Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
38


__ADS_3

Nanda bertahan di sini. Pikirnya, mereka pernah satu ranjang sebelum ini, dan tidak terjadi apa-apa. Ya, Nuga memang tidak pernah menyalahi apa yang keluar dari mulutnya. Tidur ya tidur. Tidak ada pegang ponsel, apalagi punya pikiran menyentuhnya.


Setelah sarapan dan mengantar Hima sampai ke depan pintu pagar, Nanda kembali ke kamar Nuga. Ya, di sana ....


Sementara pria itu entah dimana. Nanda mencarinya.


"Om ... Om dimana?" Nanda masih ingat untuk berteriak di sini, tentu agar Nuga menyadari keberadaannya. Kebanyakan nonton drama, jadi dia tahu kalau pemandangan aneh akan muncul di depannya. Jika di drama cowoknya kotak-kotak dan berkulit cerah dan bersih, di sini mungkin bentuknya rata atau menggumpal penuh lemak dan ya ... jelas kalau Nuga berkulit sedikit lebih gelap dari kebanyakan orang jawa. Bayangin sendiri deh ....


Nanda mencibir betapa tidak bagusnya badan suaminya ini. Jauh kalau dibanding Axcel atau Diwa sekalipun. Ck ....


"Sebentar!"


Nanda duduk di ranjang, menunggu di ranjang. Nuga berada di ruang ganti yang baru setengah tahun ini dibangun. Membelah ruangan ini jadi dua yang tidak sama rata, tapi terkesan lebih rapi, meski jadi lebih sempit.

__ADS_1


"Kenapa?" Nuga belum muncul, hanya suaranya saja semakin jelas terdengar.


"Pinjam hape lagi." Nanda terus terang. Mencari-cari alasan hanya akan membuat Nuga kesal dan pada akhirnya dia tidak bisa memegang lagi ponsel itu.


Aroma parfum pria itu yang menyentuh hidung Nanda pertama kali, lalu suara langkah, dan terakhir Nuga dengan penampilan segarnya mengulurkan ponsel pada Nanda. Membuat Nanda ternganga saking takjub akan penampilan Nuga.


Apa mengurangi jambang dan merapikan brewok di wajah pria itu membuatnya lebih segar? Atau memang Nuga sebenarnya lumayan untuk ukuran pria seusianya?


Nanda menunduk sedikit demi menghindari bertatapan dengan pria itu. "Makasih, Om."


Nanda menaikkan alis ... Duda ini jadi pendiam?


"Om nggak nanya buat apa aku pinjam ponsel?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Nanda sedikit menyesalinya. Bagaimana kalau Nuga berubah pikiran?

__ADS_1


"Memangnya kalau aku tanya, kamu bakal jawab?" Nuga tersenyum di depan meja kecil dimana tas kerjanya sudah siap. Nuga hanya perlu mengancingkan lengan kemeja, memakai jam tangan yang sudah berada di sebelah tas kerja.


"Ya jawablah."


"Pasti jawabannya bohong semua." Nuga terkekeh. "Pakai aja! Nggak akan aku check history-nya kok."


Nuga berbalik mendapati Nanda yang merengut, meski Nuga tahu Nanda hanya terlalu malu padanya. Ucapannya tadi benar kan?


"Aku sarapan dulu ...." Nuga masih tertawa saat meninggalkan Nanda.


Jika diperhatikan sejak kejadian semalam, Nanda itu ekspresif sekali. Wajahnya punya seribu ekspresi, seperti penari. Senang, sedih, haru, bahagia, tergambar dari setiap gerak tubuhnya. Seperti itu dan Nuga melihatnya. Hanya soal perjodohan kemarin yang Nuga sama sekali tidak tahu.


Dan, ya ... semalam mungkin momen terdekat Nuga dengan Nanda. Paling dekat sampai napas Nanda bisa dirasakan. Semalam, membuat Nuga berpikir, apa kepeduliannya selama ini benar-benar murni karena tanggung jawab, atau memang dia memiliki perasaan pada Nanda? Wajar mengingat mereka dekat, sampai kejadian akhir-akhir ini yang membuat mereka renggang.

__ADS_1


"Wah, pas banget, Pak ... airnya sudah mendidih, kopinya saya seduh, ya." Nur membuat lamunan indah Nuga buyar. Tapi pria itu tersenyum.


Nur melangkah ke dapur dengan kening berkerut dan bibir tersenyum. "Pak Nuga tersenyum, hihihi."


__ADS_2