
Sebenarnya, Nuga tidak punya pekerjaan yang mendesak di kafe, hanya karena pikirannya sedang aneh, Nuga enggan pulang ke rumah. Sesorean ini dia sedang memikirkan bagaimana meminta maaf pada Nanda.
Jujur saja, Nuga menyayangi Nanda sepeti adiknya sendiri. Kedekatan dan tingkah lucu anak itu membuat Nuga sayang dan protektif berlebihan.
"Mau kemana?" Tio bertanya saat Nuga turun seraya meraih helm full face yang biasa Nuga pakai untuk mengendarai motor besarnya.
"Jalan aja ... suntuk di sini." Nuga tadi memang memeriksa keuangan kafenya sekalian mengalokasikan sebagian pendapatan untuk menggaji dua barista dan delapan orang karyawannya. Tapi, wajah Nanda terus saja menggelayut manja di kepala pria itu.
"Nanda jalan sama siapa lagi, Ga?" Tio seakan diingatkan akan apa yang dilihatnya kemarin. "Perasaan kemarin bukan itu, deh."
Nuga mengerutkan kening, lalu meletakkan helm di atas meja bar tinggi terbuat dari kayu yang mewah. "Kamu tau Nanda pacaran?"
"Ya tau," jawab Tio sambil tertawa kecil. "Dia sering nongkrong di sini, meski sama Tasya, sih ... sering disini sejak 3 bulan ini."
"Kenapa baru bilang sekarang?" Jelas Nuga kesal. Mereka pacaran di depan matanya sendiri, bukannya ini seakan mencolok mata Nuga?
"Kamu komplotan sama dia, ya?" tuduh Nuga saat melihat Tio tertawa tanpa suara seraya menggelengkan kepala.
"Ya, bukan sih ... tapi aku biarkan aja. Toh mereka disini, aku mengawasi. Mereka hanya bahas skripsi sampai malem. Nggak kemana-mana." Tio bingung harus bagaimana mengatakannya. Dari kelihatannya, Nuga sedikit cemburu dan merasa dicurangi.
"Lagian apa masalahnya, sih, Ga? Biar aja lah, mereka pacaran selagi masih muda." Tio akhirnya mencetuskan apa yang ingin dia sampaikan selama ini pada Nuga. Kasihan sekali anak itu, sebab sejak ada disini, tampaknya selain Tasya, hanya Axcel saja yang menjadi teman dekat Nanda. Harusnya, Nuga bisa melihat beban di mata polos yang selama ini coba Nanda tutupi.
Nuga mendengus seraya membuang muka ke samping. Tangannya menepuk meja sedikit keras. Semua orang mendukung Nanda pacaran, dia secara tidak langsung dituduh tidak mendukung keinginan Nanda yang satu itu.
"Dia akan dinikahkan sama pria yang jadi pilihan keluarga Bapaknya Nanda. Ngerti nggak artinya apa kalau dia pacaran sama orang lain sementara calon suaminya bengong di rumah nungguin? Pertama kasihan sama calon suaminya, kedua kasihan sama pacarnya. Si Nanda jatuhnya jadi gadis kurang ajar yang memainkan perasaan dua pria sekaligus." Nuga menjelaskan dengan detail. Seakan dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada Nanda selanjutnya.
__ADS_1
"Serius?!" Tio sampai mendekat ke depan Nuga. "Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin? Kalau tau kan, aku bisa peringatkan dia!"
"Aku juga baru tahu, kemarin dari Ibuk. Bahkan Ibuk siap-siap pulang, katanya setelah wisuda ini, acara itu berlangsung. Besok dia mau lamaran." Nuga mencibir Tio yang dianggapnya ketinggalan info. Mana sok-sokan mau mengingatkan lagi! Cih, siapa tadi yang bilang mau membiarkan Nanda pacaran?
Nuga tidak mungkin melarang atau melakukan sesuatu tanpa alasan. Pasti ada alasan, meski alasan yang terakhir ini dia baru banget tahunya.
"Wah ... bahaya kalau gitu." Tio bergumam, "Masa sih, Ga, Nanda mau-mau aja dinikahkan? Apa dia nggak mikir gimana perasaan Axcel nanti?"
"Bodo amatlah, itu kan maunya dia. Mau nyakitin, mau enggak ya terserah saja. Mau dia nanti kesusahan, atau enggak, bukan urusanku." Nuga meletakkan kembali helm nya ke dalam laci penyimpanan khusus, mengambil kunci mobil.
Dia tidak jadi menemui Nanda, tetapi aka langsung pulang. Hima akan sedih ingat Nda-nya terus.
***
Nanda sampai rumah malam hari jam sembilan. Diwa tersenyum senang saat membawa tas Nanda yang berat dan penuh.
Pintu di pagar dibuka, tampak tiga mobil mewah berjajar di sebelah rumah yang sedikit tersembunyi. Garasi tidak muat untuk menampung mobil-mobil kakak-kakak Nanda yang pasti datang untuk merayakan hari spesial itu.
"Kamu nggak kasih tau orang rumah kalau Kamu pulang?!" Diwa heran dengan tak ada sambutan untuk Nanda saat mereka melintasi halaman yang cukup luas ini.
"Kasih, Mas ... Mungkin pada sibuk karena anak-anak kakak-kakaku juga pasti ikut kesini dan bikin Ibuk repot sendirian." Nanda mencapai ujung halaman dan melepas sepatunya.
Tangan Nanda membuka pintu depan dengan pelan. Terdengar suara keributan dari ruang tengah, diselingi suara riuh tawa anak-anak.
"Pokoknya, kalau Nanda ndak pulang, besok dia bakal Ibuk nikahkan!"
__ADS_1
Langkah Nanda terhenti. Matanya kembali panas.
"Jadi apa toh bocah itu, ha? Kaya Yuna? Kaya Saras? Kaya Dani? Kuliahnya Nanda itu hanya buang-buang uang! Bukan e dari kecil Nanda iku wes kelihatan kalau ndak bisa jadi pegawai manapun? Ndak ingat opo apa yang dikatakan Dukun Darni, kalau jodoh Nanda itu sudah lahir. Jadi buat apa nunggu empat tahun kalau hanya jadi guru teka kaya gitu?"
Nanda mundur. Tasnya terjatuh dari genggamnya. Air mata gadis itu sudah membanjir dan tampak sekali di mata Diwa.
Diwa menghela napas, sebelum menyusul Nanda keluar rumah. Jadi ini alasan kenapa Nanda selalu menjaga jarak dari kakak-kakaknya. Nanda merasa rendah diri.
"Nda!" panggil Diwa yang melihat Nanda berjalan menyusuri jalanan desa yang sepi dan sebagian besar gelap. Lampu jalan banyak yang rusak dan tidak diperbaiki lagi.
Langkah panjang Diwa berhasil menyusul Nanda. "Mau kemana?"
Diwa menahan tangan Nanda hingga tubuh lemas itu terpelanting ringan menghadapnya. "Nda ... kita bisa lewati ini sama-sama."
Pria dengan tangan panjang dan jari-jari kasar itu memerlukan Nanda erat. "Bisakah kita mulai semuanya dari awal. Kita jujur dengan perasaan masing-masing dan mencoba cari jalan tengah paling baik untuk hubungan kita."
Perlahan Nanda melepaskannya, lalu menuduk semakin dalam. Sekarang waktu yang pas untuk mengakui apa yang dia rasakan selama ini. "Mas ... aku sebenarnya tidak pernah memiliki perasaan apapun sama Mas Diwa, selain rasa sayang adik pada kakaknya."
Ini menyakiti hati Diwa. Sungguh ... Tapi bibirnya tersenyum seakan menyembunyikan luka hatinya yang menganga.
"Kalau begitu ...."
*
*
__ADS_1
*