Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
42


__ADS_3

Nuga sedang mengawasi ujian di kelasnya. Seperti biasa, Nuga selalu memberikan satu soal tentang materi yang diajarkan. Namun satu soal itu berhasil membuat mahasiswanya mengumpat dan menyumpahi Nuga.


Nuga memakai seluruh kata tanya yang ada, mulai dari apa, bagaimana, mengapa, dimana, siapa, dan kapan, ditambah satu kata yang sangat menjengkelkan yaitu jelaskan. Dua jam waktu yang diberikan terasa kurang. Sialan!


"Lima belas menit lagi!" Suara Nuga menggelegar dari kursinya. Meski demikian, suara itu berhasil mengoyak konsentrasi mahasiswa. Ada yang bahkan mulai menangis dan meringis. Nuga memang kejam dan galak. Meski rupawan, sebagian mahasiswa membencinya.


Mata Nuga menyapu seluruh ruangan. Mereka semua tidak akan punya kesempatan menyontek, atau meminta bantuan teman. Setiap individu tidak akan punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Ujian bersifat dadakan, dan random. Dalam hati Nuga terkekeh menikmati.


Ponsel Nuga bergetar, sebuah nama yang diberi nama "Nda" mengambang. Namun Nuga tidak menjawabnya.


"Bukannya chat, ya? Kok malah nelpon?" Nuga membatin. Saat dirinya hendak memasukkan ponsel ke saku celananya, sebuah pesan masuk.


"Hai, Ayang ... udah makan siang belum?"


Emot bibir monyong keluar love-nya mengekor banyak sekali. Alis Nuga terangkat sebelah. "Ini romantis? Dasar lebay!"


Nuga bergegas membalasnya, tetapi bibirnya tersenyum.


"Masih ngajar."


Tak berselang dua detik, Nanda membalas.


"Ayang buruan makan, nanti sakit loh. Jangan minum kopi lagi, ya ... minum jus aja biar sehat."


Kening Nuga berkerut, bibirnya tanpa sadar tertawa. "Apaan bocah ini?"


"Jus?" balas Nuga.


"Just for you ... emuah❤❤❤." Balasan Nanda terkirim tepat saat Nuga melihat dua detik bertambah pada timer yang dipasangnya untuk ujian.


"Eh, buset! Jago banget dia!" Nuga bergumam sedikit lebih keras dari biasanya. Dan Nuga hanya bisa berkedip menatap layar yang sudah mati.


Kepala Nuga berpikir keras. Namun kemudian, layarnya kembali menyala saat sebuah pesan masuk, membuat Nuga membukanya dengan cepat.


"Ayang ...."


Alis Nuga naik dua-duanya. Ini apaan sih? Apa beneran begini anak muda pacaran? Balas-balasan pesan yang tidak penting begini?


Namun Nuga tetap membalasnya.


"Apa?"


Mata Nuga menyipit, melihat ceklis sudah biru, dan Nanda sedang mengetik. "Cepet banget, apa dia nggak tau apa itu nelpon, ya?"


"Cie ... yang merasa udah jadi sayangnya aku."


"Ayang, balas cepat, ya ...."


"Ayang bisa berdiri nggak?"


Meski keningnya berkerut hebat, dan Nuga tetap membalas.

__ADS_1


"Bisa ...."


"Bisa jalan, nggak?"


"Bisa ...." Nuga merasa ini mulai konyol.


"Sabtu nanti ya, Ayang ... sekalian malam mingguan."


"Hehehe ... love you Ayang."


Nuga kali ini benar-benar tertawa sampai semua mahasiswanya menatap Nuga.


"Bisa banget sih, itu anak." Kepala Nuga menggeleng. Dipanggil Ayang, mengatakan love you, seakan nggak punya beban ... Dasar receh banget ni, bocah.


"Balas dong, Om! Masak di baca doang!"


Otak Nuga langsung membeku dan menggumpal. Itu dipelajari di buku apa? Siapa yang menulisnya? Tahun terbitnya kapan?


Nuga menunduk, memikirkan apa yang harus dia tulis untuk membalas Nanda.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, dan dua puluh menit telah berlalu. Tapi Nuga belum mendapatkan jawabannya.


Kelas menjadi sangat gaduh saat Nuga lupa waktu ujian telah habis. Dan baru sadar saat seorang siswanya yang berkaca mata lebar maju untuk mengumpulkan tanpa diminta.


"Woe, Anj** ... sok pinter! Kita belum selesai, Woey!"


Teriakan itu membuyarkan pikiran Nuga. Pria itu berdiri dan langsung mengatasi kegaduhan hanya dengan dia berdiri di depan kelas.


"Tugas kalian saya anggap selesai, jika kalian menyebutkan satu teman kalian yang suka melawak, suka memanipulasi kata-kata sehingga cewek-cewek jatuh cinta!" Tangan Nuga naik ke atas untuk menghitung.


Tentu mahasiswa Nuga tahu, jika tidak sesuai ekspekstasinya, mereka bahkan harus mengulang sepuluh kali ditulis tangan, tanpa ada jejak tipe-x. Itu yang membuat mereka berpikir ulang.


"Ingat, satu nama, dan kalian dapat nilai sempurna!" Nuga memperingati ketika hitungannya sampai ke hitungan tiga. "Sampai lima saja!"


"Saya, Pak!" Seorang mahasiswa pria bertubuh kurus berdiri, lalu dengan berani maju ke depan seraya membawa lembaran tugasnya, dibawah tatapan dan bisik-bisik mahasiswa lain.


"Duduk di sana!" Nuga menunjuk meja kosong di sebelah kiri ruangan.


Nuga menerima kertas itu lalu menunjuk salah seorang mahasiswa mengumpulkan kertas ujian. "Kalian boleh keluar!"


Mahasiswa yang lain mengejek Saka yang dirasa terlalu berani mengambil resiko dengan mengaku dirinya sebagai raja gombal.


Saka menunduk, jujur saja dia takut, tapi sudah terlanjur, kan?


"Pak ... Saya mau diapain ini?" Saka akhirnya bertanya pada Nuga yang mengemas kertas ujian.


Nuga segera mendekat, lalu berkata dengan tegas di depan Saka. "Bantu saya menyusun kata-kata romantis, agar saya bisa menang taruhan. Hanya satu minggu saja, nanti saya beri hadiah."


"Beri saya nilai A untuk materi anda, Pak." Saka menawar. Tidak ada yang lebih berharga dari mendapat nilai sempurna pada materi sulit seorang dosen killer kan?


"Itu bukan malah akan membuat kamu bodoh! Mau atau tidak tawaran itu?!" Nuga berdecak.

__ADS_1


"Mau, Pak—mau!" Saka menjawab cepat.


"Ini rahasia, ya, Ka! Awas kalau kamu sampai bocor!" ancam Nuga seraya mengirimkan chat Nanda ke nomor Saka.


Saka membuka ponselnya gemetar, lalu tertawa terbahak-bahak. Sial ... Nuga hanya bisa melotot menatap Saka yang tidak bisa berhenti tertawa.


***


Di rumah, Nanda terkekeh senang saat Nur membantunya mengobati luka. Nuga sudah hampir setengah jam tidak membalas chat nya.


Namun, belum sampai sepuluh detik, pesan dari "Duda Tua Kolot Karatan" muncul di notifikasinya. Nanda membukanya dengan cepat.


"Maaf baru bales ... lagi minum jus pare. Rasanya kok pahit, ya?"


"Oh, aku lupa ... manisnya dibawa sama kamu semua."


Nanda tersenyum membacanya. Walau agak garing sih. Lumayan.


"Baby, abis Sabtu kita jalan, besoknya kita Akad, yuk ...."


"Ya ampun, dadaku kok mendadak nyeri, ya ... kaya ada yang hilang, Baby."


Nanda sedikit panik, apa Nuga kena serangan jantung?


"Oh, ternyata jantung hatiku ada padamu."


Nanda mengerjab, takjub "Astaga si Om. Bisa juga dia chat begini?"


"Baby ... nanti malam jangan tidur, ya ...."


Nanda mengerutkan kening. Membalas cepat. "Ya kan ngantuk kalau nggak tidur. Ih, jangan ngadi-ngadi ya, Om."


"Memangnya, kamu nggak mau kasih Hima adik bayi?"


Mata Nanda melebar. Napasnya menderu dengan cepat, jantungnya berdebar kencang. Benaran si Om kah ini?


"Nda ... aku ambil es batu dulu." Nur tiba-tiba menyeletuk. Nanda kaget, pikirnya lukanya infeksi atau apa.


"Untuk apa, Mbak?"


Nur dengan cepat meraba kening Nanda. "Kamu demam pas diajak Duda bikin bayi!"


Astaga ....


"Mbak Nur ngintip, ya!" Kesal Nanda seraya melotot ke arah Nur yang kabur sambil tertawa.


*


*


*

__ADS_1


Sorry kalau garing🙃


__ADS_2