Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
64


__ADS_3

Cup besar dan panjang itu meluncur dari tangan Tasya—begitu saja, sebab gadis itu melongo tak percaya dengan apa yang dilihat di depannya.


Duda galak yang sekaku linggis, sedingin suasana di kutub utara, yang galaknya ngalahin emak-emak sein kiri belok kanan ini, duduk di ujung sofa, mencium kening Nanda, lalu merengkuh pinggang.


Oke! Katakan saja mereka ini sudah menikah dan sah-sah saja melakukan hal seperti itu, tapi ini Nuga ... yang disuap pakai apapun sama sekali tidak bisa mengubah sikapnya yang sudah mendarah daging. Ini baru seminggu penuh dia tinggal mudik ... sudah jadi selembut dan segemas slime blink-blink? Apa matahari bersinar kelewat ganas di sini sampai mampu melelehkan batangan besi?


"Mau dipesanin makanan dari luar apa makan masakan dari sini saja?" Nuga menawarkan pada Nanda yang berdecak kesal seraya menjauhi posisi duduk Nuga.


Tasya masih bengong dan tidak bisa menelaah dengan benar bagaimana magic-nya nikah bekerja.


Nanda sibuk menghalau tangan Nuga di pinggangnya. Wajahnya ditekuk, kelihatan dia tidak nyaman dan malu. Decakan penuh kekesalan terus keluar dari bibir mungil yang dipoles lipstik berwarna segar.


"Apa sih, Om ... malu tau dilihat orang!" protes Nanda dengan suara lirih tertahan.


Nuga mengabaikan itu, malah sedikit memberi tatapan penuh ancaman seraya menyeringai. "Udah jam makan siang, jangan bandel! Buruan makan atau ...."


"Ini juga mau makan! Masih nunggu orderan dari luar!" Masih bersungut, hanya Nanda takut pada seringai yang muncul semalam di sela kegiatan belah duren mereka, jadi dia bohong. Kata Atau yang menggantung itu bisa saja sesuatu yang membuat jalannya seperti orang yang menderita kelainan di kaki.


Jujur saja dia risih diperlakukan begitu di depan umum—kalau di kamar mah mungkin nggak masalah. Malu juga ketahuan punya suami Om-om, kesannya kaya dia adalah mantan baby. Mungkin dia harus buat perjanjian. Di depan umum, harus bersikap biasa saja.


"Kenapa natap akunya begitu?!" Kengerian di wajah Nanda tak bisa dibaca Nuga.


"Kita harus bicara!" Sigap, Nanda menarik tangan Nuga dan menyeret pria itu ke lantai dua. Tasya bahkan ditinggalkan begitu saja, meski dia tidak protes sebab masih syok berat.


Justru perbuatan Nanda membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka. Hanya Nuga tidak keberatan sama sekali soal itu. Dulu iya, dia tidak suka ditatap dengan pandangan yang aneh. Ya, apalagi selain dia yang berkulit eksotis berlebihan alias black sweet. Hem!


Sesampainya di satu-satunya kamar di lantai dua, Nanda memutar badan hingga menghadap Nuga. Tatapannya masih galak.

__ADS_1


"Om ... jangan begitu lagi di depan umum! Aku malu tau nggak sih? Gimana kalau ada tetangga Om yang datang, trus tau aku tinggal di rumah Om ... aku terkesan kaya jadi piaraan Om, paham nggak sih?!"


Nuga terkekeh, lalu menarik Nanda duduk di kursi depan meja yang biasa digunakan Nuga sebagai meja kerja. Ya, ini masih kamar biasa, hanya banyak sekali peralatan ala kantor dan sepertinya Nuga memang sengaja mengalih fungsikan ruangan yang semula kamar ini sebagai kantor. Mungkin agar kenangan bersama Arum tak lagi terasa kelam.


Nanda di posisikan duduk di sebelah kakinya, miring, sehingga Nuga leluasa jika ingin mengarahkan Nanda menghadapnya. Tapi sekarang cukup dari posisi menyamping. Nanda pasti malu jika berhadapan.


"Kamu yang membuat kita ketahuan, kan? Kalau tadi kamu tetap biasa aja di kursi kamu sama Tasya ... hanya Tasya saja yang akan tahu. Ingat posisi kamu yang merosot di sandaran sofa? Membelakangi pengunjung dan tidak menarik perhatian siapapun di posisi itu!"


Nuga intens menatap sisi wajah Nanda yang terlihat memutih secara perlahan. Nanda menoleh. Kaget dan tidak percaya. Nuga melakukan semua itu penuh perhitungan tanpa dia minta.


"Aku tau kamu pasti malu punya suami yang sudah tua, duda lagi, jadi aku berusaha tetap perhatian sama kamu tapi aku nggak terlalu kentara. Kaya pas kita di mall kemarin ... ingat? Aku masih jaga seolah kita hanya keluarga kamu meski aku tetap gandeng tangan kamu!"


Hah?! Apa-apaan alasan itu? Nanda menatap Nuga penuh ketidakpercayaan. Bisa banget ya, dia berkata begitu? Ngeles mungkin?


"Pokoknya, Om nggak boleh begitu lagi di depan banyak orang, apalagi Tasya ...! Om harus bersikap kaku dan galak kaya biasanya!" Nanda berkeras seraya memberi Nuga tatapan penuh peringatan. "Kalau enggak, aku bakal marah sama Om!"


Nanda berdiri dengan gerakan cepat. "Aku di bawah aja!" Dia menoleh, "entar kalau di sini, ganggu Om kerja!"


Nuga akhirnya melihat dengan jelas wajah Nanda yang masih kesal, kemudian berdiri. Diciumnya pipi Nanda secara spontan hingga Nanda kaget dan mendelik keberatan.


Tapi Nuga tidak peduli, diulanginya lagi hingga Nanda mendorong Nuga menjauh.


"Stop, Om—ih! Katanya suruh makan, kok malah dihalang-halangi begini?!" kesal Nanda.


"Jangan pakai rok seketat ini, ini nggak bagus buat mata lelaki!" bisiknya seraya memukul pantat Nanda yang sintal.


Nanda meringis, sakit. "Ini kan kemarin Om yang ikut beli juga! Kok nggak boleh dipakai sih? Emang mata lelaki mana yang akan lihat istri orang?"

__ADS_1


"Mataku lah, siapa lagi?" Nuga menarik Nanda hingga mereka saling menghimpit dengan lengan Nanda menghalangi. "Kamu dari dulu emang nggak bagus buat mata dan pikiranku! Apalagi celana pendek-pendek yang sering kamu pakai couplean sama Hima!"


Mata Nanda membeliak lebar. "Jadi Om dari dulu suka ngomelin style aku hanya karena Om piktor, ya?"


Nuga menjentik kening Nanda, hingga Nanda meringis kesakitan. "Dari dulu kamu itu udah kaya virus di otakku! Mengontaminasi pikiranku hingga jadi kotor!"


Mata Nanda menyipit, curiga. "Jangan-jangan, Om itu suka lagi sama aku dari dulu? Makanya kesal pas aku pacaran!"


"Kalau iya, kenapa? Emangnya nggak boleh?" Nuga mengecup bibir Nanda yang manyun—berulang-ulang, hingga akhirnya ciuman mereka berakhir panas.


Dari lantai bawah, Tio yang merasa butuh bantuan Nuga di meja barista, naik ke atas dengan langkah cepat dan memanggil Nuga.


"Gaaa ... eh, sorry ganggu!"


Tio secepat kilat mundur dan berbalik badan. Kaget melihat Nuga yang mencium Nanda dengan tangan meraba kemana-mana dengan ganasnya.


"Mereka ada affair sejak kapan?" Tio bergumam heran. Dan merasa kecolongan. "Kok Nuga nggak cerita sama aku soal ini?"


Tio sekali lagi melihat pintu yang terbuka itu, lalu kembali lagi dan menutupnya pelan. "Gawat kalau anak-anak pada tahu!" gumam Tio.


*


*


*


Nih, update lagi sebelum berangkat sekolah🤣

__ADS_1


__ADS_2