Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
79


__ADS_3

Rachel terlihat lemas di ranjang nya. Demamnya naik lagi, begitu terus selama beberapa hari ini, membuat Lestari yang sedikit membaik merasa heran dan iba.


"Ini ada air dari sodara Bapaknya Diwa." Padmasari mengulurkan botol kaca coklat gelap dan selembar kertas ke arah Pras. "Minumkan ke Rachel, sisanya usapkan ke ubun-ubun dan pusar sebanyak 3 kali. Buang airnya ke luar pagar menghadap kidul etan(tenggara) lalu baca doa yang ditulis di kertas itu."


Pras melihatnya heran. "Rachel ini kena demam berdarah, Buk. Bukan kena san tet."


Padmasari mendesakkan benda itu ke dada Pras. "Uwes to, nurut wae ngopo!"


Pras menerimanya seraya menatap Lestari untuk meminta pertimbangan. Namun Lestari melengos sebagai jawaban. Dia setuju atau tidak itu tidak ada efeknya.


Pras menarik napas panjang, lantas menatap ibunya. "Nanti kalau Rachel bangun, saya minumkan, Buk. Dia baru saja tidur, biar Lestari juga bisa tidur."


Padmasari melirik curiga ke arah Lestari. Pasti Lestari tidak mau melakukan perintahnya. Namun melihat keadaan mantunya yang murung itu, Padmasari tidak berani menyuarakan isi hatinya.


"Jangan sampai ndak diminumkan, Pras ... itu dari tetua keluarga Diwa. Di keluarganya Diwa, beliau yang paling makbul doa–doanya." Alih–alih ngomel, Padmasari mengingatkan dengan suara yang menekan.


Pras mengangguk. Sebenarnya, dia ingin membantah ibunya, tetapi Pras tahu, Ibunya pasti marah dan berakhir dengan perdebatan panjang yang membuatnya pusing.


"Ya sudah, Ibuk pulang dulu." Padmasari mengambil langkah, setelah melihat Rachel sekilas. Lestari berdiri dan menyalami ibu mertuanya, pun dengan Pras.


"Biar saya antar, Buk."


"Ndak usah, wes! Ibuk diatar sopir kemari." Padmasari melengos. "Ojo lali! Jangan lupa urutannya, diminum dulu 3 kali, baru diusap ke ubun–ubun 3 kali, trus puser 3 kali!"


"Njih, Buk."


Baru saja Padmasari melangkah, pintu ruangan terbuka, menampakkan Yuna yang kuyu dan terlihat lelah. Namun tak bisa dipungkiri dia kaget melihat Yang Ti ada disana. Yuna gelagapan.

__ADS_1


"Oh, kamu masih ingat jalan pulang, Yun?" sembur Padmasari cepat dan keras. Dia seperti ular cobra bertemu tikus incarannya. "Tuh, anak kamu kena DB! Udah sakit sepuluh hari tapi kamu sama bapaknya malah ndak kelihatan batang hidungnya! Mbok pikir wong tuamu iku penitipan anak opo?!"


"Namanya juga kerja, Yang Ti, jadi saya juga menyesuaikan jam kerja. Nggak bisa seenaknya datang dan pergi!" jawab Yuna seraya ngeloyor pergi.


Padmasari memutar badan menghadap Yuna pergi. "Lah, orang udah libur sebulan lebih, emange kamu kerjo opo? Mana ada kerja kaya bergitu, apalagi katanya kamu kerja ikut instansi pemerintah, mosoiyo libur sebulan?!"


Yuna mencibir, mengabaikan sang nenek. Dia menyalami bapak kemudian ibunya. "Rachel gimana, Buk?"


"Dia masih panas naik turun. Masih harus diawasi dan dilaporkan terus perkembangannya." Lestari menjawab pelan, meski dia ingin sekali memarahi Yuna. Bukan karena dia tidak mau menjaga Rachel, tapi sikap lalai Yuna yang memprioritaskan anaknya.


"Rumah sudah di fogging?"


"Sudah, hari ini." Lestari menatap anaknya, menatap leher anaknya yang memakai syal di siang bolong yang panas ini. "Kamu baru sampai?"


"Uda tadi," jawab Yuna cepat, namun melihat ibunya yang tampak berpikir, membuat Yuna segera menambahi. "Aku mandi di rumah temen sebelum ke sini, Buk."


Melihat itu, Yuna juga tidak segera membantu ibunya, justru dia menghindar dan mendekati Rachel yang tidur pulas.


Pras geram melihat anaknya yang tidak tahu terimakasih dan membalas kebaikan ibunya. Pria itu memapah Lestari dan menyuruhnya duduk. Pun dengan Padmasari yang segera membantu Pras memapah Lestari.


Tentu mulutnya tidak diam saja.


"Kamu iki loh, Yuna, kok keterlaluannya nemen! Ibuk kamu sampai sakit begini ini karena ngurus anak kamu loh! Kok kamu ndak ada rasa makasihnya!"


"Rachel kan cucunya, Yang Ti! Wajar kalau Ibuk jaga Rachel selama aku kerja." Yuna mengambil botol air minum di meja dekat ranjang Rachel.


"Oh, lha kamu ini, kurang ajar jadi anak!" Padmasari berang. "Ibuk kamu ini ngurus kalian berempat dulu sekalipun sibuk, ndak pernah nyuruh aku buat ngurus kalian! Ndak pernah bikin repot aku! Lah, kamu! Dari Rachel bayi selalu aja ngerepotin Ibu kamu! Ini yang namanya wanita modern? Yang namanya wanita karir?"

__ADS_1


Yuna berdecak.


"Mana semua capaian yang kamu banggakan itu? Percuma seorang ibu berkarir, berprestasi kalau ndak diimbangi dengan sayang keluarga! Masih baik loh, ibu kamu ini, Yun ... ndak banyak bicara, selalu ngertiin anaknya, coba aja aku yang jadi Ibuk kamu! Sudah tak buang kamu itu ke laut sana!"


"Buk ...." Lestari bersuara lemah memanggil ibunya. Dia tidak keberatan momong Rachel, sebenarnya. Tapi dia juga ingin Yuna tanggung jawab pada anaknya. "Jangan ribut, nanti Rachel ke ganggu."


"Tapi Ibuk bener, Les." Pras akhirnya bersuara. "Rachel punya ibu, punya bapak. Apapun masalah keluarga mereka, seharusnya tidak mengurangi kasih sayang pada anaknya. Anak tidak pernah salah hadir dalam pernikahan, jadi salah kalau mereka ditinggalkan saat orang tua bermasalah. Kalian orang dewasa yang cerdas, seharusnya masalah begini, diselesaikan dengan hati yang lapang. Stop jadi orang egois! Kalian bukan anak muda lagi. Kepala kalian harus lebih dingin dan mengerti. Bapak diam karena menganggap kamu akan mengerti bagaimana kami mendidik dan membesarkan kamu, memaklumi kamu, dan menerima keadaan kamu. Bukan karena Bapak tidak mampu menolak permintaan kamu!"


Yuna terdiam. Jelas dia melakukan ini karena tidak suka ibu bapaknya terlalu menyayangi Nanda. Mereka akan mengabulkan permintaan Nanda, apapun itu. Sementara seorang Yuna, hanya dibiarkan menjalani hidup sesukanya.


"Jangan terus bilang kami hanya sayang sama Nanda, Yuna! Di saat begini, harusnya kamu sadar, betapa kamu lebih didahulukan. Kamu itu kakaknya Nanda, kami menyayangi kamu sesuai kebutuhan kamu, usia kamu, dan kedewasaan kamu. Menikah dengan pria pilihan kamu, memilih mau jadi apa, jalan apa yang kamu inginkan, kami tidak ikut campur, karena apapun pilihan kami, tidak pernah benar dimata kamu. Jadi jika sekarang kamu menuntut karena dibedakan, bersikap kekanak-kanakan saat adik kamu menikah, kamu salah besar, Yuna. Kamu tahu semua ini jalan yang kamu inginkan."


Yuna tidak menjawab. Menelaah dengan benar semua ucapan bapaknya. Mungkin untuk beberapa saat dia ingin menyalahkan keluarganya. Tapi benar, semua salahnya. Semua pilihan pernah diberikan kepadanya lebih dulu, sayang dia menolak dengan arogan. Mentang-mentang dia pintar, cantik, cerdas, dan digadang-gadang memiliki masa depan cerah, dia bertindak angkuh.


Ini akhirnya. Yuna menyesal. Yuna ingin jadi anak penurut seperti Nanda.


"Ibuk, Bapak pindahkan ke kamar lain. Biar dia segera sembuh, sekarang giliran kamu jaga Rachel." Pras menarik tangan Lestari yang sedari tadi menunduk. Dia menangis. Bukan dia tidak mau mengasuh Rachel, tapi ini demi kebaikan Yuna.


"Jaga Rachel baik-baik, Jangan dibentak-bentak. Agar dia tidak rewel." Pras berlalu, diikuti Yang Ti Padma yang terlihat puas melihat Yuna diomeli Bapaknya.


"Kapok kamu, Yuna," batin Padma senang.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2