
"Kenapa?" Candra, rekan dosen Nuga di kampus, merasa heran dengan sikap Nuga seharian ini. "Karena Mey nggak masuk hari ini, ya?"
Nuga memandangi Candra, yang sedang mengemas tasnya, bersiap pulang. Dia tidak menjawab, sebab Candra tampaknya tidak butuh jawaban darinya. Biarkan saja Candra senang dengan dugaannya sendiri.
"Lagi punya pasangan, ya?"
Tatapan keduanya akhirnya bertemu. Nuga langsung menggeleng. "Nggak—"
"Berarti iya ...." Candra terkekeh. Nuga biasanya hanya tersenyum jika digoda soal pasangan. Semua juga tahu, Nuga anti punya pasangan. Hidupnya hanya untuk sang anak gadis.
Nuga menelan ludah. Dia terlalu kentara kali ini. Nanda membuatnya kepikiran.
"Siapa?" desak Candra. Nuga mendesah berat, ketika Candra malah duduk menghadapnya.
Tangan Nuga semakin keras menggesek kertas. Berpura-pura kalau pertanyaan Candra tidak masuk ke telinganya.
"Mey tetanggmu, kan? Dia pasti tau kamu kencan, dan dia patah hati. Mendadak izin, dua hari ilang tanpa kabar, jangan pikir kami terutama aku, nggak curiga." Candra kini serius menerangkan alasan kenapa dia mendesak Nuga terus terang.
Nuga sedang menyusun jawaban yang tepat. Memang, Candra tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi untuk jujur, Nuga belum bisa. Nanda susah diajak kompromi. Astaga ... perlu sesuatu yang besar dan menakutkan untuk mengancam Nanda.
"Hima sakit ...." Itu benar kan? Harusnya Candra berhenti.
"Nggak bisa dihubungi kemana? Kota ini, susah sinyal dimana, sih? Kamu terlalu kaya untuk tidak mampu beli kuota."
Telak! Nuga harusnya lebih bisa menahan wajahnya tetap datar meski Nanda berhasil membuatnya deg-degan sampai sekarang. Sial memang.
"Nanda?"
Nuga menoleh, kali ini membuat Candra tertawa terpingkal-pingkal, dan memukul meja berulang-ulang.
__ADS_1
"Astaga ...! Bro ... serius kamu sama Nanda? Gimana ceritanya? Pantas kamu ngekang dia selama kuliah, nggak boleh ini itu, nggak boleh—"
"Gratis ngopi satu bulan." Nuga menukas seraya berdiri buru-buru. Meraih beberapa kertas dan tasnya, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan.
Candra semula terdiam saat mencerna ucapan Nuga sebelum kembali tertawa terpingkal-pingkal. "Anu-Anu—hahahaha!"
Di mobil, Nuga masih mendumal, mengumpati Candra yang terus menertawakannya. Kemungkinan, berita ini menyebar cepat, dan dia harus secepatnya mengurus surat pernikahan, atau akan banyak simpang siur yang beredar.
Ketika Nuga berada di lampu merah, ponselnya berdering, membuat Nuga segera ingat kalau Nanda tidak punya ponsel. Haruskah membelikannya sekarang?
"Kasihan dia, pasti dia sedih kalau nggak nonton drama sehari saja." Nuga kemudian menjawab panggilan yang berasal dari ibunya di Aussie.
"Assalamualaikum, Buk." Nuga menjawab melalui earpiece nirkabel. Lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
"Ini mau beli, yang kemarin rusak. Jatuh kata Nanda." Nuga mengarahkan kemudi ke sebuah toko ponsel yang paling dekat, tetapi cukup lengkap series tiap merknya.
"Njih, Buk ... saya ngerti soal itu." Nuga segera memarkirkan mobil di halaman, dan langsung turun masih sambil mendengarkan nasihat sang Ibu. Pernikahannya ini sungguh terasa seperti pernikahan penuh cinta. Andai ibunya tau, Nuga pasti sudah dijadikan sambal balado.
Teror seakan reda sejak pertikaian panas di kampung teratasi. Nanda bisa tidur dengan nyenyak, makan nikmat, tertawapun lepas. Entah dia harus bagaimana menyikapi nasibnya ini ... Nuga memang telah berhasil membereskan masalahnya dalam waktu singkat.
Dia sedang duduk sambil membaca sebuah buku, walau hanya novel juga pada akhirnya, tetapi satu hal itu nyaris tidak dilakukannya sejak berbulan-bulan lalu. Kuliah selesai, dia lulus, dan ya, dia hanya perlu membaca sinopsis drama saja setelahnya. Membaca itu membuatnya mengantuk.
Dia tidak punya rencana, tidak memikirkan bagaimana pernikahannya, dia hanya senang dengan kedamaian hidupnya sekarang. Bisa apa memangnya dia saat ini? Mencari Axcel?
"Apa aku bicara sama Om saja soal ini?" Nanda menutup bukunya, melihat jam yang berada di samping tempat tidur. "Kok Om belum pulang sudah jam 11 malam."
Nanda menarik napas, tidak terasa dia membaca buku sudah dua jam lamanya. Kemudian dia beranjak ke kamar mandi, Hima sudah terlelap berjam-jam lalu.
Nuga memang sibuk, jadi baru pulang setelah larut malam. Setelah mandi, dia bergegas ke kamar Hima. Melihat putri kecilnya yang sudah tertidur lelap. Terkadang, Nuga merasa bersalah meninggalkan anaknya dengan pengasuh. Seakan perjuangannya hidup Hima sewaktu bayi, tidak berguna sebab Hima malah kerap dia tinggal setelah besar.
__ADS_1
"Pulangnya malam sekali, Om?" Nanda barusan menggosok gigi dan memakai krim wajah.
Nuga menoleh, lalu tersenyum. "Mampir di kafe, banyak kerjaan."
"Kita harus bicara kayaknya, Om." Nanda menimbang keputusannya. Tapi lebih baik, kan ... daripada nanti ribut lagi hanya soal Axcel. Dia hanya butuh kejelasan saja.
"Kita bicara di luar." Nuga mencium kening Hima, lalu menyilakan Nanda keluar lebih dulu.
Kata Nuga diluar, bukan di kamar. Tapi Nanda telah duduk di ranjang, memakai babydol gambar kartun berwarna biru muda, tampak seperti Nuga memiliki kelainan saat berdesir melihat Nanda. Dia bergairah pada anak-anak.
"Om, aku hanya mau semuanya jelas."
Nuga menaikkan alis saking herannya. Apa yang belum jelas memangnya?
"Apa Om benar-benar nggak mau menceraikan aku ... suatu saat nanti?"
"Nggak." Kembali semua keindahan itu lenyap. "Jika ada satu alasan untuk menikah, maka butuh seribu alasan untuk bercerai, dan itu semua tidak mudah."
"Tapi Om ... aku belum selesai dengan Axcel." Nanda tau Nuga akan mengatakan tidak, "memangnya apa alasan Om nikah sama aku, padahal ... selama ini, Om tau kan kita nggak pernah akur? Apa Om hanya ingin Hima punya ibu?"
"Setelah menikah, semua hubungan dengan pria telah putus. Axcel harus mengerti dan menerima, dan kamu, hanya perlu mengatakan kalau kamu sudah menikah. Jika Axcel cerdas, seharusnya dia paham apa arti kata itu. Sudsh saatnya bagi Axcel berhenti."
Nada suara Nuga yang tegas, membuat Nanda merasa dia sedang dimarahi. Ya, banyak orang yang salah paham dengan gaya bicara kita, ketimbang makna dari ucapan tersebut.
"Alasan mengapa aku menikahimu, sudah aku katakan pada Bapak Ibumu. Mereka mengerti, jadi aku diizinkan menikah denganmu hari itu juga. Pastinya, bukan Hima sebagai alasan, bukan orang lain juga yang membuatku menikah denganmu. Jadi berhenti meminta cerai, hanya karena kamu belum selesai dengan seorang lelaki."
*
*
__ADS_1
*