Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
74


__ADS_3

Ternyata, Nucafe tutup lebih sore hari ini. Ketika Nanda sampai di sana, terlihat Tio sudah menuju motornya dan melambai pada Nanda yang baru turun dari motor.


"Mau kemana?" tanya Nanda pada Tasya yang mengikutinya masuk ke kafe.


"Ikut kamu lah ... ngopi dulu." Kepala Tasya melongok ke dalam kafe, lalu matanya mengedip genit. "Mau lihat calon imam."


Nanda memukul kepala Tasya dengan tas yang dipakainya, sampai Tasya mundur dan menggosok kepalanya. Nanda mengabaikan aduhan Tasya yang bercampur dengan rasa kesal.


"Calon pelakor rumah tangga temen wajib dijauhkan!" Nanda mendelik. "Pulang sana!"


"Ya elah, Nda ... becanda doang kali." Tasya merengut, memelas dibuat-buat. Dia lagi mode irit sebab uangnya habis buat bikin surat lamaran kerja. Deketin Nanda agar bisa ngopi gratis di kafe ini. "Gitu amat tanggapan lo."


"Bisa aja sekarang candaan doang, besok-besok jadi beneran, kan? Aku wajib waspada sama omongan ringan kaya gitu ...." Nanda mencibir Tasya seraya mendorong tubuh Tasya berbalik arah. "Balik sana!"


"Ya elah, Tes ... dikit doang! Intip aja dari luar." Tasya memberatkan langkah, malah siap berbalik. "Nawarin kopi kek, minum kek ... aus nih."


"Gak ada-gak ada!" Tasya di dorong paksa oleh Nanda ke arah motor. "Pulang, bentar lagi ujan! Kami nggak punya waktu antar orang gak jelas kaya kamu, lagian kafe udah tutup! Udah gak nerima tamu, gelas udah dicuci semua. Mesin kopi udah mati juga."


Nuga melihat Nanda yang masih main dorong-dorongan kaya anak teka dari balik meja yang ditinggalkan Tio. Dia membuat kopi untuk dirinya sendiri sembari menunggu Nanda pulang.


Mengetahui itu, Nuga langsung keluar dan berdehem keras agar dua anak kecil itu berhenti berkelahi.


"Pak Nuga ...." Tasya langsung mengerjab cepat. Bagaimanapun, terjadi pernikahan antara mereka karena jasanya juga. Jadi kalau Nuga sampai tidak ingat saat itu, Tasya bertekat akan membuat perhitungan sama Nuga. 1,2,3,4,5 ... dan seterusnya.


Dengan cepat Tasya mendorong Nanda yang menghalangi langkahnya tanpa kesulitan berarti, sehingga dia bisa mencapai Nuga lebih dulu.


"Pak—"


"Heh—" Nanda memendam geram lalu berlari untuk menyumpal mulut Tasya yang kurang ajar itu. Awas Tes ... satu kata aja, keluar dari mulutnya kata-kata haram itu, putus sudah persahabatan mereka selama ini.


"Pak, Nanda kesurupan, Pak." Tasya bersembunyi dibalik tubuh Nuga. Sementara Nanda berdiri di depan Nuga dengan kedua tangan merentang untuk berjaga kalau-kalau Tasya kabur.


"Gara-gara lo, Anj***, Bang***!" Nanda menggeram kesal karena Tasya menjauh dan dia harus merapat pada Nuga yang terus saja menatap Nanda dengan tangan bersedekap.


"Kan, Pak... Nanda sudah nggak eling, dia kena setan sanggar, Pak! Pemiliknya ganteng, alisnya lurus dan tebal, dagunya licin nggak kaya Bapak yang berewokan, kulitnya putih bersih kaya aktor korea!" Tasya memancing. "Nanda nakal, Pak!"


"Mulut lo dijaga, anj—apaan sih, Bang ...."


Nanda tak selesai mengumpat sebab Nuga sudah menangkap kedua bahu Nanda dengan lengannya yang kekar.


"Om ...." Nanda mendongak dengan mata yang perlahan menyurutkan kekesalan. Dia mengerjab takut saat merasakan Nuga sedang menatapnya tajam.

__ADS_1


"Pulang sekarang, Tas!" perintah Nuga pada Tasya yang langsung meringkuk meninggalkan mereka berdua. Suara Nuga yang sudah mirip suara komandan pleton itu, jelas menyatakan kalau Nuga sedang marah.


Dalam hati Tasya terkekeh. Besok beneran pakai kursi roda kamu, Ndes. Selamat bikin bayi, Ndes!


Tasya melajukan motor seperti maling yang terbirit-birit. Dari spion terlihat kalau Nuga sedang menyeret Nanda ke dalam dan menutup kerai pelindung kaca. Sekali lagi, Tasya terkekeh senang.


"Berapa kali kamu ngumpat?" Nuga menjatuhkan Nanda di sofa panjang yang biasa Nanda gunakan jika nongkrong di sini bersama Tasya atau yang lain. Bukan kursi pengunjung, hanya memang kursi ini digunakan Nuga untuk menjamu teman atau mahasiswa yang sedang bimbingan.


"Gak sengaja kali, Om! Lagian aku lagi emosi, dipancing-pancing Tasya terus. Jadi kelepasan ngumpat!"


"Wanita nggak pantas bicara kotor kaya gitu! Jaga attitude-nya! Kamu ini wanita yang akan didik anak nantinya, yang pertama kali ajari anakmu bicara, yang jadi sekolah pertama anak-anakmu!" Nuga mencengkeram rahang Nanda hingga bibir Nanda mengerucut. "Sekali lagi aku dengar kamu ngumpat, bakal aku kuncir pake karet ban, biar kapok atau di lakban sekalian biar nggak bisa bicara!"


Nuga melepaskan tangannya yang sebenarnya tidak menyakitkan saat mencengkeram tadi. Malah dia gemas pada bibir mungil Nanda itu. Nanda berdecak dan merengut kesal.


"Habisnya Tasya tukang fitnah, Om! Ya kali aku nggak bela diri, lagian kata itu biasa kok diucapkan anak seusia kami. Cuma pas kesel aja, kalau enggak ya enggak!" Nanda membenahi rahangnya yang rasanya sedikit bergeser.


"Om nggak lihat anak tiktik itu suka banget ngomong begitu? Mereka b aja pas ngomong kan? Malah kesannya kaya udah biasa gitu kata-kata itu diucapkan!" Nanda berdiri untuk mengambil minum.


Sepenuhnya dia kesal, tapi ya, dia memang salah karena sudah berkali-kali Nuga mengingatkan agar menjaga bicaranya. Tapi namanya kelepasan ya, bagaimana?


Nuga menatap Nanda dengan sorot mata yang gemas, apalagi Nanda terus membantah ucapannya dengan banyak alasan.


"Om harusnya nggak kaku sama kata-kata begitu. Mahasiswa Om pasti juga banyak yang begitu ... lagian hanya itu aja kok aku ngumpatnya. Nggak parah kaya yang lain."


Nanda membuang napas, seraya berpaling. Dia tahu Nuga kesal padanya, tetapi kenapa sih, orang tua itu mudah marah? Sensitif sekali kaya pantat bayi.


"Oke, baik!" Nanda akhirnya mengalah, walau dia belum terima. Dia mengacungkan dua jarinya ke sebelah telinga, sebagai bukti kesungguhan. "Aku salah, dan nggak akan ngumpat lagi! Maaf!"


Nuga lega akhirnya setelah Nanda tampak serius dengan janjinya sendiri. Pria itu berniat kembali ke sofa tadi untuk menikmati kopi yang sudah mulai dingin.


Nanda bernapas lega, kemudian berbalik arah untuk menyembunyikan senyum tengilnya. Nanda bergumam sangat lirih. "Kalau nggak kelepasan."


Sialnya, Nuga masih mendengar itu dan langsung menyambar tangan Nanda dan mencium wanita yang kurang ajar itu.


Tatapan mereka bertemu, dan Nuga langsung memperdalam ciumannya hingga mata Nanda memejam, menahan sakitnya hisap an yang dilakukan Nuga kepadanya.


"Astaga ... kasar sekali!" Nanda membatin. Gelombang aneh merayap ke seluruh tubuh Nanda, dia berdesir hebat terlebih saat Nuga mulai merapatkan pinggangnya. Benda keras itu menyentuh perut Nanda. Dalam hati Nanda mengeluh, yang semalam saja belum hilang, sudah mau ditambahi lagi.


Katakan Nuga mengalami kelainan, tetapi itu dipicu oleh respons Nanda yang kelewat polos dan sangatlah menggemaskan. Siapa suruh Nanda punya bentuk tubuh yang sintal? Nuga hanya tidak menyangka, gadis kecil yang 20 tahun lalu digendongnya, diciuminya, kini malah akan jadi ibu dari anak-anaknya. Yang dinikmati madunya dengan cara yang luar biasa.


"Om, stop!" Nanda mendesah pelan, suaranya serak dan terputus-putus. Dia tahu, Nuga tidak akan berhenti jika sudah memperlakukannya seintens dan seintim ini. Jadi dia mendorong pelan dada Nuga.

__ADS_1


Nuga melepas ciumannya, kemudian menatap Nanda penuh tanya. Sedikit kesal sebab dia mulai mabuk dan terlena.


"Jangan di sini, Om! Aku merinding ... takutnya magrib-magrib ada setan lewat. Nanti nggak bisa lepas gimana? Kan malu?"


Nuga mendengus mendengar ucapan konyol Nanda yang kadang-kadang terbukti. Segera ditariknya tangan Nanda meninggalkan kafe. Nuga melajukan mobilnya dengan tidak sabar untuk segera sampai ke rumah. Sungguh, dia tidak tahan lagi.


Begitu sampai rumah, Nuga juga masih menyeret Nanda masuk ke rumah. Namun, begitu menginjak anak tangga pertama ke lantai dua, suara nyaring dan riang memanggil Nanda.


"Nda ...."


Nanda menoleh, dan langsung cerita melihat Bu Hapsari, Nur, Cica, dan Hima duduk di ruang tengah mengerubuti seloyang kue dan semangkuk penuh salad buah.


Nanda melepaskan diri dan berlari kecil ke arah mereka. "Kapan Hima sampai?"


Anak kecil itu langsung merangsek ke pelukan Nanda. "Jam 4 tadi, naik kereta, Nda."


"Ayo, Nda kita makan dulu buah sama kue nya. Ini tadi dikirim sama Mamanya Mey." Bu Hapsari langsung menyodorkan piring kecil dan mangkuk yang sudah diisi sepotong red velvet cake dan salad buah yang segar.


"Hima mau cerita gimana serunya main di kampung Nur." Wanita itu melanjutkan. Tak terlihat dia tidak menyayangi Hima. Justru dia terlihat merindukan Hima.


Nanda menatap Hima dengan senyum lembut. Dia bersyukur sebab neneknya sayang Hima, sisa sang kakek yang hanya perlu di bujuk sedikit olehnya. Mungkin ini hanya sepenggal jalan hidup Nuga yang berliku sebelum kembali dekat dan erat.


Di sisi lain, untuk pertama kalinya, Nuga sebal luar biasa pada Hima dan ibunya. Sayang, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengecam mereka berdua.


"Nggak ke masjid, Ga?" suara Pak Puji membuyarkan kekesalan Nuga. Pria itu menghela napas sebelum menoleh ke arah ayahnya.


"Sudah telat, Pak. Hari ini aku shalat di rumah aja." Nuga melangkah ke kamar dengan langkah malas, wajah muram, dan si Dark Choco yang loyo.


Pak Puji terkekeh melihat anaknya itu. Sejak Nuga sampai, dia tahu apa yang akan dilakukan anaknya ini, tetapi dia tidak mau juga membantu. Malah senang melihat Nuga kelimpungan tak berdaya begitu.


"Kenapa harus dibawa pulang dulu, sih, tadi?" celetuk Pak Puji. "Kafe tutup, kenapa nggak mampir di hotel dulu? Apa nggak tahu kalau Hima udah pulang?"


Nuga menghentikan langkah sejenak memikirkan ucapan bapaknya. Sebelum kemudian menyesali keputusannya. Nanda hanya tidak mau di tempat yang terlalu luas dan biasa ditempati banyak orang. Pasti dia malu, tapi mungkin tidak keberatan kalau ke hotel.


Ah, Nuga otaknya payah!


Dia melirik bapak dengan tatapan dingin dan kesal. "Bapak ngomong apa, sih?"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2