Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
22.


__ADS_3

Ada hubungan aneh yang membuat Nuga kelabakan seharian. Badan Hima panas dan terpaksa di bawa ke rumah sakit karena sudah mencapai 40,5° dini hari ini.


Hima terus memanggil Nanda dan itu membuat Nuga frustrasi. Hanya empat tahun saja dan Hima sudah seperti ini pada Nanda. Padahal ada dia dan kedua orang tuanya yang mengasuh Hima sejak lahir, tetapi Hima tak pernah mengigau memanggil mereka seperti ini.


Hima baru saja tidur, ruangan kelas 1 ini menjadi sunyi, menyisakan Nuga yang merenung memandangi langit-langit kamar. Tangannya memegang ponsel, niatnya menghubungi Nanda, tetapi belum juga berani.


Benarkah Nanda menikah hari ini? Kenapa dia menyimpulkan begitu? Bukankah orang tuanya hanya memberi kabar kalau Nanda akan menikah, tapi tidak tahu kapan itu terjadi. Dia hanya kesal karena semua orang mendadak membutuhkan dan mencari Nanda.


Selain itu, bukankah gadis itu tidak sopan dengan pergi begitu saja tanpa pamit padanya? Empat tahun bukanlah waktu yang singkat dan mereka melalui banyak hal bersama—sebagai keluarga.


"Mas ...."


Nuga bangkit saat mendengar pintu terbuka, Nur dan Mey masuk. Wajah panik mereka tak bisa disembunyikan lagi.


"Gimana Hima, Mas?" Mey hanya menatapnya sekilas lalu lebih lama ke arah Hima, yang pucat dan berkeringat.


Nuga melirik anaknya demi menghindari kontak mata dengan Mey. "Sudah mendingan."


Ketusnya jawaban Nuga seolah mengisyaratkan kalimat tak suka; ngapain pagi-pagi datang kemari? atau kedatangan Mey sama sekali tidak dibutuhkan di sini.


Napas Mey terbuang dengan keras menyadari Nuga masih tidak suka dirinya terlalu care pada keluarganya. Tapi dia bukan orang lain, kan? Bapak ibu juga mengatakan kalau mereka keluarga, tapi Nuga tak menganggapnya sama.


Awalnya, Mey berniat mendekati Hima agar bisa merebut hati Nuga—seperti yang dilakukan Nanda, tapi sedetik kemudian, dia mengubah pola PDKT yang sedang berjalan. Tak masalah, hati berubah secepat arah angin, rencana bisa berubah setiap detik, toh semua planning dan program ini hanya tersusun dalam kepala Meylani.

__ADS_1


"Apa kata dokter?" Mey tak sedang mencoba lebih dari ini, agar Nuga tidak menganggapnya berlebihan.


"Demam biasa, mungkin karena kecapekan." Perlahan Nuga menghadap Hima, bersebelahan dengan Mey. "Besok masih akan tes darah untuk memastikan dia sakit apa."


Senyum Mey terbit, tetapi dia tidak mengubah ekspresinya. Dia harus jual mahal agar Nuga yang mengejarnya, toh, sekarang Nuga sudah tahu perasaannya. Baru begini saja, Nuga sudah berubah sikap. Memang dia harus tarik ulur biar Nuga makin penasaran.


"Semoga Hima nggak kenapa-napa, Mas ...." Mey menarik selimut Hima sedikit menutup dada. "Aku balik ya, Mas ... rumah kalau udah dikunci, aku nggak periksa lagi, ya."


Nur merasa kalau Mey kesini hanya mengantarkan dia saja, merasa tak enak hati. "Sudah kok, Bu Mey ... maaf bikin Bu Mey kerepotan pagi-pagi begini."


Mey tersenyum sekilas, lalu mengusap kaki Hima, dan meninggalkan ruangan ini tanpa mengatakan apa-apa. Dia berharap keajaiban terjadi. Misalnya, Nuga mengejarnya dan berterima kasih secara pribadi padanya.


"Bapak bisa kerja hari ini, biar saya jaga Hima sama Cica." Nur menyarankan. Dia tahu majikannya ini sedang sibuk mengingat hampir tiap malam dia menghidangkan kopi untuk menemani lembur.


"Nitip Hima sebentar, ya, Nur ... mungkin jam 10 aku sudah selesai. Tapi kalau Hima nyariin aku, telpon aja. Aku akan pulang cepet." Nuga mengusap kening Hima dan menciumnya. Dia harus cepat.


Nur mengulurkan kunci rumah, "Siap, Pak. Ada Cica pasti semuanya aman."


Nuga mengambil kunci rumah dan menyambar kunci mobil, langkahnya tenang meninggalkan kamar menuju parkiran.


Mey tersenyum melihat Nuga yang berjalan cepat ke mobilnya. "Mudah sekali meluluhkan kamu, Mas."


Mey siap turun dari mobil saat melihat Nuga hampir tertabrak sepeda motor yang melintas.

__ADS_1


"Pak Nuga."


Mey mengenali suara itu, dia adalah Tasya, sahabat Nanda. Seketika wajah Mey menjadi masam.


"Tasya—"


"Kebetulan Bapak di sini, tolong bantu saya cari Nanda, Pak." Tasya memegang tangan Nuga penuh permohonan. Wajah wanita itu panik. Mey sampai heran melihatnya.


"Nanda? Dia bukannya pulang kampung—"


Tasya mendecak kesal. Dia tidak punya waktu lagi. "Nanti saya ceritakan, Pak ... ayo Pak, bantu saya cari Nanda! Dia kerumah Axcel mungkin, Pak."


Nuga masih belum paham, tetapi dia segera membantu Tasya membenarkan posisi parkir motornya. Membuka pintu mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju jalanan yang masih gelap.


Mey mundur, terhuyung dan merasa kalah. Nuga begitu khawatir pada Nanda. Dari ekspresinya dia tau, Nuga peduli sekali pada gadis itu. Jadi bolehkah dia memiliki rasa tidak suka dan tersaingi oleh Nanda? Mengapa dia bisa kalah dari Nanda?


"Benarkah tak ada kesempatan lagi bagiku, Mas?"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2