
Nanda sudah bisa duduk dengan tegak pagi harinya, hanya memang seluruh tubuhnya ngilu dan sakit semua.
Awalnya, Nanda ingin bangun dan ke kamar mandi sendiri, tapi dilarang sama ibunya. Sikap ibunya menjadi sedikit galak hari ini. Seakan kelembutan yang semalam adalah yang terakhir dia lihat dan rasakan.
Pintu kamar terbuka, Lestari masuk dan langsung menunduk, menolak menatap anaknya.
"Pagi ini nggak usah mandi, dilap saja badannya, ya." Lestari membawa sebaskom air ke kamar Nanda. Semua orang sedang sarapan, termasuk Nuga. Pras terus menahan Lestari agar masuk setelah Nuga keluar. Pokoknya, tidak ada yang boleh mengusik mereka berdua, termasuk Yang Ti yang sejak pagi mengomel: sudah siang, kok belum bangun.
Nanda merengut, matanya basah lagi jika melihat wajah ibunya. Pertanyaan yang ingin dia tanyakan hanya satu: mengapa dia bisa berakhir di tangan Nuga? Aneh saja, kan?
"Buk ...."
Lestari mendongak cepat, lalu menunduk kembali melihat Nanda yang sepertinya ingin menanyakan sesuatu. Dia menbuang napas panjang, seraya meletakkan baskom di kursi kayu sebelah ranjang Nanda. Dia tidak ingin membahas apapun, toh Nanda kali ini tidak bisa dia bela. Bersyukur Nuga mau jujur dan menikahi Nanda, kalau tidak ... pasti keluarganya mendapat malu yang luar biasa.
Nanda melihat dengan jelas sikap diam dan dingin ibunya agak aneh, seperti sedang menahan sesuatu. Dia adalah anak paling disayang oleh Ibunya ini, dan kalau hanya soal kabur dari Diwa, pasti tidak akan mengubah sikap sang ibu padanya secepat ini.
"Abis ini langsung ke meja makan, terus siap-siap berangkat." Lestari menegakkan tubuh lalu berjalan ke lemari untuk mengambil wash lap dan handuk—tanpa memandang Nanda sama sekali.
"Aku bisa jalan ke kamar mandi, kok." Nanda paham, pasti ibunya marah karena harus melayani anaknya, bahkan bawa air dari kamar mandi. Ekspresi Nanda berubah sendu. "Buk, Aku pengen di rumah aja, nggak mau ikut Om balik."
Tangan Lestari yang sedang menari di atas lipatan baju Nanda berhenti, dia mendengus lelah, lalu berbalik menghadap Nanda yang kini menunduk dengan air mata menetes.
"Aku emang udah bikin malu, tapi kenapa Ibuk nggak mencegah pernikahan ini? Aku bisa balik nikah sama Mas Diwa, Buk ... bukan sama Om." Nanda mengangkat wajahnya—menatap ibunya yang langsung membuang muka. "Kenapa kalian kejam sekali sama aku? Bukan gini cara menghukum aku kan?"
__ADS_1
"Nda ... yang kejam itu kamu!" Lestari akhirnya bisa menguasai diri dan mengeluarkan isi hatinya yang sebagian besar berupa kemarahan. Ya, memang Lestari memanjakan Nanda, tapi bukan untuk jadi wanita yang nakal dan semaunya. Tidak seperti ini akhirnya, paling tidak. Hamil di luar nikah dan nikah dalam keadaan tidak sadar. Bukan menjadikan Nanda wanita tidak sadar keadaan diri sendiri.
Nanda terhenyak, jika ini keluar dari mulut Yang Ti atau Yuna, dia bisa terima, tapi ini ibu yang selalu berkata lembut dan pengertian, Nanda merasa terbuang. "Buk—"
"Diwa sudah memutuskan perjodohan ini, Nda ... jadi kalau kamu balik buat nikah sama Diwa, itu malah sama saja dengan mencoreng muka kami, apa lagi dengan keadaan kamu sekarang." Lestari menatap Nanda tajam. "Ndak mungkin kami mengizinkan kamu nikah sama Diwa."
Nanda mengerutkan kening. Dia tahu soal Diwa memutuskan perjodohan, karena memang itu ide Diwa, tapi keadaan sekarang ... apa Diwa tidak bisa menerima tubuhnya yang penuh luka? Meski lukanya ini pasti meninggalkan bekas.
"Masih untung Nuga mau jujur dan bertanggung jawab, kalau tidak ... Ibuk ndak tau mau ditaruh dimana muka keluarga kita." Lestari kembali berbalik dan menarik handuk dan wash lap, kemudian meletakkan di bawah kaki Nanda.
"Kata Bapak, ini—ngelap badan Nanda, adalah tugas Nuga, bukan tugas Ibuk lagi!" Lestari melangkah keluar, mengabaikan wajah terkejut Nanda yang terpaku di tempatnya. Lestari harus bersikap dingin dan tidak peduli agar pertahanan yang dibangunnya tidak roboh. Padahal sejak tadi dia ingin menangis. Seharusnya, dia memeluk anak perempuannya ini, bukan membentak-bentak begini.
***
Nuga hendak meninggalkan meja dan kembali ke kamar, memeriksa Nanda yang semalam kukuh menyuruhnya tidur di kursi. Dia terpaksa menurut, sebab Nanda ketakutan setelah tindakannya membuka baju Nanda tanpa izin. Jika dipikir-pikir, kemarahan Nanda itu wajar, siapa yang tidak takut dan terkejut ketika bajunya disingkap paksa hingga memperlihatkan sebagian besar bagian perut?
Mata pria Nuga jelas melihat luka yang dibalut perban, goresan merah di seluruh permukaan perut, dan lebam besar di bawah buah dada Nanda. Mungkin ada tulang iga yang retak juga.
Nuga membuang napas, lalu berdiri. Bertepatan dengan itu, Lestari muncul dari arah ruang tengah. Nuga menoleh dan bertemu pandang dengan Lestari, tetapi Lestari tidak mengatakan apa-apa. Ibu Nanda itu berjalan tergesa ke dapur kotor, tanpa memandang meja makan.
"Saya lihat Nanda dulu." Nuga pamit dengan sopan, meski kaku.
Pras tersenyum, matanya lamat memandang istrinya dan Nuga. "Mungkin dia sudah bangun—"
__ADS_1
"Istri macam apa itu, bangun siang, nggak bantu siapin sarapan, malah merepotkan!" Yuna berbicara, suaranya menggema di atas meja makan yang semula sepi. Semua orang diam membeku oleh ucapan itu.
"Bukannya layani suami malah merepotkan! Heuh ... ini yang dibanggakan oleh seseorang?" Yuna menambahkan seraya melirik Yang Ti yang sudah siap menampar mulut Yuna, tetapi ditahan karena pamali ribut di meja makan.
Nuga mencoba mengabaikan dan setelah di beri angggukan oleh Pras, Nuga segera meninggalkan meja makan. Namun, langkahnya belum sampai ke ujung ruangan, saat dia berbalik dan berkata pada Pras, dibawah tatapan heran dari semua orang, kecuali Yuna. Yuna mengira, Nuga akan meladeni ucapannya, hingga lengkaplah sudah keburukan Nanda. Suami istri yang tamatnya kasar, tersemat untuk Nuga dan Nanda.
Bibir Yuna membentuk senyuman sinis.
"Nanda harus minum obat dan sarapan ... jadi mau saya bawakan sekalian sarapannya." Nuga melirik piring, yang langsung di sambar oleh isteri Bagas, di isi banyak menu makanan, lalu di sodorkan ke Nuga.
Pras tersenyum melihat kebaikan hati menantunya. Dia senang Bagas dan Dika bisa mendidik istri mereka menjadi istri yang saleha dan pengertian.
"Nanda suka jus buatan saya, Mas—maksudnya Nuga." Laras—istrinya Dika berdiri. Tampak canggung sebab usia Nuga jauh lebih tua dari dirinya, bahkan setahun lebih tua dari Bagas. Laras bingung memanggilnya harus bagaimana.
"Kamu urus dia dulu, nanti saya yang antar jusnya," ucap Dika, seraya mengemas piring bekas sarapannya dan istrinya.
Nuga tersenyum seraya mengangguk. Ternyata memang hanya Yuna yang berkonflik dengan Nanda. Tatapan Nuga sejenak melirik Yuna yang berpaling muka. Dari gesturenya, dia tidak senang dengan kasih sayang yang Nanda dapatkan.
Yang Ti juga demikian, tetapi dia tampak menunggu waktu untuk menegur Nuga dan Nanda. Di sini, semua terbalik. Tidak ada namanya lelaki melayani wanita, tidak benar suami melayani istri. Ini salah dan harus diluruskan.
*
*
__ADS_1
*