
"Om!"
Teriakan itu sudah terlambat sebenarnya, Nuga bahkan menarik dirinya sebelum dia sendiri terjebak. Ya terjebak pada kenekatannya sendiri.
Belum pernah Nuga merasa ingin lenyap saja dan kehilangan kepercayaan diri sampai seperti ini. Ini sungguh membuat Nuga ingin menunduk, tetapi demi Nanda dia menebalkan muka. Kepalanya harus tetap tegak.
Mata Nanda yang melebar itu menunjukkan betapa mengejutkannya sikap Nuga bagi Nanda.
"Om jangan kurang—"
"Sekali lagi kamu bilang cerai, maka aku akan lakukan itu terus ke kamu sampai kamu nggak bisa bicara lagi!" Nuga mengecam, tidak peduli dia terlihat kejam.
Nanda jelas membangkang. Seumur hidupnya selalu di kekang, diancam, dan dipandang rendah.
Namun kali ini, entah mengapa dia hanya bisa membuang muka sebagai bentuk pembangkangan. Mulutnya terlalu lemah setelah ciuman itu terjadi. Dia sedang memulihkan tenaganya, jiwa membangkangnya yang luluh lantak karena perbuatan Nuga. Ciuman itu seolah menyerap semua kenakalan Nanda.
Tidak-tidak! Dia hanya sedang bingung menghadapi kenyataan ini. Kepalanya terlalu penuh dengan keruwetan yang dibuat Nuga, dan diawali olehnya. Andai saja, dia tetap bertahan dengan Diwa, setidaknya, dia tidak berakhir dengan Nuga!
Argh... sudahlah! Waktu gak bisa diputar mundur kaya ban mobil!
Nuga mendengus seraya berdiri. Ekor matanya sempat melirik Nanda sebentar lalu menambahkan ancaman agar semakin terkesan angker. "Jangan coba-coba untuk kabur! Di luar masih ada dokter dan perawat yang akan membuatmu tidur jauh lebih lama dari pada durasi yang tadi."
__ADS_1
Nanda yang mengepalkan tangan kuat-kuat untuk membangunkan perlawanan dalam dirinya, mendecih keras-keras. Senyum sinis keluar meremehkan ancaman Nuga. Dokter? Perawat? Kaya sekali dia? Kaya sewa begituan nggak mahal aja?
"Kamu boleh coba kalau nggak percaya, Saktia Firnanda Suci!"
Gelegar suara Nuga sekering petir di musim kemarau. Keras dan menyakitkan. Sependek pengalamannya bersama Nuga, dia tau, kalau Nuga tak pernah main-main apalagi bohong.
Nanda mendesah berat seraya menjatuhkan badan hingga kepalanya pusing ke ranjang yang cukup tua ini, tetapi masih sangat empuk. Derit ranjang besi langsung memekakkan telinga.
"Jangan berisik, sialan!" Bukan pada Nuga Nanda mengumpat, tapi pada suara ranjang tua yang merupakan bekas ranjang milik Dika. Sejak menikah, ketiga kakaknya mengganti ranjang, dan Nanda dapat yang berderit mengerikan ini, sebagai ganti kasur lantainya yang sudah menipis.
Bahkan, ibu bapaknya tidak mau memakai ranjang ini meski punya mereka jauh lebih buruk dari punya Nanda. Keras dan tipis.
Nuga menuju luar rumah, dimana dia bisa menghubungi Hima. Ya, dia disini juga karena Hima sebagian banyak, baru tujuannya sendiri, lalu ya, karena sudah mencium Nanda, motif untuk bercinta kembali ada. Padahal, Nuga sudah berusaha tidak memikirkan kebutuhannya yang satu itu.
Arum masih trauma pasca tindakan pemaksaan yang terjadi padanya untuk aborsi. Meski tidak menolak, tetapi Nuga tidak bisa leluasa dan lepas melepaskan hasrat. Dia segera berpura-pura selesai, jika melihat air mata Arum. Nuga tidak tega pada mahasiswanya tersebut.
Lama sekali panggilan Nuga terjawab. Nur berbisik saat mengatakan kalau Hima sudah tidak panas lagi dan besok minta dianter ke rumah Nda.
"Hima baru saja tidur, Pak." Nur menyudahi laporannya, lalu bergumam seakan sedang menguatkan diri. "Bapak beneran nikah sama Nanda?"
"Kata siapa?" Nuga heran, itu sudah pasti. Dia belum bilang apa-apa ke Nur soal ini.
__ADS_1
"Ibuk nelpon tadi, nanyain Hima. Lalu bilang kalau akan pulang lebih cepat agar bisa menghadiri resepsi."
"Ya?" Nuga terkejut. Harusnya Nuga sudah menduga. Ibunya memang suka pada Nanda dan bahkan sering sekali menyebut Nanda dengan sebutan mantu. Ucapan ibu itu manjur, udah terbukti. Valid, no debat.
Nuga ber'oh' pelan. "Nanti uang pengobatan Hima aku transfer ke kamu, ya, Nur. Bayarkan semuanya, dan minta dokter terbaik untuk memeriksanya."
"Njih, Pak."
Nuga tersenyum bahagia mendengar kabar melegakan ini. Setidaknya dia bisa tidur nyenyak dan tidak merasa bersalah pada Hima karena meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit.
Nuga menarik tangan di saku setelah memastikan panggilannya telah berakhir. Kepala Nuga mendongak menatap langit. Sejujurnya, dia merasa damai malam ini, entah apa alasannya.
"Obsesimu luar biasa mengerikan ya, Ga!"
Nuga memutar tubuhnya menghadap suara angkuh itu berasal. bibirnya tersenyum penuh penuh misteri.
"Selama belum ada yang memiliki, kenapa nggak boleh?" Nuga menaikkan alisnya yang tebal bersamaan. Ekspresinya mengejek. "Karena suami pilihan mu ternyata memilih wanita lain juga? Meski dia nggak selevel sama kamu?"
*
*
__ADS_1
*