
Setibanya di cafe, Nanda langsung menuju lantai dua, dan menghubungi Tasya sahabatnya. Tak dihiraukan Nuga yang terus menatapnya dengan pandangan yang rumit. Nanda langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan air.
"Ciee, yang abis kencan, cie!" Tasya menyapa dengan riang, tanpa tahu Nanda sedang menangis.
Diingatkan soal kencan tangis Nanda semakin keras, membuat Tasya bingung.
"Eh, eh ... kenapa? Ketahuan sama Pak Nuga, ya? Nggak diizinin ketemuan apa gimana?" Tasya jelas bingung, semalam Nanda bilang akan ketemuan di sekolah Hima, jadi kemungkinan izin itu tidak ada.
"Aku ketahuan, Tes jadi sekalian aku minta izin buat jalan sama Axcel tapi Om tetap aja nggak mau kasih izin. Aku bingung sama Om, dia kaya nggak suka gitu kalau aku senang." Nanda menarik napasnya yang engap karena hidungnya terlalu banyak cairan.
"Kamu nggak kasih tau dia alasan kamu ingin banget pacaran? Mungkin dia bisa ngerti kalau kamu jujur soal perjodohan itu."
"Bukannya diizinkan tapi malah disuruh istiqomah jadi penghuni rumah nanti. Om malah makin nggak kasih izin dengan alasan sudah punya calon suami. Nanti malah berabe urusannya." Nanda menghela napas lagi. Dia menangis sepanjang jalan ke kafe, wajar kalau hidungnya mampet.
"Dih, buang ingus kamu, Ndes. Menjijikkan! Njijiki!" protes Tasya yang merasa terganggu dengan suara napas Nanda.
__ADS_1
Nanda melakukannya, lalu kembali duduk tegak di atas kloset. "Jadi biar saja dia tau nanti kalau Ibu dan Bapak kemari, dan pamitin aku sama Om Nuga."
"Ndes, coba kamu pikir baik-baik. Aku pikir Om Nuga bener deh, bayangin aja kamu pasti akan susah putus sama Axcel kalau kamu mau nikah sama orang lain. Bukannya lebih baik kamu nggak usah pacaran? Bener nggak sih kalau Pak Nuga nyuruh kamu tetap di rumah dan setia sama calon suami kamu? Pacaran untuk kasus kamu sekarang emang beresiko menyakiti hati satu sama lain. Gimana kalau kamu susah move on dan bukannya malah kasihan sama Diwa?"
Nanda terpengaruh, dia mulai belok tetapi kemudian dia sadar kalau tujuannya bicara sama Tasya adalah mencari jalan agar dia bisa kembali pacaran. Kenapa malah begini? Mana kata Tasya itu benar lagi.
"Ndes, sebaiknya kamu putus aja sama Axcel mumpung masih awal perasaan kalian tumbuh. Kecuali kamu punya niat kabur dari pernikahan paksa itu ... hehehe!" Tasya melanjutkan dengan saran penuh candaan.
"Aku memang punya niat untuk kabur di hari itu. Hanya belum tau kalau kabur harus kemana sembunyinya! Kamu tau kan semua orang di rumah sudah buat aliansi agar aku cepet nikah sama Diwa!" Nanda jujur akhirnya.
"Dan aku baru ingat kalau kamu orang yang paling nekat yang pernah aku kenal," sahut Tasya pasrah.
"Mau gimana lagi, Tes? Hidupku ini terlalu banyak yang atur sampai aku bingung sebenarnya hidup ini milik siapa, kok sampai aku nggak berhak buat milih jalan hidupku sendiri. Apa sebegitu nggak bergunanya aku di mata keluargaku, ya?" Nanda tertawa miris.
"Mungkin karena kamu terlalu sembrono jadi mereka yang bantu kamu milih jalan hidup kamu. Takutnya kamu nyasar ke pelukan pak duda tampan pujaan hatiku." Tasya tertawa terbahak-bahak. Tasya memang tergila-gila pada Nuga sejak mereka saling mengenal.
__ADS_1
Nanda berdecih jijik. "Nikah sono sama dia. Jadi sodaraan kita! Aku mah nggak suka sama yang tua-tua dan kolot gitu!"
"Dia itu posesif ... Kamu nggak tau sih bahagianya di posesifin begitu!" Tasya terdengar sok dramatis. "Tapi kamu selama ini apa nggak ada perasaan sama Pak Nuga gitu? Kan kalian sama-sama terus?"
"Big no! Yang bener aja, dia itu sebaya sama kakak tertuaku! Bukan lagi Om-om, tapi Aki-aki!" bantah Nanda tegas seraya mengetuk kepalanya dan tutup kloset yang dia duduki.
"Nda, keluar!" Nuga membuka pintu kamar mandi dengan matanya menghujam Nanda penuh amarah. "Bicara apa kamu barusan?!"
Ponsel Nanda jatuh bersamaan dengan jantungnya yang berdebar ketakutan. Mata Nanda membeliak lebar ketakutan. Astaga ... jangan-jangan dia dengar apa yang barusan aku ucapkan?!
*
*
*
__ADS_1