
Nuga tiduran di kamar Nanda setelah melepas kedua orang tuanya pulang. Dia dan Nanda masih besok pagi kembali. Rencananya, dia akan menjenguk Rachel yang belum diizinkan pulang dari rumah sakit.
Kamar ini, dia baru menempati sekali. Tak ada plafon, dan cukup sempit, kelihatannya kamar ini hanya ruangan tambahan yang memaksa sekali.
Ruangan lain luas-luas, menelan sebagian besar bagian rumah, menurut Nuga itu kurang efisien. Nanda bukan orang yang kekurangan, tapi kenapa dia diperlakukan begini?
"Om mau kopi?" Nanda mengulurkan kepala di pintu, sama sekali tidak berniat masuk. Di ruang tengah, ruangan yang dikelilingi oleh kamar-kamar, banyak tetangga dan saudara sedang duduk dan berdiskusi, Nanda sungkan masuk ke kamar dan berduaan dengan Nuga. Ini juga karena di suruh sama bapaknya, kalau tidak Nanda tidak akan menawari suaminya kopi.
Nuga bangun. "Boleh deh." Nuga segera turun. "Bapak lagi kemas-kemas, ya?"
Nanda hampir beranjak, tapi kembali menatap Nuga yang terlihat sangat lelah. "Nggak juga! Mereka lagi cari tempat buat naruh serahan."
"Emang kenapa, kalau ditempatkan dirumah? Nggak cukupkah?" Nuga mendekati Nanda, mengusap pipi Nanda, yang membuat wanita itu kembali deg-degan. Selalu begitu kalau dia berdekatan dengan Nuga.
"Nggak banyak kok, hanya cukup buat buka toko gede ngalahin toko sembako paling gede di pasar kecamatan!" Nanda entah mengapa merasa sebal melihat ekspresi Nuga yang kelihatan songong.
"Ya udah, kamu buka toko aja di sini. Investasi juga, kan?" Ini bagian yang Nuga suka dari Nanda. Suka mengatakan hal yang berkebalikan.
"Oke, nanti aku tinggal di sini, dan Om di sana!" ancam Nanda. "Om bisa tahan emang jauhan sama aku lama-lama?!"
Bayangkan beberapa hari saja pisah, Nuga sudah kelabakan begitu!
"Aku juga pindah ke sini, lah ... kok susah! Ada warisan dari Yang Ti, kan? Kamu pasti bagian banyak, sebab kamu cucu kesayangannya." Nuga mencandai.
"Kesayangan apa? Paling dibenci iya!" ungkap Nanda seraya berlalu. Dia selalu berpikir begitu mengingat betapa kejam Yang Ti padanya. Beda dengan Yuna yang bebas menentukan semuanya.
Dan, begitulah keadaannya. Yang Ti mengatur hidup Nanda dari hal kecil, sampai mencarikan jodoh yang terbaik sebagai bentuk kasih sayang, sementara Nanda merasa Yang Ti membencinya sebab terlalu mengengkang sementara pada Yuna, Yang Ti masa bodoh.
Nuga hanya tersenyum saat membiarkan Nanda meninggalkannya. Lantas dia keluar yang langsung di sambut dengan sapaan ramah dari ibu-ibu di ruang tengah.
"Mas, gabung sama bapak-bapak di luar sana loh. Pada makan durian, kebetulan bapaknya Nanda lagi panen durian!"
Nuga menoleh, melihat wanita yang barusan berbicara. Nuga mengenalinya sebagai Bu Kasun dan Nuga hanya tersenyum menanggapi. Bagus kalau ada durian, kebetulan dia suka sama buah satu itu.
Sepeninggalan Nuga, ibu-ibu langsung bergosip. Mereka mengatakan kalau Nuga adalah bapak-bapak hot idaman wanita.
__ADS_1
Nanda berdecak mendengarnya. Mau bilang: sana ambil, takutnya diambil beneran dan Nuga-nya mau, malah nanti dia yang repot. Bayangkan, setelah jadi janda, siapa yang mau sama dia? Jangankan Axcel, orang yang lain juga memandang sebelah mata padanya. Akhirnya, dia akan bertemu lagi dengan pria baru, pria yang tidak jelas, dan hidupnya pasti menderita lebih dari sekarang.
Ih, nggak lah. Udah! Sama Nuga saja, walau tua.
"Nda! Kok bengong di situ! Ayo duduk sini, loh."
Panggilan itu membuat Nanda tersadar dari lamunannya, lantas dia berdehem dan bergabung dengan mereka.
"Diwa ndak ada hubungi kamu, Nda?" tanya wanita yang dipanggil Nanda Bude. Dia dekat dengan keluarga Diwa, dan salah satu orang yang mendukung perjodohan dengan Diwa, dan yang paling kecewa ketika melihat Nanda menikah dengan Nuga.
"Nggak ada, Bude." Singkat saja Nanda menjawab, dia takut kalau akan jadi boomerang jika salah berucap.
"Opo dia sudah ada gandengan?" Bude Partin memancing.
"Kalau yang Bude maksud itu truk, bisa jadi sekarang lagi gandengan," jawab Nanda cuek.
Bude Partin mendelik, sementara Nanda menatap catatan di atas meja, membiarkan ibu-ibu yang lain cekikikan karena jawaban konyolnya.
"Ini catatan apa?" tanya Nanda seraya meraih buku tersebut.
"Banyak bener? Perasaan kalau Ibuk rewang, pulang hanya bawa sabun mandi 2 biji sama sabun cuci renceng dua ribuan 3, trus mi instan 2 biji, doang? Kok ini gula, kopi, teh, beras, minyak, mi instan, sama telur, dikasihkan? Apa ini berasnya lima kilo, gula minyak masing-masing dua kilo!" Nanda meminta penjelasan. Bukan tidak ikhlas, tapi berlebihan.
Yang lain saling pandang, sementara Bude Partin makin lebar melototnya.
"Ini rancangan baru, ya, Bude? Kok aku nggak setuju kalau begini!" Mata Nanda beralih dari catatan ke Bude Partin.
"Halah, meski dikasih satu karung-satu karung juga ndak bakal habis! Mbok ya, jangan pelit dan perhitungan jadi orang!" Bude Partin malah menyudutkan. "Rewang juga lelah, loh, kamu jangan menyepelekan!"
"Iya, saya tau, Bude! Ibuk juga lelah kalau rewang? Ingat apa enggak kalau Ibuk selalu disuruh-suruh kaya pembantu? Tapi apa? Katanya Ibuk udah kaya, jadi nggak perlu diberi sebanyak yang lain!" Nanda tegas mengoreksi. Ini kesempatan besarnya mumpung dia yang punya acara.
"Saya mau, ini nanti dibungkus per kilo untuk beras dan gulanya, trus dibagikan ke tamu! Kalau masih sisa, mau aku sumbangkan ke pondokan anak yatim di desa sebelah, sama orang yang nggak mampu. Selain itu, saya mau, yang atur semua ini kakak ipar saya. Bukan bude-bude yang ada di sini!" Nanda meletakkan buku itu pelan. "Sudah cukup Bude mengambil keuntungan dari kami, terutama saya, yang selama ini kalian remehkan!"
Nanda berdiri.
"Kamu iki ngomong opo? Jelas loh, di sini, di catatan pembagian kerja, saya yang jadi pengatur urusan dapur, kok kamu seenaknya memutuskan begitu?!" Bude Partin tidak terima.
__ADS_1
"Itu kan Bude dan anak Bude yang atur, jadi wajar mereka nurut! Kalau enggak nanti sama Bude dimusuhi, ya kan?" Nanda membalas tanpa takut. Cukup sudah dia bersabar menghadapi sikap semena-mena keluarga dari pihak Yang Ti ini.
"Nda!" Lestari tergopoh mendekati Nanda. "Kamu jangan bilang begitu!"
"Udah lah, Buk. Jangan terus-terusan ngalah sama orang yang tamak dan serakah, semena-mena sama Ibuk! Ibuk harus tegas di rumah sendiri. Apalagi dengan adanya bahan makanan melimpah ruah begini, sudah pasti mereka makin serakah! Itu dikasih Bapak buat meringankan beban kita, beban Bapak Ibuk, bukan beban sodara-sodara Yang Ti!" Nanda semakin berani melihat wajah ketakutan ibunya. Sudah pasti Ibunya ini takut ditindas oleh bude-bude tersebut. Dijadikan bahan gunjingan di setiap kesempatan.
"Buk, mereka itu sudah enak, loh! Kesini nggak bawa apa-apa, setiap pulang dikasih buntelan, anak cucu dibawa kesini semua, makan semaunya, kok masih bawa bahan mentah sebanyak ini? Apa mau perutnya meledak saking serakahnya?" Nanda melanjutkan. Membeberkan fakta yang dia lihat dan menjadi fenomena meresahkan bagi Nanda.
"Disini, anak-anak Bude nggak kerja, nggak bantu-bantu Ibuk! Malah ini, lihat, Ibuk bantu kemas-kemas piring, kan? Lah terus anak bude ngapain di sini? Makan doang, kan? Kalau kenyang pulang, begitu kan?" Nanda menunjuk bale rumah yang kini dipenuhi keluarga besar Nanda, dan mereka makan dan memberantakan seluruh ruangan. Besar kecil, semua tidak tahu diri menurut Nanda.
Bude Partin, selaku penyumbang terbanyak jumlah keluarga yang datang dan bermalas-malasan itu merah padam wajahnya. Dia melirik Lestari yang memakai celemek diatas kebayanya. Pikirnya, Lestari itu keluarga termuda, jadi wajar kan melakukan hal demikian?
"Bude, kami senang keluarga kami datang!" Nanda memeluk bahu Ibunya, menghadapkan sang ibu pada seluruh penghuni ruang tengah—sebagian ruang bale mulai tertarik mendengar suara Nanda yang cukup keras, jadi mereka mendekat.
"Yang saya nggak suka itu cara kalian merampok halus keluarga kami! Harusnya dengan banyaknya keluarga Yang Ti, pekerjaan jadi semakin ringan, bukan semakin berat. Sama kaya Ibuk kalau datang kerumah kalian! Apa kalian nggak malu? Lihat loh, Ibukku kurus kaya gini? sementara kalian gendut kaya raksasa! Yang pasti tenaga kalian lebih besar dari Ibuk!"
Siapapun yang mendengar pasti panas di telinga. Malu dan lebih baik undur diri, tapi ucapan Nanda yang ini, dianggap sebagai bentuk penolakan kehadiran keluarga oleh Bude Partin.
"Yo wes! Kalau Kamu keberatan aku dan anak cucuku datang, kami akan pulang dan ndak akan balik kesini lagi! Kerjakan semuanya sendiri!" Bude Partin meraih tas kecil yang jomplang dengan badannya yang besar.
"Ya udah, monggo kalau mau pulang, tapi jangan bawa apa-apa, ya, Bude! Tadi yang udah dibungkusin di meja prasmanan ditinggal! Bude udah cukup kenyang!" Nanda menaikkan alisnya. Puas hatinya mengusir parasit sebesar Bude Partin dari rumah ini.
Bude Partin melengos seraya berjalan cepat meninggalkan rumah orang yang dianggap saudaranya ini.
*
*
*
*enthil-enthil itu semacam bingkisan sebagai ucapan terimakasih setelah acara nikahan/hajatan selesai. Disini paling mentok, sabun cuci 5000an 1 atau sabun mandi 2, terus untuk laki-laki biasanya rokok sebungkus. Ditambah berkat gitu. Ada beberapa yang dikasih gula, minyak atau mi instan. Tergantung kemampuan masing-masing.
Kalau ada pertanyaan, tulis dikolkom, nanti aku jawab di sana. Note aku takut kebanyakan.🤭pokoknya adat disini kurang lebih begitu. hehehe✌mungkin ada yg tetanggaan sama saya, boleh nambahin loh😄
Btw, hujan deras pas ngetik, syahdu sekali di hari selasa pagi ini🤭 mana besok mau panen padi di rumah Makmer😌 haih😌
__ADS_1