
"Saya terima nikah dan kawinnya Saktia Firnanda Suci binti Prasetyo Utomo dengan mas kawin uang tunai dua juta rupiah dibayar tunai!"
Ini akad nikah keduanya. Mendebarkannya sama. Jantung Nuga malah seperti siap menggelinding dari dada saat membayangkan betapa marahnya Nanda sewaktu bangun nanti. Pria yang bukan tipe ideal Nanda telah sah jadi suaminya. Duda tua, kolot, kaku, karatan. Beruntung Nanda tidak rasis, kalau tidak, dia pasti mengatai dirinya hitam dan dekil.
Dia merasakan kontras perbedaan kulitnya dengan Nanda, bahkan pernah mandi dengan sabun mengandung pemutih, tapi dia hanya menjadi sedikit coklat saja, tanpa mau kuning langsat walau sejengkal. Nanda juga yang merekomendasikan sabun merk tertentu pada Nuga meski dalam konteks bercanda. Anehnya, Nuga membelinya.
Kata sah menggema, diiringi doa yang meminta keberkahan atas pernikahan ini. Di sini, hati Nuga kembali serakah. Pernikahan ini adalah yang terakhir—begitu doa dia panjatkan. Dia tidak mau menikah lagi setelah ini, apapun yang terjadi. Cukup sudah dia menjadi orang yang nasibnya begitu mengejutkan.
Dengan Nanda terbaring, Nuga mencium kening Nanda. Yang anehnya, ketika bibir Nuga menyentuh kulit Nanda, dia merasakan firasat baik. Seakan semua kesulitan akan teratasi dengan mudah. Ada kesan bahwa sikap Nanda yang ceria akan membuat hidupnya penuh warna.
"Mas Nuga ... nanti setelah dokumen nikah kalian jadi, resepsi segera diadakan. Tolong kasih tau orang tuamu, ya." Pras memberikan tatapan penuh isyarat dan berharap Nuga paham akan kondisi yang terjadi. Ini akan lebih baik, biar kehamilan Nanda tidak terkesan terjadi sebelum pernikahan berlangsung.
Nuga mengangguk. "Njih, Pak. Dalem manut, bagaimana baiknya saja."
Di dalam mata Pras, Nuga melihat ada kekecewaan terhadap dirinya. Pras mungkin tidak bisa berbuat banyak, sebab menitipkan Nanda bersama pria yang lama menduda juga termasuk kesalahan. Tapi sejauh ini, Nuga ini tak tampak seperti laki-laki brengsek. Apa mungkin, pergaulan di kota begitu bebas dan terbukanya, sampai dua manusia ini terlena.
Pras menghela napas, "istirahatlah, Mas ... pasti seharian ini Mas Nuga kecapekan urus Nanda."
Nuga mengangguk dan karena Pras membahasnya, kini badan Nuga beneran sakit semua dan lelah luar biasa dirasakannya.
Pras menepuk pundak Nuga, seakan apapun yang telah terjadi tak memperngaruhi hubungan baik keduanya.
Kamar ini menjadi sepi setelah semua orang bubar. Seakan mereka memberi kesempatan Nuga untuk berduaan dengan Nanda di sini. Meski Nanda masih terlelap dalam pengaruh obat penenang yang diberikan sebelum kemari. Nuga menarik sudut bibirnya, meski ditinggal berduaan tetap saja mereka tidak akan melakukan apa-apa, kan? Bukankah salah satu dari mereka menemani Nanda disini?
Ini gila. Nuga benar-benar sedang berusaha mempercayai apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia memiliki istri lagi dalam tempo 24 jam setelah membuat kekasih wanita ini patah hati. Dia tampak kejam kemarin, seakan serakah ingin memiliki Nanda sendirian.
__ADS_1
Nuansa kamar Nanda temaram dan hangat. Nuga merasa hatinya ikut menghangat. Sentuhan Nanda terasa sekali disetiap sudut kamar yang begitu menenangkan. Ini pula yang selalu membuat Nuga betah lama-lama di kamar Hima.
Nuga duduk di kursi yang menghadap meja belajar Nanda yang kosong. Ponselnya berdering dan ada panggilan dari ibunya di Sidney—oh, mungkin sedang di Melbourne sekarang.
"Nak, Hima baik-baik aja, kan? Perasaan Ibuk ndak enak akhir-akhir ini ... Nanda gimana? Sehat kan?"
Nuga menekan rapat kedua belah bibirnya. Suaranya membeku di tenggorokan.
"Nuga ...."
"Erm ... Hima baik, Bun hanya lagi demam. Aku sekarang di rumah Nanda, Bu ...."
"Kenapa, Ga?"
"Maafin aku yang nggak minta izin dulu sama Ibuk ... aku nikahi Nanda hari ini, Buk."
"Hah ... beneran itu, Le? Tapi kenapa mendadak? Serius kamu nikah sama Nanda? Apa kalian ...?"
Tampaknya Hapsari bingung harus merespons bagaimana. Yang jelas ini sangat mendadak. Bukan tidak setuju tampaknya.
"Nggak ada apa-apa, Buk ... Hima sakit pas denger Nanda mau dijodohkan sama orang lain. Jadi—"
"Ya wes lah, Ibuk sih ndak masalah ya, asal kamunya mau dan Nanda bisa nerima kondisi kamu. Gimana pun, kamu udah ada Hima, kalau Nanda bisa terima ya, nggak masalah. Ibuk sama Bapak setuju, asal kamu jaga baik-baik Nanda, dia masih kecil."
Ada makna yang dalam dari restu yang Nuga dapatkan. Di sini Nuga baru merasa dirinya agak kurang ajar.
__ADS_1
"Makasih ya, Buk ... kalau bisa minggu depan Ibuk pulang, ada resepsi yang akan dilangsungkan oleh keluarga Nanda." Suara Nuga yang biasa keras dan berat itu sekarang menjadi sangat lembut dan lirih. Matanya masih lekat memandang Nanda yang tidur dengan damainya.
"Ibuk bilang dulu sama Bapak dan Masmu, moga-moga bisa pulang sama Mas mu juga."
"Salam buat Yan dan Michelle, ya, Buk ...."
"He eh, ya udah ... Ibuk bicara sama Bapak dulu. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai sakit. Sekarang bukan hanya Hima yang harus kamu jaga, tapi Nanda juga. Dia itu putri sahabat Bapak. Bisa patah leher kamu kalau sampai kamu nyakitin dia."
Nuga mengangguk meski ibunya tak akan melihat. "Njih, Buk ... In Syaa Allah. Assalamualaikum."
Ya, begitulah Nanda di mata orang tuanya. Bahkan jauh lebih berharga darinya. Keinginan mereka untuk memiliki mantu dari anak Prasetyo memang sudah sering mereka katakan, tapi rasanya tidak mungkin sebab Yuna menolak Yan dan Nuga mentah-mentah dulu, semenatara Nanda masih terlalu kecil. Dan sekarang—mungkin doa-doa mereka terkabul, satu persatu. Mulai dari memiliki 3 cucu perempuan, dan menantu yang sesuai dengan keinginan.
Nuga kembali menggulir layar ponsel, berniat mengabarkan bagaimana kondisi Hima sekarang. Lagian ini sudah malam, sudah lama sekali sejak terakhir dia menelpon Nur.
"Axcel ...." rintih Nanda, membuat pandangan Nuga beralih.
"Cel ... kamu kemana?"
*
*
*
Maaf, agak melow dan lebay di sini😌 untuk kenapa Nanda berdarah, nanti akan Tasya jelaskan di bab selanjutnya ya🤭 wkwkwk, kemarin belum jelas kayaknya🤭
__ADS_1