Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
75


__ADS_3

Nuga hanya bisa pasrah saat Nanda sejak semalam dikuasai anaknya, bahkan dengan kejam, Hima mengusir dirinya dan Cica yang membujuk agar Nanda tidur di kamar sang ayah. Nuga tidak tahu kalau Hima pulang kemarin itu, jadi dia tidak punya persiapan sama sekali.


Di meja makan, dia merengut dan makan dalam diam. Bu Hapsari dan Pak Puji saling senggol melihat kelakuan anaknya.


"Kenapa Ga?" Bu Hapsari bertanya setelah merasa kesal melihat wajah bersungut anak bungsunya. "Masakan Ibuk ndak enak opo?"


Nuga tidak menjawab. Tetapi dia mengambil air putih dan menenggaknya kasar.


"Kamu hanya mau masakan Nanda?" Hapsari mengulangi. Kemarin, masakan Nanda dilahap habis tanpa sisa oleh Nuga. Sekarang, masakan juga masih sama, tetapi Nuga terlihat tak berselera.


"Mau Ibuk panggilkan Nanda?"


"Biar aku sendiri yang bangunkan dia." Nuga berdiri dan langsung meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apapun.


Pak Puji dan Bu Hapsari saling pandang.


"Udah diubun-ubun tapi ndak kesampaian kayaknya." Pak Puji menjawab kebingungan istrinya dengan santai. "Ditambah Hima ndak mau pisah sama Nda-nya, anak kamu pasti kesel. Kaya kamu kalau ndak keturutan maunya, pasti ngambek."


Bu Hapsari mencebik. "Kan Bapak yang buat Ibuk jadi begitu."


"Dasarnya aja wanita itu suka malu-malu pas awal nikah, lama-lama ketahuan siapa yang paling doyan, kan?" Pak Puji terkekeh.


Bu Hapsari lagi-lagi berdecak. "Itu ndak benar!"


Kemudian dia berpikir sejenak. "Tapi apa Nanda nanti juga bakal doyan, ya, Pak? Bocah lugu itu nanti jadi—"


"Kaya Ibuk?"


"Ish ... bukan! Tapi Nuga kayaknya keterlaluan deh sama Nanda." Bu Hapsari khawatir. "Kalau digenjot terus, kita ndak bakal segera punya cucu Pak."


"Biar saja dia nikmati dulu masa pacaran mereka, Buk ... Nuga pasti menahan diri selama ini. Jangan minta cucu terus, mereka itu bukan pabrik cucu. Biarkan mereka saling mendukung dan berkembang. Bapak bakal seneng kalau Nanda bisa sukses ditangan Nuga." Pak Puji memilih menyeruput kopi, yang sejak tadi gagal diminumnya sebab Bu Hapsari terus mengajaknya ngobrol. Kalau tidak begitu, Bu Hapsari akan terus mendebatnya.


"Dari dulu, motivasi Bapak jodohin anak kita sama anaknya Prasetyo itu kan hanya karena ingin menunjukkan kemampuan Bapak yang sekarang kan?" Hapsari mencibir. "Sudah tinggal di luar negeri juga, pikirannya masih saja ndeso."

__ADS_1


"Ini soal harga diri, Buk." Puji menarik napas panjang. "Biar semua tahu kalau orang miskin yang dulu mereka hina, kini pantas berdampingan dengan anak atau cucu mereka. Dunia ini berputar, ndak pantas manusia menilai orang lain dari kekayaan saja. Keluarga Nanda wajib diberi bukti yang nyata sehingga mata mereka terbuka. Aku kasihan sama Pras dan Nanda sebenarnya."


Bu Hapsari menggelengkan kepala seraya membuang napas keras-keras. "Untung anaknya Prasetyo yang ini cantik dan baik hati, kalau enggak, Ibuk pasti ndak bisa sepakat sama keinginan Bapak ini."


"Dari dulu, Bapak kan maunya si Nanda. Bukan Yuna. Yuna itu usulan Ibuk, kan?" Pak Puji melirik istrinya setengah menyudutkan.


"Ya, Ibuk pikir Yuna sudah jauh lebih besar, Nuga juga waktu itu udah mau selesai kuliah dan kembali dari Australi, jadi apa salahnya mereka kita nikah kan saja?"


"Artinya, jodoh ndak bisa dipaksakan! Nuga dan Nanda sebenarnya bisa saja ndak berjodoh meski sudah Bapak dekatkan empat tahun lamanya. Tapi buktinya, naluri Nuga bekerja dengan baik, kan?" Pak Puji mengendik puas menghadap sang istri.


"Nuga tau siapa yang pantas menjadi pendampingnya." Pak Puji melanjutkan.


"Yah ... Ibuk bisa apa kalau Nuga nikah sendiri, melangkah sendiri seperti sekarang? Asal Nuga bahagia, Ibuk ndak masalah."


Bertepatan dengan ucapan Hapsari terlontar, Hima turun bersama Cica. Gadis kecil itu menyapa kedua orang yang dianggap keluarga kandungnya itu dengan riang.


"Uti ... Yang Kung!" Hima langsung melompat ke pelukan Pak Puji tanpa sungkan. Cica langsung membungkuk saat melewati meja makan dan berlalu ke dapur menyusul Nur sebelum berangkat mengantar Hima.


Pria itu mengangguk setuju. Bibirnya tersenyum. "Boleh ... asal makannya cepet dan banyak."


Bu Hapsari mengusap rambut Hima seraya melirik suaminya. "Uti ambilkan ya, Sayang."


Hima mengangguk menjawab kakek neneknya. Akhirnya, hari ini tiba juga. Hari dimana seorang kakek menerima takdir putranya. Hima tidak salah, Arum juga korban. Mungkin Nuga ditakdirkan menjadi penyelamat, meski caranya begitu menyakitkan.


"Nda kemana, Sayang? Bukannya sekarang harusnya Nda ikut sarapan? Ini sudah siang, loh?" Hapsari bertanya sembari mengambilkan Hima nasi merah dan telur orak arik. Sekilas dia melirik ke ujung ruang makan. Berharap Nanda muncul disana.


"Tadi masih bicara sama Ayah. Katanya ada urusan penting."


Hapsari dan Puji langsung menghela napas. Dalam hati beristigfar. Ya Allah, Nuga ... kok ndak eling waktu!


Padahal, Nuga malah sedang menghindari melakukan kontak fisik dengan Nanda hari ini. Hari ini dia mengajar dari pagi, dan Nanda bisa jadi pengacau yang membuatnya tidak bisa berhenti.


Yang ada, ketika Nuga naik ke kamar, ponsel Nanda berdering. Nuga mengambil dan menjawab panggilan yang ternyata dari bapaknya Nanda. Mertuanya itu mengabari kalau Rachel dan ibu mertuanya di opname bersamaan.

__ADS_1


Pras hanya mengabari, tidak mengharuskan Nanda pulang. Semua bisa teratasi olehnya sendiri.


"Sudah urus izin?" Nuga bersedekap menghadapi Nanda yang sedang merapikan pakaian. Sebenarnya, Nanda sudah rapi tadi, tetapi Nuga meminta Nanda berganti pakaian yang tidak terlalu ketat. Terlebih di bagian dada dan pantat. Nanda terlalu berbahaya di sana.


Nanda membalas tatapan Nuga dari cermin. "Bu Hartati kemarin nggak masuk, Om! Nanti kalau beliau masuk, aku akan izin."


Setelah pakaiannya dirasa sudah benar, Nanda berbalik. Menatap Nuga kesal. "Besok, aku pakai daster atau sarung aja ke sekolah!"


"Sudah nikah itu dijaga tubuhnya, jangan sampai orang bernafsù melihat kamu!" Sungguh, pakaian itu kemarin-kemarin terlihat longgar, entah sejak kapan rasanya Nanda sedikit lebih besar.


"Itu pikiran kotor Om saja! Orang lain biasa saja kok! lagian di sekolah adanya macan bukan buaya." Nanda mengambil tas dengan gerakan kasar. "Nggak semua orang punya mata dan pikiran sekotor Om!"


Nuga menghadang Nanda dengan tubuhnya yang tinggi dan menelan tubuh Nanda.


"Udah siang, Om ... jangan bercanda deh."


"Pas pulang nanti, aku udah booking hotel." Nuga menatap Nanda. "Pastikan Hima nggak ganggu honeymoon kita."


Nanda mendongak. "Ganggu gimana? Dia anak Om ya, kenapa ngancamnya ke aku?"


Kok jadi gini, sih?


"Dia hanya nurut sama kamu! Jadi kondisikan dia sebaik mungkin, atau—"


"Dasar preman! Sukanya ngancam!" Nanda enggan meladeni Nuga. Kenapa sih, orang dewasa hanya itu mulu yang dipikirkan?


Sebagai bentuk ketidaktakutannya pada semua ancaman Nuga, Nanda menabrak tubuh pria itu. Memberi Nuga tatapan penuh kekesalan dan jengkel, sebelum dia meninggalkan kamar. Dasar orang tua!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2