
"Hidup itu aneh, ya, Om."
Nanda duduk diatas ranjang, memangku laptop dengan kaki masuk ke dalam selimut. Matanya fokus pada layar, tapi sebenarnya dia sedang menghubungkan seluruh ingatan tentang Nuga, Arum, dan semua sikap Nuga padanya.
Nuga selesai mandi, berpakaian rapi, aroma wangi menyebar memenuhi ruangan. Pria itu terpaku. Sesuatu telah terjadi.
Nuga menduga setelah ini pasti ada pertengkaran lagi. Dia harus bersabar lagi. Ini melelahkan, tetapi setidaknya kali ini—dipernikahan ini, dia hanya harus membuat satu orang menerima, bukan satu keluarga lagi. Nuga mengingatkan dirinya sendiri, bahwa ini jauh lebih mudah, mudah sekali.
Mata Nuga menyapu seluruh ruang kamar. Sedang menyusun kata yang pas, pandangan matanya justru jatuh pada dua buku berwarna hijau tua dan merah marun diatas meja.
Nuga menghela napas, mencoba peka pada perasaan Nanda, yang mungkin merasa dengan adanya buku itu, dia sungguh tidak bisa kemana-mana lagi. Semua orang sepakat pada akhirnya.
"Jalan hidup semua sama modelnya. Hanya kadang susunannya yang tidak tentu."
"Ya, tapi tidak harus dengan menyamaratakan semua orang, kan? Om jalan hidupnya nggak akan sama dengan aku." Nanda akhirnya mendongak. Tinggi Nuga yang masih dalam posisi berdiri itu tampak sangat menjulang. Entah kenapa dia muak pada pria itu hari ini.
"Tapi Om selalu bersikap seolah aku ini mirip sama kelakuan Om dan Arum, hanya karena kita sama-sama pernah memiliki kekasih sebelum menikah," imbuh Nanda dengan nada berat, kesal, dan mencoba menahan diri untuk tidak memaki. Nuga suaminya—ini sudah dipertegas oleh dua buku itu.
Nuga masih bingung, kemudian dia mendekati Nanda dengan duduk di sebelah wanita itu. "Geser ... pengen lihat drakor itu kaya apa."
Nuga beralasan. Dia tipe orang yang percaya: jarak mengikis problema. Tangan Nuga yang panjang dan berat itu menelusup ke belakang leher Nanda, membiarkan Nanda bersandar di bahunya.
Nanda sedikit menjauh saat Nuga mencoba intiim dengannya. Seakan Nuga punya segepok dosa menempel di sana dan Nanda wajib menghindari. Namun, Nuga menekan Nanda kembali menempel padanya.
"Kita masih pacaran, kan?" Biar saja dia dikatakan lebay atau sok dekat, tapi Nuga ingin Nanda tahu bahwa dia selalu ingin mencoba. Mencoba menyayangi dan mengerti. Nikah bukan untuk dipermainkan, apapun alasannya.
Nanda melepaskan tangan Nuga yang mencengkeram bahunya. Kepala Nanda menoleh, menatap Nuga dengan galak. "Stop deh, Om! Jangan modus sama aku, ya!"
__ADS_1
"Modus apa, sih?" Nuga heran. "Kamu kenapa, sih ... kok kaya sensi sama aku?"
"Jelas aku sensi!" Nanda menukas tepat setelah Nuga mengeluarkan tawa—saking gemas pada Nanda. "Om nuduh aku hamil—ingat? Tapi kenyataannya, Arum yang hamil sebelum kalian berdua nikah! Kenapa, Om? Om sedang menuduhku seliar Arum atau Axcel sekurang ajar Om?"
Nuga membuka mulut, "Siapa—"
"Om ... nggak semua orang itu sama kaya kalian berdua! Aku heran bagaimana Om bisa nuduh aku bisa hamil hanya karena kegep berpelukan sama Axcel! Padahal Om tahu sendiri bagaimana wanita bisa hamil, kan? Apa aku terlihat murahan? Dari sebelah mana Om bisa menuduh aku begitu?" Nanda kali ini menjauh. Menghakimi Nuga seolah Nuga tak akan diampuni kesalahannya atas tuduhan mencemarkan nama baik dan menodai kemurnian Nanda.
"Aku masih pakai baju lengkap! Aku bahkan tidak pernah memikirkan untuk sampai sejauh itu sama Axcel! Pacaran itu menyatukan dua hati, Om ... bukan dua badan! Aku ingin pacaran kaya anak muda jaman dulu! Kaya Mas Dika dan Mbak Laras, yang pacarannya bisa saling support, sampai mereka berdua sukses seperti sekarang. Aku sama Axcel begitu, kami sudah bicara soal ini dan dia setuju."
Laptop yang menayangkan adegan romantis itu diabaikan, digeser jauh, si empunya sudah menghadap arah lain, berapi-api mendemo tuduhan seseorang.
Nuga kehilangan napas saat Nanda memprotesnya dengan begitu bersemangat—dia begitu cemburu.
"Om, andai Om melihat aku sama Axcel saling tumpang tindih tanpa baju, aku bisa terima dituduh hamil, tapi aku nggak seperti itu! Dan Om harusnya lebih bijak, lebih menyadari bagaimana masa lalu Om saat menuduhku begitu!"
"Aku tau, cinta itu kadang membuat hati seseorang buta, tapi aku enggak! Aku masih waras untuk nambah beban hidup aku yang udah numpuk-numpuk dengan cari masalah baru!" Tangis Nanda pecah.
Nuga meraihnya, merebahkan Nanda di dadanya. Menepuk punggung yang berguncang pelan itu lembut, tetapi tak lama kemudian Nanda bangkit lagi.
"Sekarang, Om jelaskan padaku, kenapa Om yang cerdas dan berpendidikan ini bisa bikin Arum hamil? Apa Om dulunya nakal? Om sebelum jadi orang yang galak dan sok bijak ini dulu berandalan? Celup semua pacar Om?" Kedua tangan Nanda sibuk mengeringkan mata. Dia balas dendam.
"Sembarangan!" jawab Nuga sedikit kesal.
"Lalu kenapa Arum bisa hamil? Apa dia hamil sama sapu kalau nikahnya sama Om? Kenapa?" desak Nanda dengan mata menyipit. Wajahnya bengis.
Nuga menarik napas dalam-dalam seraya meraih tangan Nanda agar mendekat padanya.
__ADS_1
Nanda menarik tangannya menjauh, menggeser tubuhnya agar berada diluar jangkauan Nuga. Dia tidak mau menjadi tumbal Nuga selanjutnya, walau pernikahan telah mengikatnya. Tidak akan mau lagi disentuh, sebelum semuanya jelas.
"Akui saja dan minta maaf sama aku! Sama Ibuk dan Bapak karena pasti Om bilang sama mereka kalau aku udah hamil dan pacarku kabur! Pasti alasan itu yang Om gunakan, sampai mereka setuju menikahkan aku sama Om!"
Nuga terperanjat, kaget, atas tebakan Nanda yang sepenuhnya benar. Tapi sedikit ada yang tidak benar.
"Kenapa Om? Biar dianggap pahlawan? Biar dianggap pria paling baik di dunia? Agar jejak keburukan Om dimasa lalu nggak diketahui orang? Apa aku Om anggap penebus dosa?" Nanda beranjak turun.
"Semua ciuman itu gratis, Om nggak usah merasa nggak enak hati sama aku. Tapi setelah ini, aku nggak mau disentuh sama Om lagi! Om egois dan jahat!" Nanda menutup laptop kuat-kuat dan bersiap keluar.
Nuga yang terkejut atas ucapan Nanda, seketika berdiri, lalu menyambar tangan Nanda kuat sekali, sampai Nanda kini berbalik menghadapnya.
Tatapan mereka beradu sangat lama.
"Pergi nggak akan menyelesaikan masalah, Nda ...." Nuga memeluk Nanda erat, menciumi kepala Nanda berulang-ulang. "Jangan pergi pas aku mulai sayang sama kamu."
Ya ... dia pasti mati jika satu-satunya harapan untuk memperbaiki semuanya juga pergi. Mengekang Nanda tetap di sisinya, bukan tanpa alasan. Empat tahun dia berusaha menyayangi Nanda, menjaga Nanda, bukan tanpa sebab dia mau direpotkan dan dipusingkan oleh ulah gadis itu.
Karena Nanda, yang akan memulihkan perselisihan keluarganya.
*
*
*
Gimana?
__ADS_1