Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
~Bab 69~


__ADS_3

Nuga menutup pintu perlahan, lalu menguncinya. Untuk jaga-jaga, kunci diambil dan diletakkan di saku belakang.


Menghadapi kemarahan Nanda itu urusan kecil. Nanda masih kecil, bahkan dia akan luluh dengan mudah walau hanya diberi sekotak donat, sebatang coklat, atau dibelikan boba. Ya, empat tahun Nuga mengalaminya, dan meski hanya alasan membeli hanya karena kebetulan lewat ada diskon, atau grand opening, Nanda langsung tersenyum.


Itu sebelum mereka bebas melakukan apapun, sekarang tidak perlu itu semua, Nanda hanya perlu diberi sentuhan Dark Chocho miliknya, urusan akan beres.


Pria itu melangkah mendekat. Tak ada senyum, dia berekspresi seperti yang Nanda mau, agar wanita ini tidak semakin merajuk.


"Ngapain sih, anter-anter segala, orang rumah sedekat itu? Cuma di depan situ! Om pasti mau main mata sama Bu Mey, kan? Pasti Om peluk Bu Mey pas Bu Mey nangisin Om!" Nanda mengoceh seraya menatap tajam Nuga. Dia kesal.


"Pakai acara ngobrol lama di sebelah mobil pula! Om pasti bujuk Bu Mey biar mau di antar, kan?!" sambung Nanda masih dengan nada penuh kecemburuan yang begitu kentara.


"Barang bawaan Mey banyak dan berat, jadi aku anter walau dekat. Lagian dia udah baik hati mau barengi Ibuk dan Bapak sampai rumah." Nuga mencoba meraih tangan Nanda, ingin membawa istrinya itu duduk dan bicara dengan tenang.


Walau dalam hati Nuga merasa senang melihat kekesalan Nanda ini.


Nanda mengelak dengan menggeser tubuhnya ke samping. Tatapannya masih galak dan penuh peringatan. "Oh, ya?!"


Ibuk dan Bapak apa? Dasar tukang ngibul. Duda ngibul!


Nanda makin kesal sebab Nuga malah dengan santai duduk di tepi ranjang dan menyangga tubuh dengan kedua tangan.


"Iya ... mang kamu maunya aku mesti bilang apa?" Nuga tak heran lagi. Wanita biasa bersikap begini jika merasa terkhianati walau alasan itu sungguh tidaklah benar. Kecemburuan membabi buta juga tidak baik, tapi kasus ini mengharuskan babi buta hadir agar hubungan pernikahan mereka makin dekat, dan perasaan Nanda makin jelas.


Nanda berdecak. Sudah tua masa begitu saja tidak paham?


"Om suka sama Bu Mey, kan sebenarnya?" tuduh Nanda mencecar.


"Nggak kok." Nuga mengendikkan bahu. "Dia hanya teman sekaligus tetangga. Nothing special."


"Bohong!" Nanda mencibir. "Kalian bersama terlalu lama, jauh lebih lama dari kedatangan aku ke sini! Om nggak bakal merasa kalau ada perasaan pada Bu Mey karena udah terbiasa, akhirnya lepas juga susah, makanya Om cari-cari kesempatan buat dekat sama Bu Mey lagi."

__ADS_1


"Aku hanya biasa melihat dia, bukan serumah dengan dia sama seperti serumah dengan kamu. Baik buruknya kamu, aku udah lihat, aku udah tau, kalau Mey meski aku tau, pasti banyak yang aku nggak tau." Nuga duduk dengan tegak, lalu menarik tangan Nanda tiba-tiba, hingga tubuh ramping kesukaannya mendarat di atasnya.


Nanda berdecak kesal, marah tetapi di tahan, dia sibuk meronta agar bisa berdiri kembali. Susah sekali kalau punya suami yang serba mengerti cara menangani wanita ya! Selalu saja kalah.


Nuga membiarkan Nanda lolos. Ketika Nanda memutar badannya hingga membelakangi, Nuga menarik lagi tubuh Nanda hingga duduk dipangkuan. Ini dimanfaatkan Nuga untuk memerangkap Nanda dengan kedua lengan besarnya.


"Om—apa-apaan, sih?" Nanda mencoba lepas dengan menarik tangan Nuga dari perutnya. Kedua tangan berkulit coklat gelap nan kekar, berotot, dan besar itu membelit makin kuat perutnya yang ramping tanpa lemak berlebihan. Nanda kesal melihatnya.


"Lepas, nggak—ih!" Nanda menyerah dari usaha pertamanya, sekarang dia memukul keras lengan itu tetapi sepertinya tidak berarti. Nuga malah meletakkan bibirnya di punggung, dan di bawah sana malah terasa mengganjal dan mendesak ke atas. "Lepas—"


"Hanya kamu yang bisa bikin aku lengket begini, Nda! Aku hanya melihat kamu."


Gerakan Nanda berhenti, Nuga berkata tepat di tulang belakangnya yang dengan mudah membuatnya jinak. Nanda mendengarkan Nuga di posisi ini.


"Bapak sama Ibuk pulang hari ini, dan Mey bertemu di bandara, jadi Mey barengi mereka pulang. Ibuk minta aku anter Mey sebagai ucapan terima kasih dan memang benar, aku mengatakan sesuatu pada Mey ... tapi bukan merayu, melainkan menegaskan bahwa aku sudah memiliki kamu, yang nggak akan pernah aku tukar posisinya dengan siapapun. Meski Mey sekalipun."


"Hah?!" Nanda membeliak, seraya menoleh ke arah Nuga dengan cepat. "Om kok nggak bilang kalau Pakde sama Bude pulang? Kan aku nggak bisa nyambut beliau berdua dengan baik!"


"Apa?!" Nanda kali ini berhasil berdiri tetapi Nuga menggunakan ini untuk menarik posisi lebih nyaman lalu mendudukkan kembali Nanda di pangkuan.


"Om gimana, sih? Ya pasti langsung tidurlah, coba kalau Om biarkan aku turun dan menyapa beliau, ceritanya akan lain." Nanda sesak. Nuga mendudukannya hingga kakinya yang tak seberapa ini tak bisa berpijak ke lantai.


"Mereka melewati hampir 9 jam perjalanan, wajar kalau pertama kali melihat rumah, memilih langsung tidur. Melelahkan walau naik pesawat, kan?" Nuga mengusap Nanda berlawanan arah, satu ke atas, satu ke bawah.


"Tapi Om—"


"Sudahlah ... besok saja ngobrolnya!" Dengan sigap Nuga meraih pinggang Nanda seraya merebah, hingga Nanda menduduki perutnya. Nanda terkesiap saat melihat benjolan di bawah pusat tubuh suaminya itu.


"Mau Dark Coklat, nggak?" Nuga menaikkan kepalanya dengan sebelah bibirnya terangkat naik. "Yang paling enak di kelasnya."


Nanda menoleh dan bertemu tatap dengan Nuga. "Jangan bohong, Om! Nggak mempan aku tuh sama gombalan Om yang receh itu."

__ADS_1


"Serius, Coklat asli itu!"


Nuga menaikkan alisnya, saat Nanda menghadap lagi ke kakinya. Pikirnya, pasti oleh-oleh dari Melbourne walau Nanda tidak yakin kalau Melbourne penghasil coklat asli.


Nand kembali menoleh, "Awas kalau bohong!"


Nuga sedikit kesusahan memposisikan kaki Nanda agar bisa membentuk huruf W. Nanda membungkuk dan menumpu lutut Nuga, sehingga membuat Nuga mudah menarik pinggang Nanda hingga naik ke dadanya.


"Ough!" Nanda memekik saat mencium benjolan Nuga. Matanya membeliak mencium aroma aneh di sana. Maskulin dan menggairahkàn.


Nuga tersenyum jahat. "Ayo buka, Sayang! Kamu pasti suka."


Saat berkata demikian, Nuga mengelus perut dan punggung Nanda. Dia membelai dengan ahli, menciumi Nanda dari belakang.


Sekali lagi, Nanda dipaksa belajar. Belajar menyenangkan suami tua yang gairahnyà seakan tak pernah habis. Beruntung Nanda punya napas panjang dan tenaga yang cepat pulih. Jika tidak, dua kali percintaan yang panas tak terelakkan ini, tak akan mampu dia lewati.


Sampai Nanda meminta ampun, Nuga baru berhenti.


Diciumnya kening Nanda yang berkeringat. "Seribu Mey kalah meski aku hanya punya kamu satu-satunya, Nda!"


Nanda sudah setengah tak sadar saat tersenyum. Nuga menyeringai puas. Nanda memang memuaskan, sama seperti apa yang otak keduanya fantasikan.


Ya, Nanda memang menggoda iman dan menggangu kesabarannya. Hanya dia menganggap dirinya kelainan saat memikirkan Nanda dan semua tingkah polahnya. Selebihnya, mengingat keinginan sang bapak, Nuga hanya berusaha untuk sayang pada Nanda. Terlepas memang kepalanya yang kedua terus sigap berdiri setiap melihat keseksìan gadis itu.


Nuga cukup kuat dengan membuat Nanda tidak terlalu dekat dengannya. Sikap galak dan kaku yang memang menjadi gelarnya, sangat membantu sampai dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada Nanda.


Sejauh ini, dia bertahan dengan baik. Nuga puas sekali.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2