
"Kamu serumah dengan Nanda cukup lama, Ga ... aku yakin kamu melakukan itu sudah lama sebelum akhirnya menikah!" Tio menatap Nanda yang sudah bergabung dengan Tasya dan yang lain.
Nanda sudah bangun saat cafe sedikit lengang. Nuga dan Tio berbicara dalam suara rendah, tetapi tak membuat panasnya obrolan mereka reda. Tio masih menolak percaya pada ucapan Nuga bahwa mereka telah menikah.
Ya, menikah setelah 4 tahun seatap bukan hal yang bisa diterima Tio begitu saja. Pasti ada pemicunya. Apalagi Nuga tak pernah mengatakan ada yang spesial diantara mereka.
"Nanda hamil? Kamu hamili Nanda?!" Tio mendesak.
Nuga menoleh saking terkejutnya. Tatapan pria itu sedikit kesal sebab Tio tak mempercayai ucapannya. Mereka bersama sejak cafe ini berdiri, jadi apa masih tidak bisa dibedakan kejujuran dan keisengannya?
Nikah bukan untuk dipermainkan di usia Nuga sekarang.
"Ngawur!" sembur Nuga. "Aku suka dia, tapi nggak buat dia kenapa-napa juga meski seatap!"
"Kapan kamu bilang suka sama Nanda? Yang ada kamu malah kesal dan marah terus pada Nanda! Mulai dari larangan pacaran sam ... pai ...."
Tio tak berhasil menyelesaikan ucapannya. Dia akhirnya sampai pada pemikiran Nuga yang posesif dan protektif pada Nanda.
"Paham sekarang?!" Nuga melepas clemek dan membantingnya ke laci bawah meja. "Aku pulang!"
Tio gelagapan. "Ya, aku kaget aja, Ga! Kamu sejak kapan sih mau jujur sama perasaan kamu? Aku nggak tau kamu itu lagi suka sama seseorang atau benci ... sikap kamu sama aja! Kaku dan galak! Wajar aku tidak mengerti, kan?"
Nuga menatap Tio. "Besok nggak usah kerja! Pacaran sana sampai puas biar tau yang namanya cemburu yang bisa bikin orang melakukan hal diluar hal normal!"
Pria itu berbalik dan meninggalkan Tio yang makin tak enak hati karena terus menilai Nuga kurang ajar. "Ya ... siapa yang tahu hati seseorang jika tiap hari ngeluhnya hanya karena satu wanita kekanakan yang dititipkan dirumahnya! Kupikir tipe kamu yang kaya Mey itu, kan?!"
Nuga tak dengar semua itu, hanya Tio perlu mengatakan itu demi membuat dirinya tidak terlalu merasa bersalah dan keterlaluan. Dia menghela napas dan menggelengkan kepala. "Tapi harusnya aku paham, sih ... selain Hima, hanya Nanda yang bisa membuat Nuga khawatir berlebihan, marah berlebihan, dan tertawa meski hanya melihat gerakan Nanda saat main dengan Hima!"
Tio terkekeh. Dia bisa mengerti kenapa Nuga akhirnya jatuh cinta pada Nanda. Perasaan pada seseorang akan semakin dalam jika orang tersebut berhasil membuatmu tertawa dan lupa pada kesedihan.
Dimana Nanda baru saja bergabung, Tasya sedang mengomel pada Nanda sebab kembali terlalu lama.
__ADS_1
"Ini kerjaan buat kamu, Nda ... Aku yang undang mereka agar bisa ngobrol sama kamu!" Tasya mengoceh begitu keras di hadapan dua wanita dan satu pria yang sepertinya pemilik sanggar tari yang membutuhkan pengajar tari.
Nanda menginjak kaki Tasya agar berhenti mengoceh. Nanda malu tentu saja. Apalagi mereka bertiga hanya tertawa melihat Tasya yang terus saja mengomel.
"Aww—sakit, Bege!" Tasya melihat kakinya yang diinjak sepatu formal Nanda. "Kenapa kamu injak kaki aku, sih?!"
Nanda memutar tumitnya sehingga Tasya makin keras memekik, tetapi diabaikan oleh Nanda.
"Saya bukan orang yang anda cari, Mbak, Mas ... Saya hanya ingin menari agar bisa mengekspresikan isi hati saya yang tak bisa terungkap." Nanda merendahkan diri. "Menari membuat saya seperti hidup lagi."
"Saya tau itu dari Mbak Tasya." Pria bernama Zayn itu tersenyum. "Makanya saya kemari untuk mengobrol dengan anda. Kami ingin orang-orang yang bergabung dengan kami adalah orang yang mengerti apa itu menari! Bukan semata-mata bergerak sesuai irama musik tanpa makna."
Wanita yang paling dekat dengan Zayn mengulurkan sebendel kertas ke arah Nanda. "Mbak Nanda orang yang kami cari."
Nanda menerima itu dan gemetar. Ini kan sanggar tari yang begitu berprestasi di dunia internasional. Ya Tuhan!
"Mbak tidak harus bersama kami 24×7, hanya 4 kali seminggu selama 3 jam. Dan Mbak Nanda mengajar di kelas pemula dan anak-anak."
Nanda menaikkan wajah menghadap wanita itu.
Wanita satunya yang bernama Mella mengangguk untuk membenarkan.
"Saya akan memikirkan lagi tawaran ini!" Ya, dia memikirkan duda tua galak itu yang pasti akan melarangnya jogetan tak jelas. Andai tawaran ini datang satu jam sebelum dia dan Nuga menikah, pasti ceritanya akan beda. Haih!
***
Selepas Ashar, Nuga akhirnya menjatuhkan Nanda ke kasur dan menghujam wanita itu sesuai janjinya saat di cafe tadi.
Bagus sekali reaksi Nanda setelah ketiga kali mereka melakukannya. Jauh lebih baik meski masih malu-malu. Suara mendesah dan mengerang lirih yang sebenarnya ditahan-tahan, membuat Nanda terlihat menggemaskan.
Tangan Nanda melingkar di leher Nuga saat pria itu bergerak di atas Nanda secara intens dan keras. Sesekali dia mencium bibir mungil Nanda agar hàsratnya makin membara.
__ADS_1
Milik Nanda yang masih belum terbiasa dengan milik Nuga, membuat Nuga hampir kelepasan. Nanda mencengkeram erat, kaki kecil itu membelit pinggang secara spontan. Nuga mempercepat gerakannya, lalu menariknya keluar saat pelepasan hampir sampai.
Nuga menggeram saat dia menimpakan seluruh berat badannya ke atas Nanda, lalu mencium Nanda dengan brutal.
Nanda meronta saat napasnya yang hanya setengah-setengah itu dirampas oleh Nuga. Dia sesak dan lengket.
"Om, itunya Om ...." Nanda terengah, lalu Nuga yang sadar segera menarik dirinya jatuh ke samping. Nuga terkekeh sebab dia mengeluarkan itu di pusar Nanda dengan tekanan yang kuat. Wajar Nanda merasa kesakitan.
"Mau mandi lagi atau bobo dulu?" Nuga berbisik, menggeser jambangnya di telinga Nanda.
Nanda kembali menggeliat dan menjauhkan tubuhnya dari Nuga. Dia geli sebadan-badan.
"Aku mandi saja, tapi lima menit lagi. Aku lelah." Nanda menarik napas panjang.
"Kapan mulai masuk ke sanggar Zayn?" Nuga bertanya serta merta. Lembut dan ringan.
Nanda menoleh hingga hidungnya menyentuh ujung hidung Nuga. Mata Nanda menatap Nuga lekat. "Om denger obrolan kami tadi?"
Nuga terkekeh. "Ya ...!"
"Om ijinkan aku gabung? Aku goyang-goyang di depan orang loh?!" Nanda memperjelas. Dia ingat Nuga pernah protes sewaktu Nanda masuk sanggar tari di awal-awal dia kuliah.
"Kamu akan menari sesuai pakem yang ditetapkan, bukan goyang yang bikin orang ngiler!" Nuga menyentil kening Nanda. "Goyangnya hanya boleh di depan atau di atasku saja."
Wajah Nanda semua sumringah, kemudian memerah. Tersipu hingga Nanda berpaling, dan bangkit dari posisi nya merebah.
"Aku mandi dulu, Om ... nanti bicara lagi." Nanda kabur saking malunya, tapi Nuga menahan tangannya.
"Nggak usah mandi, aku berubah pikiran, Baby." Nuga menarik Nanda hingga jatuh diatasnya. "Biar aku audisi dulu goyanganmu!"
*
__ADS_1
*
*