
Diwa di lain sisi, sedang menghadap cermin mematut penampilan yang sudah sempurna. Pikiran pria itu kacau sebenarnya. Kejujuran Nanda membuatnya bingung.
Dan karena sebenarnya Diwa mulai memiliki perasaan untuk Nanda, semua menjadi terasa berat. Wajar bukan, ketika dia tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan wanita, lalu dijodohkan dengan gadis muda yang menurutnya cantik.
Sejauh yang Diwa tahu, Nanda gadis yang ceria dan penurut. Mungkin karena usianya yang masih terlalu muda, dia masih takut menikah. Dan hari ini, dia melihat gadis itu telah berubah.
Diwa sudah melangkah sejauh ini. Keluarganya telah menyusun acara dengan baik. Diwa tentu tidak mau membuat orang tuanya mendapat malu.
Perjodohan bisa batal dengan banyak alasan, jika nanti dalam perjalanannya, mereka tidak menemukan kata sepakat. Nanda juga setuju, terlepas dari apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Mungkin ada pria lain yang dicintai Nanda ... Diwa enggan mencari tahu. Cukup Nanda saja yang jadi kekasihnha, masa lalu atau kisahnya biar jadi milik Nanda sendiri.
"Nak, tamu sudah datang ... buruan keluar." Dia adalah ibu dari Diwa yang masuk dengan tatapan sendunya. "Ada Pak Kapolres juga."
Diwa memutar badannya dengan senyum sumringah memenuhi wajahnya. "Duh, Ibuk bikin aku malu saja pake Pak Kapolres didatangkan. Kan baru lamaran, belum nikah."
__ADS_1
"Beliau yang mau, kok ...." Yani mengalihkan pandangan pada isi kamar Diwa, wanita itu seperti sedang mengenang. "Waktu cepet banget berputar ya, Le ... perasaan Ibuk belum lama kamu lahir dan belajar jalan, kini udah mau nikah aja."
Diwa mengerti ibunya sedang khawatir soal Nanda. Pria itu berjalan pelan menuju ibunya, membawa wanita yang telah melahirkannya itu duduk di ujung ranjang. "Ibuk nggak usah khawatir ya, Diwa kan anak laki-laki Ibuk yang kuat. Sekarang yang penting Nandanya pulang dan mau lanjutkan lamaran ini. Jadi jangan mikir berlebihan ya, nanti cepet tua kalau banyakan mikirin beban hidup."
Yani menampik pelan tangan Diwa yang mengusap lengannya. "Ibuk hanya ndak mau kamu itu sakit hati dan kecewa, Le ... jangan karena wasiat, kamu merasa terpaksa melanjutkan semua ini."
"Nggak ada yang terpaksa, Buk ...." Diwa menggelengkan kepala. "Aku sebenarnya juga menyukai Nanda. Sejak dijodohkan, aku kan yang milih Nanda?"
"Makanya, Ibuk jangan khawatir lagi. Aku yang milih duluan, artinya aku memang dari awal suka sama Nanda. Dari pada Yuna, yang menurutku keterlaluan, aku milih Nanda yang setidaknya, dia gadis yang jujur. Nggak kaya Yuna yang disukai Ibuk." Diwa terkekeh saat melanjutkan. Kalimat barusan memang membuat Yani merasa tersinggung, sampai Yani langsung merengut dan membuang muka.
Ya, siapa yang tidak mau punya menantu sukses seperti Yuna, kan? Cantik, pinter, dan berkelas. Tentu jika bisa dia memilih Yuna, Nanda itu baginya hanya; timun wungkuk jogo imbuh atau penggenap saja. Ada juga nggak ada dampaknya, nggak ada juga nggak masalah.
"Ya wes lah, pokoknya ini pilihan kamu, jadi jangan salahkan siapa-siapa kalau nanti Nanda mbelot milih laki-laki lain." Yani berdiri dan bersiap meninggalkan Diwa yang masih terpaku dan syok atas kata-kata ibunya. Apa jangan-jangan semua orang berharap lamaran ini tidak pernah terjadi? Sikap semua orang agak aneh sejauh ini.
__ADS_1
Diwa menghela napas seraya berdiri dan meninggalkan kamar. Langkahnya pasti menyongsong jenjang baru dalam hidupnya. Ini sebuah tantangan dan beban yang berat, mengingat pihak sebelah sudah mengakui ini sebatas melaksanakan wasiat. Tak ada perasaan istimewa untuknya, meski punya pilihan, tetapi sepertinya dia sudah menyerah.
Diwa tahu, Nanda menanggung beban pilihan yang telah dijatuhkannya. Andai dia dulu jujur lebih awal, pasti Nanda tidak akan kesulitan dan acara ini terjadi dengan suasana yang lain.
Diwa merasa bersalah setiap kali ingat ekspresi Nanda yang begitu tertekan dan bingung.
*
*
*
Maaf ya, dikit2 soalnya kejar 20 bab🤭
__ADS_1