Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
52


__ADS_3

Nuga menggandeng tangan Nanda saat memasuki rumah besar tak jauh dari kampus Nanda. Langkah pria itu tenang, dan terlihat semua orang di sini sudah mengenal Nuga dengan baik.


Melihat itu, Nanda jadi berdebar. Sesuatu yang urgent pasti menjadi alasan Nuga menikah dengan Arum.


Mereka berdua masuk ke ruang tengah yang luas dan lega. Lampu gantung besar ditengah ruangan seperti mengesankan mewahnya ruangan ini.


Seorang wanita berumur tersenyum menyambut Nuga.


"Bapak di ruang belakang." Dia menunjuk belakang pojok dengan ibu jarinya. Senyumnya tak pudar saat beradu tatap dengan Nanda.


Nuga hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian berlalu. Tetapi tatapan wanita itu tampaknya membuat Nuga bangga.


Suara meriah kicauan burung love bird menghampiri telinga Nuga, membuat pria itu berbelok dan mendorong pintu kaca buram.


Pria tua berambut abu-abu menoleh, menghentikan gerakan menjentik jari dan bersiul. Dia menyapa Nuga.


"Akhirnya kamu sempat dateng kemari, Ga ... Bapak kira kamu hanya candain bapak saja tadi."


Nuga tersenyum, menarik Nanda berdiri di sisinya. Membiarkan pria itu melihat tangan mereka yang saling menggenggam.


Pria itu meletakkan pakan di tangan lain, ke meja kecil di dalam kandang, lalu keluar dari sana untuk menghampiri Nuga. Wajahnya berubah serius saat menatap Nanda, tetapi tetap tersenyum.


"Ayo duduk di dalam saja." Helaan napas pria itu terdengar jelas di telinga Nanda. Namun dia tak bisa menyimpulkan apa nada keberatan itu untuknya.


Nuga ikut masuk, pria tua itu mencuci tangan dan kemudian menyusul Nuga yang sudah duduk di sofa besar yang ada di ruangan ini.


Pria itu menatap Nanda. "Tampaknya kali ini kamu udah stuck, ya, Ga! Sampai sebegitunya."


Nanda menoleh ke arah Nuga, bingung. Namun Nuga hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Nanda. Dia tersenyum seraya menunduk.


"Tidak seperti yang lain," ucap pria itu seraya terkekeh sehingga suaranya tersamar. "Tidak masalah Bapak bongkar semuanya, kan?"


Nuga mengangguk, tanpa ragu.


Pandangan dan senyum pria itu beralih begitu saja dari Nuga ke Nanda. "Kenal Nuga berapa lama, Nak?"


"Dari kecil, Pak." Nanda menjawab seraya mengerutkan dahi. Pun dengan pria itu. "Aku kenal Om udah dari bayi mungkin."

__ADS_1


Pria tua itu tersenyum. "Jadi apa yang masih membuat kamu ragu menerima Nuga? Sudah kenal dari bayi, kan? Apapun yang saya katakan seharusnya tidak menjadi masalah—"


"Masalah bagi saya, Pak—maaf, saya menyela." Nanda memajukan posisi duduknya. "Om udah nuduh saya hamil duluan, mengatakan kebohongan soal perjodohan saya sampai pacar saya kabur tanpa pamit, menikahi saya tanpa persetujuan saya, dan ternyata dia sendiri hamilin anak orang!"


Nuga menarik bahu Nanda agar mundur, sedikit tidak sopan di hadapan yang lebih tua. Namun Nanda kukuh tidak ingin menutup-nutupi.


"Benar begitu, Ga?"


Nuga terdiam saat tatapan pria itu beralih padanya sedikit kecewa.


"Jawab, Om!" Nanda menyenggol lengan Nuga berulang-ulang sampai Nuga mengangguk.


"Saya tidak punya pilihan lain saat itu, Pak. Saya panik, dan hanya tahu kalau saya sudah brengsek sekali memisahkan mereka, apalagi aku pikir dia sedang hamil." Nuga yakin, mengelakpun percuma dihadapan Nanda dan Bapak angkatnya ini.


"Lagi-lagi kamu ambil beban tanggung jawab orang lain ke pundakmu?" Pria itu berubah berang. "Kau hebat, Ga!"


"Tapi Nanda nggak hamil, kok, Pak. Saya pingsan dan terus mual memikirkan soal perjodohan paksa itu!" Nanda membela.


Nuga mengangguk. "Dia tidak hamil, Pak."


"Pantas kamu begitu posesif padanya. Arum sedikit lebih santai kamu memperlakukannya." Pria itu menjatuhkan diri di sandaran sofa.


"Om ingin aku yang jadi ibu dari anaknya, kan?" jawab Nanda enteng.


"Kamu istimewa." Pria itu tersenyum. "Arum memang dinikahi oleh suamimu, tapi dia tidak benar-benar dinikahi karena istimewa bahkan cinta."


Pria itu menjeda. "Nuga menikah karena kasihan pada Arum yang saat itu dibuang oleh keluarganya, karena hamil dengan pria yang tidak bertanggung jawab, disuruh aborsi lagi, dan Arum depresi."


Nanda terhenyak, menoleh ke arah Nuga yang menunduk, tangannya mulai merenggang. Nanda pasti jijik padanya.


"Bertemu Nuga, dilindungi, dibantu, membuat Arum merasa aman. Bahkan dia tidak bisa dekat siapapun selain Nuga. Bahkan saya, yang merupakan bapak angkatnya, Arum menolak dekat. Dia takut dokter, jarum, dan pria. Arum bisa pingsan jika satu dari mereka mendekat, tetapi sejak diberitahu kehamilannya bisa diselamatkan, Arum mulai membaik. Dia merasa disayangi sebab bayinya masih mau bertahan."


Nanda menarik tangan Nuga untuk digenggamnya lagi. Mata wanita itu fokus melirik Nuga.


"Nuga yang menyelamatkan Arum setelah percobaan aborsi yang gagal, menyelamatkan bayinya, dan perlahan Arum selalu bergantung dengan Nuga. Dan akhirnya Arum mau melawan rasa trauma dan kecemasan berlebihan."


Pria itu melihat perubahan ekspresi di wajah Nuga dan Nanda.

__ADS_1


"Hima bukan anak kandung Nuga ... tapi rahasia ini dibawa sampai mati oleh kita bertiga, sebab bahkan orang tua Nuga tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak peduli." Pria itu menarik napas.


"Sejak Nuga menikah dengan Arum di usia kehamilan 4 bulan, Orang tua Nuga, semuanya menolak kehadiran Arum terang-terangan. Sampai sekarang, kecuali kalau Nuga mau menikah dengan kamu, maka kesalahan itu gugur."


Nanda menaikkan alisnya, seakan ingin mengonfirmasi ulang bahwa semua itu ada yang tidak benar. Misalnya soal menikahi dirinya.


Sayang Nuga mengangguk tanpa daya.


"Oh, God!" batin Nanda.


"Jadi aku tahu kenapa orang tua Nuga ingin kamu yang jadi menantunya adalah karena kamu sungguh istimewa. Hanya kamu sedikit lebih muda sehingga pola pikir kalian jauh berbeda. Tapi kalian sangat serasi. Nuga pasti akan takluk jika kamu sudah menentukan." Pria itu terkekeh.


Nanda menoleh, melihat wajah kaku yang seakan baru saja dikuliti hingga sisa tulang. "Bisakah tiang listrik ini tunduk padaku?"


Nanda sedikit tidak yakin. Pada dirinya sendiri, yang benar-benar tidak mengenal Nuga dan sikap dewasanya, dan pada Nuga yang tidak pernah sekalipun mencoba mengerti dirinya.


"Saya nggak yakin, Pak." Nanda menatap Pria itu tanpa daya. "Om orangnya kaku, dan saya cengengesan, yang ada saya akan dimarahi setiap hari."


Pria itu terkekeh. "Memangnya kamu mau disayang-sayang seperti Arum karena depresinya? Dikasihani karena dia sebatang kara? Dinikahi hanya demi status bayinya? Dia marah karena sayang sama kamu, cinta sama kamu, cemburu pada pacar kamu! Dia terlalu gengsi mengakui memikirkan kamu setelah bertemu di usiamu yang sudah dewasa, Nak!"


Nuga menunduk, entah dia dulu merasa bagaimana pada Arum. Yang jelas, Arum sendirian. Dibuang orang tua setelah ketahuan hamil, pacarnya atau entah siapa ayah bayinya; ingin mengaborsi kandungannya, bahkan dia yang datang saat Arum ingin bunuh diri.


Bukan maksud Nuga menyelamatkan Arum yang saat itu baru keluar dari klinik terkutuk tersebut, tetapi melihat seorang wanita berdiri di tengah jalan, penuh darah, dini hari, dan hujan. Sungguh Nuga tidak sengaja melihat Arum. Bahkan dia baru tahu Arum adalah salah satu mahasiswa dari kampusnya setelah Arum sadar dua hari kemudian.


Sungguh Nuga tidak pernah berniat masuk, ikut campur, dan memberi solusi. Tapi dia iba pada wanita muda yang sendirian dan ketakutan melihat siapa saja; kecuali dirinya. Akhirnya setelah beberapa bulan, Nuga menikahi Arum, toh saat itu, dia juga tidak dalam posisi berhubungan dengan wanita manapun, termasuk perjodohan dengan Yuna yang batal.


"Jika kamu adalah wanita yang bisa menghapus semua kesalahan Nuga—jika menolong seseorang adalah kesalahan, maka bantulah Nuga! Dia sudah mencoba dekat denganmu selama empat tahun ini, kan?"


Nanda mengangguk, tapi dia belum sepenuhnya yakin. Sungguh mereka seperti air dan api, tak pernah sejalan. Bagaimana bisa mereka bersatu dan bahagia?


*


*


*


__ADS_1


Saye jeje tadi, jadi maaf ya, baru update🙏


__ADS_2