
"Ini sebabnya, Ibuk didik anak-anak dengan tegas, Pras! Lihaten Bagas ... Dika! Biar mereka laki-laki, tapi mereka nurut, patuh, sayang sama orang tua ... lah, ini si Yuna, kok perasaan dari awal sampai hari ini, adanya hanya nyusahin kamu sama Ibuk e! Kok Ibuk mangkel lihat kamu sama Lestari main iya in aja apa mau dia!"
Siang itu, Pras duduk di sebelah Lestari yang tidur dengan posisi duduk di sofa. Di atas dada istrinya, bergelung gadis kecil yang sesekali masih terisak.
Pras mengusap punggung Rachel lembut dengan tangan lain menggenggam tangan istrinya. Belum lama, dia membujuk Rachel agar sebentar saja mau digendongnya. Tapi karena memang hanya dengan Lestari lengketnya, Rachel malah menjerit histeris ketika berjauhan dari neneknya.
Semakin buruk keadaan bersamaan dengan datangnya sang ibu yang mengantarkan makanan untuknya hari ini. Yang Ti melihat betapa susahnya membuat Rachel mengerti keadaan sang nenek, hingga membuat wanita itu gemas dan membentak Rachel. Anak kecil yang belum genap 3 tahun itu diam, kemudian tidur dengan memendam ketakutan.
Sekarang, giliran seorang Prasetyo diomeli. Bahkan dia yang anak sendiri, masih saja salah, apalagi Lestari. Pasti semua salah di mata Yang Ti.
"Udah dikasih tau anaknya sakit, rumah lagi repot, mbok yo buru-buru pulang. Ini malah enak-enakan di Jakarta. Ndableg banget anak kamu itu, tambeng!" imbuh Yang Ti.
Pras tidak menjawab. Setidaknya ucapan Ibunya ada yang benar. Dan sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu. Biar saja Lestari tidur lelap hari ini. Selain itu, panas Rachel sudah turun setelah diberi suntikan penurun panas.
Yang Ti Padmasari melirik Pras yang sejak tadi tidak menjawab semua nasihatnya. Dia sedikit menyesal telah membentak Lestari kemarin. Dia tau mantunya itu kelelahan sejak beberapa waktu terakhir. Sebenarnya, sudah seharusnya kalau akan menikahkan anaknya, sebagai tuan rumah, Lestari harus mengatur segala sesuatunya sendiri. Tapi entah apa sebabnya, untuk acara mantu yang terakhir ini Yuna seperti sengaja membebani ibunya.
Ya, Yuna tidak terima dan memang berniat mengacaukan acara adiknya ini. Urusan cerai sebenarnya bisa nanti-nanti, toh suaminya tidak lagi peduli. Pria itu sudah tidak menghubunginya lagi, walau untuk urusan anaknya.
Yuna di sisi lain, sedang menikmati waktu berdua dengan Julian. Pria blasteran Belanda-jawa yang baru dikenalnya beberapa bulan ini. Meski usia Julian baru 25 tahun, tetapi pria itu sudah mapan dengan pekerjaannya di dunia IT.
Pesan demi pesan yang diterimanya dibaca dan dibalas. Tetapi untuk pulang, Yuna masih enggan. Julian terlalu sayang untuk ditinggalkan.
Ini kali ke berapa dia membaca pesan dari bapaknya. Dan Yuna hanya berdecak seraya melemparkan ponselnya begitu saja.
"Paling juga demam biasa."
Julian mendengarnya, dan pria yang sejak tadi fokus pada laptop itu menoleh. "Aku bisa antar kamu pulang, Sayang. Sekalian aku pengen ketemu orang tua kamu."
Seserius itu Julian pada Yuna. Tapi Yuna enggan. Bukan tidak mau, tapi dia enggan serius berumahtangga lagi. Rumah tangga membuatnya trauma. Menyakitkan dan mengekang.
__ADS_1
"Anak kamu sakit, mungkin rindu sama kamu." Julian akhirnya bangkit saat melihat ekspresi Yuna yang terlihat enggan. Malas membahas soal ini.
"Dia hanya rindu sama bapaknya yang breng sek itu!" Suasana hati Yuna buruk seketika. Membahas mantan suaminya itu rasanya hanya menyakiti hatinya saja.
"Kayaknya kalian perlu ngomong berdua. Nggak pake emosi." Julian duduk di depan Yuna yang hanya memakai tanktop putih dan hot pants. "Aku tau kalian masih saling cinta."
Yuna menatap Julian tidak suka. "Cinta bagiku udah mati, percuma apa-apa pake cinta tapi ujungnya hanya nyakiti! Nggak pake cinta kayaknya malah lebih baik."
Julian terkekeh. "Aku ke kamu pake cinta, walau aku tau hati kamu terbang ke mantan kamu terus. Cinta kamu udah dibawa dia, mungkin selamanya."
Yuna menatap tajam Julian. Pria muda itu tau apa soal cinta. "Kau bilang, kita hanya mencari hiburan, kok baper akhirnya?"
"Ya, mau gimana lagi, deketin kamu susah, jadi ya ... aku nurut aja apa mau kamu. Biar cintaku ke kamu jadi urusanku. Terserah kamu mau nerima atu tidak." Julian memicingkan mata. Dia terlihat becanda, tapi hatinya ngilu bukan main. Sakit tapi Julian akan bertahan.
"Aku bilang pulang ... anak kamu butuh kamu." Julian menambahkan. "Anak itu gak tau apa-apa, keluarga kamu udah kelewat baik mau bantu kamu rawat anak kamu. Yang kaya gini, bukan cerminan wanita yang baik. Kamu boleh nakal, boleh urakan, tapi jangan sampai kamu lupakan anak kamu. Dia tanggung jawab kamu sebagai ibunya."
Yuna membuang muka. Julian ini tahu dari mana ucapan dewasa begitu? Dia masih bocah. Tau apa dia soal hatinya.
Dikecupnya kening Yuna, lalu turun ke bibir. "Aku antar ke bandara."
Yuna patuh akhirnya. Entah karena apa. Julian ini kenapa jadi pria baik banget.
Sementara itu di halaman rumah Puji Ananta, Nanda celingukan seperti maling yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Kok masih diam aja? Ayo buruan turun, aku udah telat kembali ke kampus!" Nuga melihat jam tangannya. "Anak-anak nanti kesenangan kalau aku telat masuk!"
Nanda menoleh dengan muka sebal, bibirnya berdecak. Mata wanita muda itu memberi suaminya tatapan tajam.
"Om enak banget ya, ngomong begitu! Nggak lihat rambut aku basah di jam 1 siang? Gimana kalau Ibuk sama Bapak ada di rumah? Di ruang tamu misalnya? Gimana reaksi mereka? Mau ditaruh dimana muka aku?"
__ADS_1
Nuga menahan tawa, yang langsung dibalas Nanda dengan tatapan lebih tajam.
"Lain kali kalau ngomong yang jelas. Jangan bikin jebakan kaya gini!"
"Besok aku siapkan baju ganti dan hair dryer di mobil, biar kamu nggak malu pas pulang." Nuga iba akhirnya, walau sebenarnya Nuga tidak terlalu puas siang ini sebab dia juga buru-buru, tapi ... tetap saja, Nanda membuatnya senang.
Nuga turun, lalu membantu Nanda keluar dari mobil. "Nggak apa-apa. Kamu masuk kaya biasa aja. Ibuk sama Bapak biar aku yang hadapi."
Ditariknya tangan Nanda pelan, lantas dengan lembut Nuga menggandeng Nanda masuk ke rumah.
Pak Puji dan Bu Hapsari duduk di ruang tamu, untuk melihat daftar tamu yang akan diundang sebelum disetor ke percetakan undangan. Untuk hari dan tanggal, sebenarnya sudah sama-sama disetujui, tetapi Puji berkeras untuk datang ke rumah Nanda agar kesepakatan terasa lebih meyakinkan.
Melihat Nuga dan Nanda masuk dengan bergandeng tangan, dan rambut yang basah, Bu Hapsari dan Pak Puji langsung berdehem pelan. Ada Nanda ... jika hanya Nuga, tentu dengan senang hati mereka akn menggodanya, tetapi Nanda pasti akan malu sekali.
Jadi Bu Hapsari langsung berkata keras-keras. "Lanjutkan Pak, aku mau ke kamar mandi sebentar, kayaknya cuaca hari ini panas. Ibuk mau mandi biar ndak gerah."
Wanita itu melirik sekilas, pura-pura tidak tahu kalau Nanda pulang. Lalu berlari ke kamarnya sendiri.
"Bapak iya, kok ... cepet ya, Buk! Gantian." Pak Puji menimpali. Tatapannya langsung beralih ke Nuga dan Nanda yang sedikit kaget.
"Loh, kalian udah pulang? Buruan makan sana. Nur masak banyak hari ini. Yan pulang malam ini." Pak Puji berdiri, lalu menyusul sang istri.
Nuga mendengus kesal. Dia tau, kalau kedua orang tuanya sedang berpura-pura karena Nanda. Kalau saja hanya dia sendiri pasti dengan senang hati mereka menggodanya.
Emak bapak yang aneh! Anak sendiri diolok-olok, anak orang disayang!
*
*
__ADS_1
*