuga menegakkan tubuh dan bersedekap. Memasang mode paling galak dan biasanya kalau sudah seperti itu ... tak ada kata maaf atau ampun lagi.


Dalam hati Nanda, alarm bahaya sudah menyala. Seluruh isi otaknya kelabakan dan panik untuk menyelamatkan diri. "Om—"


"Besok aku pastikan kamu tidak bisa masuk sekolah, Saktia Firnanda Suci!"


Napas Nanda kabur entah kemana. Dia sudah membeku dan mati langkah. Tatapan dan ucapan Nuga membuatnya ngeri.


"Aku sudah minta baik-baik ... jadi jika sikap kamu begini, jangan salahkan aku kalau memaksa kamu!"


*


*


*


Belum yess🙏🤭

__ADS_1


Kaboor🤣


__ADS_2