Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
81


__ADS_3

"Jadi sudah sepakat, ya ... Bu Padma sama Pak Puji," ucap kepala desa yang sengaja dihadirkan di rumah Padmasari untuk mengesahkan hari dan tanggal resepsi anak cucu mereka. Kades Arianto menoleh ke arah dua orang itu bergantian.


Dia kembali melanjutkan. "Sepakat njih, kalau hari Minggu—minggu depan, resepsi di sini, dan seminggu setelahnya, yaitu minggu selanjutnya diadakan ngunduh mantu di kediaman Bapak Puji Ananta. Njih, sampun sepakat, sudah deal njih!"


"Njih, Pak Kades." Perwakilan keluarga Pak Puji, Pak RW mengangguk, diikuti seluruh orang yang hadir.


Pak RW langsung mengambil alih, sebab Pak Kades mengisyaratkan dengan tangan mempersilakan beliau menambahkan kalau ada yang ingin di sampaikan.


"Saya diutus Pak Puji untuk menyerahkan uang sayur yang kata beliau hanya cukup buat beli garam." Pak RW menarik sebuah amplop coklat dan meletakkan ke depan Pak Kades. "Tolong jangan dilihat jumlahnya, Pak. Ini kata Pak Puji hanya sejumput, hanya seharga garam."


Pak Kades menoleh ke arah Padmasari dan Pras. Dia menelan ludah kecut. Padahal Pak Kades melihat truk tadi, bahkan sampai sekarang belum selesai menurunkan sembakonya, ini sudah ditambahi lagi duit segepok.


"Mohon di terima, Bu Padma," pinta Pak RW mendesak. "Ini hanya sebagai pengikat keluarga kita saja. Jangan dipandang jumlahnya, karena ini beneran ndak seberapa."


Pras menatap Pak Puji yang wajahnya sama sekali tidak berubah sejak acara ini bergulir. Tetap bersahaja, dan rendah hati selama mengikuti acara. Sedikit bertanya-tanya, kenapa mesti sebanyak ini? Padahal salah satu saja cukup.


Jangan tanya Padmasari. Dia sejak tadi diam, menarik bibir tuanya sesekali agar tidak terlihat tertekan, lebih buruk lagi, dia seakan kehabisan kata-kata. Dia nyaris tidak punya muka. Tapi apa mau dikata, kaburpun dia tidak bisa. Kemarin-kemarin, dia menunjuk sana sini, mengatur sana sini agar semua terlihat bagus dan sempurna di mata Puji dan keluarganya, namun apa yang terjadi hari ini, membuat seluruh usaha Padmasari telihat tidak ada apa-apanya.


Ruangan itu mendadak senyap, dengan anggota keluarga dari pihak tuan rumah saling pandang dan berkomat-kamit, tapi bukan baca mantra, melainkan heran dan takjub. Serius, ini kayaknya bakal jadi royal wedding ala kampung, dimana gadis desa dinikahi pangeran dari kota, meski tidak pakai kuda putih.


Pak Kades menghela napas dalam, kemudian menghadap Pak Puji. "Njih, ini saya terima, Pak. Kami ucapkan banyak terima kasih atas apa yang keluarga Pak Puji berikan. Semoga kebaikan hati Pak Puji mendapat balasan dari Yang Maha Kuasa."


"Aamiin, Ya Robbal'alamin." Semua yang hadir menjawab.

__ADS_1


"Jadi acara kali ini bisa dikatakan selesai dengan kesepakatan kedua belah pihak, njih. Ndak ada yang nggrundel lagi, njih? Ndak ada yang ingin dibahas lagi, njih?" Sekali lagi, Pak Kades menoleh ke arah kedua belah pihak keluarga, lalu setelah mendapatkan jawaban iya, Pak Kades segera mengambil sikap tegak untuk menutup acara siang jelang sore ini.


"Njih, lagian waktu sudah hampir Ashar dan dalem njih dereng ngrumput, perut njih sampun sawetawis luwe, acara meniko dalem pungkasi cekap semanten. Kedua belah pihak sampun sepakat, seserahan njih sampun dalem tampi kanti penggalih ingkang longgar, wontenipun keluarga Pak Prasetyo ngaturaken matur sembah nuwun, mugi-mugi sedoyo pinaringan berkah saking Ingkang Moho Kuaos, Allah SWT." Pak Kades menarik napas panjang, seraya membenarkan lipatan kakinya yang duduk bersila.


"Njih, cekap semanten, wonten kirang langkung anggenipun paring suguh, aruh, lan palenggahan, dalem kalian Pak Prasetyo sekeluarga ngaturaken nyuwun agungin penggalih, nyuwun pangapunten ... akhirul kalam bilahi taufik walhidayah, Wasalamualaikum warohmatulahi wabarokatuh."


"Alhamdulillahirabbil'alamin," sambut mereka semua serentak.


Lestari berdiri dan melangkah ke arah parogo yang bertugas untuk di bagian hidangan. Lestari berbisik. "Gimana Bu Kasun, udah sampai toh, yang pergi ke restoran tadi?"


"Sudah, Bu. Itu sedang di tata di meja. Tapi ndak ada wadah prasmanan, jadi pake mangkuk-mangkuk seadanya." Bu Kasun, Bu Kades semua panik menyiapkan menu tambahan agar sajian hidangan mereka lebih variatif.


Nanda sendiri sejak tadi ikut sibuk membantu orang dapur untuk menyiapkan hidangan. Tidak ada alasan baginya duduk di bale, sebab dia sudah tahu semuanya.


Semula hanya menu sederhana ala desa yang disiapkan, seperti ayam ingkung, ikan bakar, sate, soto, dan gulai kambing. Barusan, Nanda menyarankan agar ditambah rawon dan pecel. Mbak Michelle suka rawon dan Mas Yan suka pecel dan peyek udang kering.


"Enak punya istri kaya Nanda itu, Yan! Meski dingin tapi menyenangkan. Aku suka lihat Nuga kaya bayi di depan Nanda." Michelle mengomentari.


Yan sepakat. Nuga harus punya pawang yang jauh lebih galak, judesnya nggak tahu tempat, dinginnya luar biasa, dan jangan lupa, Nanda sepertinya jual mahal sekali sama Nuga. Itu bagus, agar Nuga punya effort yang besar untuk menaklukkan Nanda. Nuga itu malas pada wanita gampangan, hanya wanita yang menolaknya yang akan dikejarnya. Nanda orangnya.


Di dalam, Pras punya kesempatan berbincang dekat dan tersamarkan oleh kericuhan ruangan. Sebagian tamu sudah beranjak dari duduknya untuk ke bagian samping rumah yang biasa dipakai buat garasi mobil. Tempat itu di tata sedemikian rupa, diberi kursi dan meja prasmanan, sebagai tempat untuk menyantap hidangan.


"Mas ... aku ndak enak hati loh, sama Mas Puji. Kaya lagi digelontor rasanya." Pras memerah sedikit wajahnya. "Saya ndak ada persiapan, saya pikir hanya acara silaturahmi saja. Jadi saya hanya siapkan urapan kembang turi saja, tadi."

__ADS_1


Puji Ananta tersenyum seraya menepuk pundak Pras. "Ini wujud rasa terimakasihku sama kamu, Pras. Akhirnya kita jadi besan, meski dengan banyaknya kekurangan anakku. Nuga iku duda tua, anaknya satu, eh, Nanda yang masih gadis mau dinikahi dia. Kurang bersyukur apa aku sebagai orang tuanya? Ini hanya untuk meringankan, agar apa acara resepsi nanti berjalan lancar. Sudah to, jangan dipikir."


"Mas Puji kelewatan kalau merendah. Nanda itu gadis kampung, ndak ada bagus-bagusnya. Mas Nuga orang yang cerdas dan terpandang, jadi anakku toh yang naik derajat?" Pras akhirnya mampu mencairkan kecanggungan hatinya.


"Ayo, Mas. Monggo ditiliki itu masakan ibunya Nanda. Maaf kalau ndak enak, soalnya dia ndak pandai masak." Pras menyilakan Puji menuju meja makan.


"Aku malah pengen ke dapur dan bikin sambel tempe kok. Makanan wajib Simbok dulu, yang bikin aku kangen ke sini." Puji mengajak Pras keluar menemaninya seraya bernostalgia. "Ingat toh, dulu kamu bawakan aku nasi sembunyi-sembunyi ke sawah atau kebun kopi? Bawakan ayam atau ikan ke sana kalau lihat aku makan nasi aking sama sambel tempe buatan simbok?"


Pras tertawa ingat waktu itu. "Mas jangan diingat waktu itu. Aku kok jadi malu, yo."


"Itu kenangan, Pras. Wajib banget diingat, biar kita bisa terus bersyukur." Puji tersenyum ke arah Pras. "Oh, ya ... dua bulan lagi, aku sama ibunya Nuga mau umroh. Kamu ikut sekalian, yo ... ajak istri kamu. Nanti persyaratannya kamu siapkan, biar aku urus nanti."


Pras sampai berhenti mendengar ajakan Puji. Seolah umroh semudah pergi ke seberang jembatan. Di sini, umroh bisa menyentuh angka 40 jutaan, apa di sana bisa lebih murah? Pras bukan tidak mampu, tapi belum ada kesempatan. Selain ada saja acara, Ibunya belum siap berangkat. Kalau ditinggal, pasti ngomel terus, apalagi tidak ada temannya di rumah.


Puji mengerutkan kening. "Mikir opo? Wes, ayo budal! Kalau soal Bu Padma, nanti bisa ikut atau ditinggal di rumahku. Kan ada Nanda yang jagain. Biar healing kita menambah pahala, daripada nambah dosa ... mending umroh, kan?"


"Tapi Mas—"


"Wes! Pokoke budal! Ndak ada tapi-tapian!" Puji menarik pundak Pras dan membawanya keluar. "Kamu udah kaya adikku sendiri, Pras. Jadi jangan sungkan sama mas e dewe. Siapkan persyaratan, nanti aku bawa sekalian pas pulang. Abis ini aku mau ke makam Simbok dan Bapak. Udah tahunan aku ndak kesana. Kangen sama mereka aku."


Pras diam. Mungkin seharusnya dia mendengarkan Lestari. Bukan apa-apa, dia malu setengah mati setelah apa yang dilakukan Ibunya dulu pada Puji.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2