Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
76


__ADS_3

"Hima ... Nda pulang agak terlambat hari ini. Tolong bilang sama Uti, ya." Sopir baru tengah menjemput Hima siang ini, " jangan nakal ya, selama Nda belum pulang."


Hima merasa kecewa sebab dia belum puas melepas rindu dengan Nda-nya, tetapi dia tahu kalau tidak boleh egois, sehingga dia mengangguk pelan. "Nda jangan lama-lama ya, Hima masih kangen."


Di kecupnya pipi Nanda dengan lembut oleh Hima. "Bye, Nda!"


Nanda berdiri saat Cica melambaikan tangan pada Nanda. "Jangan lupa, sore nanti kita rujakan. Siapa tau bayinya pengen makan yang asem-asem."


Suara Cica terlalu keras sehingga, Macan Ternak memperhatikan Nanda. Barisan wanita pengantar anak itu kemudian saling berbisik, seraya melirik Nanda.


Nanda kesal dibuatnya. "Ish, Mbak Cica mulutnya!"


Bergegas Nanda kembali ke kantor, menunggu beberapa saat bersama guru yang lain sebelum pulang bersama-sama setengah jam kemudian.


Nanda mengirimi pesan Nuga agar menjemputnya. Pikirnya, dia sudah mengkondisikan Hima, jadi siang ini, dia milik Nuga. Entah mengapa rasanya dia jadi rebutan orang di rumah.


[Aku di depan]


Mata Nanda membeliak seketika saat membaca WA Nuga. "Gercep banget kalau urusan ranjang ini duda tua," gumam Nanda.


Bu Hartati dan guru lain yang berjalan di depan Nanda menoleh sedikit ke arah Nanda sebab mendengar gumaman Nanda.


"Sudah dijemput, to, Mbak Nanda?" Bu Hartati yang paling bisa memancing agar seseorang buka suara bertanya keras-keras, membuat Nanda langsung mengangkat wajah menatap Kepala sekolah cantik itu.


"Iya, Bu." Nanda tersenyum kecil.


"Pak Nuga atau pacar?" goda seorang guru bernama Fitri.


"Om Nuga, Bu." Nanda menjawab malu-malu.

__ADS_1


Empat guru yang berjalan di depan Nanda ini langsung saling pandang dan melempar senyum penuh arti.


"Sopir pribadi, ya, sekarang Pak Nuga itu, Mbak?" sindir Bu Fitri yang menangkap gelagat tak biasa rekan guru ini.


Nanda paham sekarang. Duda tua itu masih jadi idaman baik guru di sini maupun barisan Macan Ternak yang gemar meneriaki Nuga jika pria itu ke sekolah dulu, ternyata.


"Kebetulan Om Nuga baru pulang dari kampus, saya diajak bareng." Nanda secepat kilat berkilah. "Saya duluan, Ibu-ibu ... selamat siang."


Ke empat guru itu harusnya berbelok ke arah kendaraan mereka di parkir, bukan mengawasi kepergian Nanda dengan terus berbisik-bisik.


Sialnya, Nuga menunggu di luar mobil, tepat di depan gerbang sekolah, yang membuat Ibu-ibu itu melihat dengan jelas, Nuga mengulurkan tangan untuk membantu Nanda naik ke mobil.


"Kan, Bu ... mereka itu punya hubungan spesial." Bu Fitri mengompori dengan suara vokalnya yang luar biasa fasih. Gestur dan nada bicaranya khas sekali, sampai dia disebut ratu gosip.


"Wajarlah, Bu ... Nanda itu udah lama tinggal di rumah Pak Nuga." Bu Widia menjawab. Tidak ada yang aneh, sebenarnya, sampai ketika di dalam mobil, terlihat bayangan Nuga membungkuk ke arah Nanda.


"Nah, itu apa?" Bu Fitri membeliak.


"Tapi kan bisa sendiri, Bu seharusnya. Kok mereka manis sekali ya interaksinya. Kaya Pak Nuga sayang banget sama Nanda." Bu Fitri kukuh pada dugaannya.


"Sebaiknya, kalau Bu Fitri suka, bilang langsung sama Pak Nuga. Saya jadi kasihan sama Nanda yang menerima kebencian dari Ibu tanpa tahu salahnya apa!" Bu Widia langsung mensmash Bu Fitri, agar tidak terus membuat suasana ruang guru menjadi tidak nyaman.


Wanita berusia 36 tahun itu merengut. Iya, sih... Nanda nggak salah, tapi... jangan dekat-dekat banget dong, sama pria pujaan hatinya.


Bu Hartati sebenarnya mendengar gumaman Nanda dengan jelas, tetapi dia tidak mengatakan di depan Bu Widia agar dua guru yang sama-sama suka sama Nuga itu tidak ribut.


"Ayo, balik ... suami saya udah jemput." Bu Hartati melangkah lebih dulu meninggalkan mereka, menuju suaminya yang sudah duduk diatas motor.


Sementara di jalan, Nuga membawa mobilnya menuju ke kafe. Dan ini membuat Nanda heran.

__ADS_1


"Kok ke kafe, Om? Aku nggak mau ya, main disana?" protes Nanda keras-keras seraya melongok ke depan.


Nuga mengerutkan alisnya. "Main?"


"Loh, katanya udah booking hotel? Gimana sih?" Nanda bingung bercampur kesal. Ini Nuga bagaimana sebenarnya? Tau begini kan, dia tidak perlu berdebar-debar saat melihat Nuga yang tampak keren tadi kan? Pikirnya, demi kembali bercinta, Nuga bersikap manis sampai menunggunya di depan mobil.


Nuga kali ini terlalu terkejut. Booking hotel? Kan, maksudnya pas pulang kampung nanti, bukan sekarang. Dia ke kafe mau makan siang bareng Nanda, lalu kembali ke kampus lagi. Dia booking hotelnya, di sebuah hotel yang ada di kota Nanda sana. Bukan sekarang.


"Mending aku pulang kalau gini, Om, kesian Hima udah aku suruh pulang duluan. Mana dia terlihat masih belum puas lagi melepas kangen sama aku." Nanda menjatuhkan diri dengan kesal ke sandaran kursi.


"Aku udah mengkondisikan Hima dengan bohongi dia, dan bilang kalau masih ada kerjaan di sekolah, tadi. Demi ikutin maunya Om!"


Nuga tertawa. Tapi bolehlah, ini kesempatan juga. Check in dekat-dekat sini juga bisa. Short time selama sejam, bisalah.


"Sabar, dong. Ini masih mau isi bensin dulu." Nuga berkilah. "Udah nggak sabar ya, istriku ini."


Tangan Nuga terulur untuk mengacak rambut Nanda. Dia tertawa senang. Astaga. Kesabarannya sepagian ini berbuah manis sekali. Banyak-banyak salah paham lah, Nda ... biar jadi berkah buat pria kecanduan macam dirinya.


Nuga benar-benar belok ke pom bensin, lalu dia memutar kemudi ke sebuah hotel yang tak jauh dari lokasi mereka. Hotel ini bukan hotel berbintang, tetapi Nuga pernah ke sana saat seminar. Kamarnya bisa memilih yang berada di bagian belakang, yang cukup jauh di belakang dan privat. Udara dan suasananya cukup sejuk dengan pohon dan kolam kecil mengelilingi. Hanya saja mereka harus mengendalikan suara. Takut kamar itu tidak kedap suara.


"Satu jam kedepan, kamu nggak bisa minta aku buat berhenti." Nuga langsung memeluk Nanda yang hendak berjalan ke sebidang jendela kaca yang di bingkai gorden berwarna krem.


Nanda memekik saat Nuga to the point meremas dadanya, dan mencium tengkuknya.


Astaga, dia benar-benar jadi bubur siang ini!


"I love you, Baby."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2