
"Mas ... i-ini maksudnya?" Mata Nanda melebar tak percaya. Apa ini? Bercandakah Diwa ini?
Diwa tersenyum seraya memeluk pundak Nanda. "Mas melepas cintanya Mas dengan ikhlas. Semoga Mas nanti dapat jodoh yang sebaik dan secantik kamu."
"Mas ...." Mata Nanda berkaca-kaca. "A-aku—"
"Ayo cepet kamu pergi sebelum mereka memulai acara ini." Diwa menarik tangan Nanda dengan kepala mengawasi orang yang tekun mendengar pembawa acara memulai acara.
Masih dalam mode bingung, bagaimana menyikapi keputusan Diwa, Nanda menurut pada pria itu. Dia perlahan menuju motor milik Diwa.
"Kembalilah pada kekasihmu, Nda. Mas rela." Diwa tersenyum sebelum meninggalkan Nanda yang masih gemetar.
"Mas—"
Diwa melambai dan masuk ke dalam rumah. Menghadapi kemarahan semua orang demi membiarkan seorang gadis meraih bahagianya. Diwa yakin bisa tahan dengan kemarahan itu, yang dia tidak bisa adalah melihat wanita terpaksa bersamanya.
Nanda melajukan motor menuju rumah, dan langsung membuka ponsel untuk menghubungi Axcel. Namun, justru Tasya yang menelponnya lebih dulu.
__ADS_1
"Ya, Tes." Nanda membuka kancing kebayanya cepat, tetapi kancing kecil itu sangat sulit terlepas dari kaitnya.
"Kamu kemana aja, Ndes? Axcel nyariin kamu ke rumah Pak Nuga tadi, dan katanya kamu nikah hari ini? Bener itu?!"
"Nggak, bukan begitu!" Nanda menghentikan tangannya melepas kancing dna fokus mendengar Tasya. "Aku baru lamaran, tapi gak jadi. Ini aku mau siap-siap cari travel atau bis buat balik ke sana."
"Aduh, Nanda... kenapa batalnya nggak dari tadi aja, sih?"
Kening Nanda berkerut, tidak mengerti apa yang dikatakan Tasya ini. Jika dia bisa menolak saja, hari ini dia tidak akan ada di sini, melainkan mengantar Axcel yang akan berangkat ke Jerman. Tasya ini bagaimana, sih?
"Maksud kamu apa, Tes? Kalau aku bisa nolak, aku nggak akan kebingungan seperti sekarang ini."
"Tes ... aku berangkat ke sana sekarang. Tapi aku minta bantuan kamu buat ke rumah Axcel buat kasih tau kalau aku batal lamaran. Aku otewe, mungkin beberapa jam lagi aku sampai." Nanda melirik jam seraya membuka rok pres bodi yang menghimpit kakinya.
"Tapi—"
"Demi aku, Tes ... aku pernah motoran dari sini, kalau kamu nggak yakin aku bisa sampai lebih cepat." Tasya membuka lemari, lalu menarik jaket, mengambil tas dan dompet serampangan.
__ADS_1
"Aku tidak janji, ya."
"Oke, aku berangkat." Panggilan itu segera dimatikan. Nanda menyambar helm, lalu memakainya seraya berlari menuju motor miliknya meninggalkan motor Diwa yang diparkir bersebelahan dengan motornya.
Meski gemetar, Nanda mengeratkan peganganya pada stang motor. Membelah malam menuju ke kota dimana Axcel tinggal.
"Cel ... 7 jam lagi kita ketemu. Kamu yang sabar, ya ... tunggu aku." Nanda membatin dengan air mata turun begitu deras. Hatinya tersentuh oleh perasaan haru. Atas pengertian Diwa yang mungkin tidak akan pernah bisa Nanda balas dengan apapun di dunia.
Setelah semua ini berakhir, Nanda berjanji akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan hati Diwa.
Sekarang dia hanya perlu yakin bisa menembus gelapnya malam menuju Axcel.
*
*
*
__ADS_1
Ngetik di mobil puyeng ternyata😅