Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
45


__ADS_3

Dokter mengatakan, Nanda alergi dermatitis kontak. Kandungan perekat pada plester membuat kulit Nanda iritasi. Nuga mengakui, kulit Nanda itu lembut, halus, dan kenyal, seakan kertas saja bisa membuatnya tergores.


Tidak berbahaya memang, tapi cukup mengerikan. Jika tahu kompres air dingin bisa meredakan, tentu Nuga akan melakukannya agar Nanda tidak terus merasa gatal dan ingin menggaruknya.


Mereka keluar rumah sakit jam empat sore. Setelah memastikan posisi dan keadaan Hima—seperti biasa, mobil Nuga meninggalkan rumah sakit.


"Hima minta dibelikan takoyaki, kamu mau?" Ketika hampir mencapai resto khas jepang langganan Nuga, dia melirik Nanda yang masih diam dan membuang muka.


Nanda menggeleng.


"Antri nya lama, ikut masuk aja. Lihat-lihat dulu, siapa tau ada yang kamu suka." Dia mengalah. Mengalah sampai ke titik paling mengerikan. Kali ke dua setelah untuk Arum dan Hima.


Nuga menghembuskan napas kasar. Sekali lagi dia harus bersabar.


Ketika berhenti di pelataran parkir, Nuga membukakan pintu untuk Nanda meski Nanda tidak merubah posisi sama sekali.


"Kalau nggak turun sendiri, aku turunkan dan gendong sampai ke dalam." Itu kalimat yang datar, tapi berhasil membuat Nanda gentar. Nuga selalu menepati ucapannya kan? Tapi Nanda memang kepala batu, jadi dia diam saja. Dia akan memberatkan badannya hingga sulit digeser nanti oleh Nuga. Lagian dia tidak kecil kok, dia 48 kilo. Pasti berat.


Nuga mendesah pelan, rupanya Nanda sedang mencoba keseriusannya ya?


Sekejap mata, tangan Nuga sudah berada di belakang kaki dan punggung Nanda, mendekap Nanda hingga menempel erat ke dada Nuga. Seolah tanpa kekuatan, Nuga mengangkat Nanda.


"Om suka maksa, ih!" Nanda meronta, tetapi Nuga masih memeluknya erat. Bibir Nanda yang kemerah-merahan sebab dia memakai teknik ombre untuk mewarnainya.

__ADS_1


"Kamu kan yang maunya dipaksa?" Nuga tersenyum geli. "Yakin nggak mau nih, digendong pertama kali sama suami?"


"Nggak! Apaan sih?" Nanda menjatuhkan tubuhnya saat Nuga melepasnya. "Masih kesal juga."


"Anggap saja kita sedang pacaran, kaya yang kamu mau." Nuga akhirnya mengalah. Toh dia yang salah. "Apa aja mau kamu, akan aku turuti."


"Aku bukan Hima, ya, Om!" Nanda benar-benar tidak tertarik. Dia masih tersinggung dengan ucapan Nuga tadi. Kenapa sih, Nuga selalu menuduhnya agresif? Dia tidak bisa membunuh sifat yang menurut Nuga agresif itu. Semua itu spontan, saat kekasih tercinta ada di depan mata, saat hatinya terlalu gembira, saat semua orang memandang rendah dirinya, Axcel ada di sana, mendukungnya, berbagi cerita suka dan duka. Wajar sekali dia meluapkan dan membagi rasa itu dengan kekasihnya, kan?


Itu agresif? Astaga ... beneran kolot dan kuno duda ini, ya!


"Aku nggak butuh bujukan Om, aku nggak butuh kencan atau apapun yang menurut Om konyol itu!" Nanda menoleh, wajahnya masih marah, marah sekali. "Om pikir itu semua cukup untuk mengganti perasaanku yang terluka karena Om?"


Nuga menatap mata bening yang memang terlihat benar betapa hati Nanda sangat sakit.


"Om keterlaluan!" Tangis Nanda pecah, lalu Nuga bergegas meraihnya dalam pelukan. "Om jahat!"


"Lebih keras lagi mukulnya, Sayang ... jangan berhenti." Memperlakukan Nanda seperti Hima, Nuga membelai dan menciumi rambut Nanda yang tergerai. Dia menenangkan seperti sikap ayah pada anaknya yang merajuk. Lembut dan penuh kasih, hingga Nanda benar-benar berhenti menangis.


Perlahan Nuga melepaskan pelukan, lalu menepuk pipi Nanda dengan kedua tangannya. "Kalau nangis jadi mirip Hima."


Nanda merengut, seraya membuang pandangan. Nuga yang seperti ini, membuat Nanda salah tingkah saat menatapnya.


"Sudah, ya ... jangan ngambek lagi. Iya, aku salah dan berlebihan tadi, sampai buat kamu tersinggung. Lain kali, aku akan hati-hati kalau bercanda sama kamu, Mamanya Hima." Nuga tersenyum saat mengusap bawah mata Nanda yang basah. Tapi wanita menangis itu seksi dan menggoda di mata Nuga.

__ADS_1


Jadi dia menarik wajah Nanda semakin dekat kepadanya. Mencuri satu ciuman yang lebih intens, dan dibumbui sedikit perasaan sayang, boleh lah ya?


Nuga gemas sekali pada gadis ini, soalnya.


Nanda semula bingung, tapi sudahlah ... nikmati saja. Sungguh perasaan Nanda dikacaukan oleh Duda tua ini. Sebentar hangat, sebentar jahil, lalu romantis, kemudian datar kaya papan setrikaan. Jika saja tidak ada rasa aman dari teror sang nenek, Nanda pasti enggan bertahan di sini.


Ragu-ragu, Nuga meraih tengkuk Nanda. Selain ini tempat terbuka, dia juga sedikit itu ... bergelora. Ya, gimana ...? Semalam dia bisa mengatakan biasa saja, karena tujuannya memang hanya menggoda Nanda, tapi sekarang ... empatinya dimainkan. Wajar Nuga baper.


Nanda sedikit mengeluh sebab dia kalah berebut oksigen dengan Nuga, sehingga Nuga segera sadar dan melepaskan diri.


"Turun, yuk ... trus kita jalan-jalan." Nuga menautkan tangannya. Memposisikan diri sebagai kekasih Nanda, seperti yang Nanda inginkan. Semua agar Nanda tidak merasa kehilangan momen. "Nonton dan makan yang banyak."


"Nggak mau, ah ... pulang aja!" Nanda merapatkan bibirnya, tatapannya sedikit aneh. Tampak gelisah memandangi bagian depan resto.


Kening Nuga berkerut. Kok malah ngajak pulang? Jangan sampai, Nanda mengerti keinginan hatinya yang paling dalam ya? Atau jangan-jangan, Nanda merasakan?


"Pesen takoyakinya banyakin, Om ... nanti aku sama Hima mau nonton sambil ngemil. Kami udah janji mau lihat Spyxfamily sama-sama." Nanda menoleh, membuat Nuga langsung lemas.


"Oh, ya ampun ... kirain masih kesel!" dalih Nuga. Dan wajahnya ini kentara sekali kalau kecewa. Kurang ajar memang.


*


*

__ADS_1


*


Oleng meski mepet, ya ... usahakan 4 bab tiap hari, yah ... soalnya sisa seneng-seneng aja nih, itung-itung gantiin Rega yang isinya sedih mulu. Ini happy-happy aja ya🤭


__ADS_2