
Sabtu yang dijanjikan telah tiba. Nanda pagi sekali sudah rapi. Dua hari ini, dirinya merasa telah sembuh dari semua sakit yang menderanya. Tadi dia sudah bicara dengan Nuga, meski alasannya adalah ingin membeli sesuatu.
Janji bertemu Yessa jam 10 pagi, sebab wanita itu di sana memang ingin bertemu rekan kerja.
"Beli apa sih, Nda?" Nur penasaran. Dia memang menguping dua majikannya ini yang tampaknya belum berhasil membobol gawang. Hanya saja setelah kejadian hari itu, Nuga dan Nanda sedikit lebih akur.
"Skin care," jawab Nanda enteng seraya menyuapkan bubur ayam ke dalam mulutnya.
"Sok-sokan skinker ... bilang aja beli sabun muka!" Nur mengejek. Tak ada yang Nur tidak tahu tentang Nanda, yang memang tidak bisa bergonta-ganti produk untuk urusan wajah.
Kalau Nur sudah berkata begitu, Nanda hanya harus mencari alasan lain, atau jujur.
"Pokoknya mau beli barang-barang lah, Mbak ... sama mau ambil laptop yang dipakai Tasya dan baju di kos ku."
"Mbak Tasya kemana emang? Kok dia belum kemari sejak kamu balik ke sini?" Nur yang sedari tadi mengemas bekas sarapan sedikit merasa heran, sebab Tasya yang dari awal begitu khawatir pada Nanda sampai sekarang belum berkunjung.
"Dia pulang kampung abis wisuda kemarin dan belum balik kemari lagi." Dia menyuapkan satu sendok bubur terakhir. "Dah, ya, Mbak ... aku siap-siap dulu."
Nanda sedikit berlari ke lantai atas untuk menemui Nuga dan mengambil ponsel yang masih di charger.
"Om, aku berangkat dulu, ya ...." Melihat Nuga sudah rapi dan tampaknya siap pergi ke sebuah pertemuan, Nanda menyeletuk begitu saja. Berlari ke arah meja dan memasukkan ponsel ke dalam tas yang biasa dia bawa kemana-mana.
"Mau cash atau kartu?"
Nanda menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Nuga yang sibuk membuka dompetnya.
"Aku masih ada uang," dalihnya yang tak mau menyusahkan Nuga.
"Simpan uang mu, dan pakai ini!" Nuga mengulurkan sebuah kartu debit, yang mana berisi gajinya dari mengajar. "Ini nafkah pertama dariku."
Nanda merasa kata-kata itu membuatnya geli. Pasalnya, dia masih asing dengan status barunya dihadapan pria yang biasa diajaknya berdebat ini.
Percaya atau tidak, Nanda sudah tahu pinnya bahkan sebelum mereka menjadi suami istri seperti sekarang. Saldo terakhir saat dia memakai uang di kartu tersebut, dia masih mengingatnya.
"Kenapa? Kurang?" Nuga menarik lagi kartu tersebut, berniat menggantinya dengan kartu yang lain, yang isinya lebih banyak pastinya.
__ADS_1
"Nggak—bukan itu," sahut Nanda seraya menggeleng. Dia sungkan saja.
"Hanya ... merasa belum pantas aja menerima—nafkah."
Nuga merasa lucu. "Setelah akad, kamu udah jadi tanggung jawabku. Ini pantas—jadi pilih yang mana?"
Bibir Nanda menipis hingga menyisakan sebentuk garis. Matanya lekat menatap Nuga. Dia malu telah berbohong untuk keperluannya kali ini. Tapi kalau jujur, pasti dilarang sebab ini berkaitan dengan Arum dan hubungannya dengan Nuga.
Nanda bukan bodoh sampai tidak paham kenapa mereka tidak direstui. Cerita Nuga malam itu juga yang mendorong Nanda tak sabar bertemu Yessa. Dia berjanji akan memberi tahu semua soal Hima.
"Yang itu saja, Om." Nanda menunjuk kartu yang biasa dia pakai jika keluar dengan Hima. Setidaknya saldonya masih manusiawi. Yang lain—Nanda tahu semua kartu Nuga termasuk kartu yang luar biasa.
"Berangkatnya barengan saja." Pria itu mengambil tas ransel, memandangnya di pundak, lalu meraih lengan Nanda. "Sekalian pacaran."
Nanda melongo. Nuga punya sisi seperti itu juga? Kemarin sifatnya yang ini ngumpet dimana?
Nuga menahan senyum saat dia—untuk pertama kali menyela jemari seorang gadis setelah menciumnya lebih dulu, eh, maksudnya setelah 5 tahun menduda. Fix ... dia merasakan jatuh cinta.
Kepala pria itu menoleh, lalu berkata sedikit sok. "Sama pacar kamu nggak gini setiap waktu kan?"
Dicurinya sebuah ciuman dari bibir Nanda yang sedang mendongak—bingung menghadapi serangan Nuga yang mendadak ini. "Kayaknya, aku yang menang di tantangan yang kamu berikan ... Nda."
Sekali lagi, dikecupnya bibir Nanda yang memiliki rasa seperti ceri. Merasa aman, Nuga menunduk semakin dalam agar bisa mencium istri mudanya lebih dalam.
Nanda memang awam akan perasaan intens dan dalam seperti ini. Seakan dia melibatkan jiwa dan raga menerima semua sentuhan Nuga. Ya, memang dia masih perawan bahkan bibirnya sekalipun.
Dia yang selama ini menuduhnya macam-macam, dia juga yang menodainya. Memberinya kesan pertama yang membingungkan.
Jika ada kata ganti maaf yang bisa dilakukan tanpa diucapkan, Nuga ingin menggunakannya di kesempatan ini.
Dia berdosa telah membuat hati gadis ini sakit dan terluka. Sepenuhnya dia paham kenapa Nanda marah waktu itu. Dan semua yang direncanakan Nanda gagal karena ulahnya.
Nanda mendorong dada Nuga yang kini seolah ingin memakannya melalui ciuman itu. Jemari Nuga membelai rambutnya hingga membuat Nanda merapatkan kakinya. Nanda paham kemana arah semua ini, hanya ... dia—mereka berdua buru-buru.
Napas Nuga terengah, ciumannya memburu. Memaksa Nanda meronta agar Nuga yang menguasainya segera sadar akan tindakannya.
__ADS_1
"Om—mmh ...!"
Nuga kesetanan mungkin, matanya sedikit berkabut dan emosional. Untuk semua yang berada di masa lalunya, untuk semua kesalahannya, dia ingin melupakan.
"Stop, Om—mmh!" Nanda menarik dirinya kuat-kuat. Dia takut. "Stop ...!"
Astaga ...!
Nuga seperti terbangun saat melihat Nanda yang pucat. "Maaf—Nda ...."
Nanda menggeleng. Kedua mata gadis itu menatapnya penuh tanya. "Om sedang nggak baik-baik saja. Dan ... kita buru-buru."
Ketegangan Nuga lenyap seketika, berganti lega yang berakhir dengan sebuah senyuman kecil dibibirnya.
"Ayo, Om ... aku mau ambil laptop dan baju di kos lebih dulu." Nanda merangkul lengaj Nuga dan menyeretnya keluar rumah. Duh, dia bisa terlambat ketemuan sama Yessa kalau begini ceritanya.
Dia menahan tangan Nanda, lalu mencium kepala gadis itu dua kali di puncaknya. "Maaf, Ya, Nda."
Nanda hanya tersenyum, dia tidak tau bagaimana menanggapi. Terkesan murahan kalau dikatakan menikmati, terlalu munafik jika dia menolak pengalaman yang hanya bisa dilihatnya di layar drama.
Nanda mengendikkan bahu, lalu menyeret pria itu dengan suara ketus menyertai. "Om telat nanti—ayo!"
Dasar Nanda ....
*
*
*
Bentar mau urus cucian dulu, tar abis ini, ada Nayra. Om Nuga malam nanti lagi, ya ... wkwkwk. Pengen ML cepet-cepet, ya?🤭
Pengen adegannya detil, ya? Wkwkwk, aku sih, bisa tapi dosa ditanggung bersama, ya😂😂😂
Papay😘
__ADS_1