Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
57


__ADS_3

"Nda ...." Hima berlari ke arah Nanda saat Nanda baru menjejakkan sebelah kakinya di tanah. Seakan rindunya sudah tak tertahan lagi untuk Nda.


Nanda menyambut gadis 5 tahun itu penuh suka cita. "Halo anak gadisnya Nda yang paling cantik ... kangen sama Nda, ya? Maaf, ya, Nda lama tadi keluarnya."


Dipeluknya tubuh Hima dengan erat, diciumi pipi Hima yang cukup chubby berulang kali. "Udah wangi juga ... mandi sama siapa tadi?"


"Sama Mbak Cica." Hima melepas pelukan, menatap Nanda penuh arti. Tangan kecilnya mengusap pipi Nanda.


"Kenapa? Kok kaya nggak seneng Nda pulang?" Mencoba tersenyum, Nanda mencubit dagu Hima yang sebulat telur. Gadis itu menggeleng sebagai jawaban, tetapi matanya segera beralih ke Nuga yang sibuk menurunkan belanjaan sampai tidak memperhatikan Hima.


"Nda pilih Hima atau Ayah?"


"Ha—"


"Ya, maksud Hima ... Nda istrinya Ayah dan aku anaknya Nda, kalau suruh milih, Nda maunya bobok sama aku apa Ayah?" Hima sedikit berbisik. Dia takut ayahnya dengar dan tidak terima. Lagian, bukankah jadi ibu lebih penting dari jadi istri?


Nanda bingung, tapi untuk sekarang jelas dia pilih bersama Hima. Ya, tidur dengan Nuga membuat hatinya dalam bahaya. Jantungnya semalaman berkerja keras sampai dia terganggu oleh detak jantungnya sendiri.


"Nda sama Hima saja, deh ... Ayah nggak suka kalau Nda berisik." Alis Nanda naik turun, seolah saling mengerti kenapa Nuga tidak suka diganggu tidurnya.


Seketika, Hima memeluk Nanda di leher sampai napas Nanda nyaris habis tercekik.


"Thanks ya, Nda ... udah mau milih Hima. Hima janji nggak akan nakal atau rewel mulai sekarang."


Belum sempat Nanda bereaksi, suara besar Nuga menyela.


"Eh, kok malah pelukan di sini? Ayo masuk, udah hampir magrib! Nda masih kotor, biar mandi dan sholat dulu, baru ngobrol lagi!" Walau tidak berat, tapi banyaknya kantung membuat Nuga repot, sehingga kesusahan untuk masuk. "Ayo, buruan, Nda ... udah masuk waktu!"

__ADS_1


Nanda patuh tanpa banyak bicara atau keberatan. Dia mengajak Hima dan bergegas membersihkan diri sesuai perintah Nuga. Sementara pria itu tampak gupuh bersiap pergi ke masjid dekat rumah.


***


Sekitar jam setengah delapan malam, Nuga kembali dan menyusul Hima dan Nanda di meja makan.


Dia memang membiasakan agar Hima makan lebih dulu, tanpa harus menunggu dirinya yang terkadang masih ngobrol dengan pengurus masjid atau pengurus lingkungan.


Namun kali ini, mereka semua belum makan sebab masih asyik membicarakan keinginan Hima dengan Nur dan Cica. Mengatasi dua wanita itu, Nanda sungkan sendiri.


"Aku hanya takut Mbak Nur repot di sana, lagian Mbak jarang pulang, bukannya Hima malah ganggu acara keluarga Mbak Nur?" Mungkin Nuga keberatan karena alasan yang sama dengan dirinya. Tadi Nuga agak kesal pas Hima mengatakan ingin ikut Nur, untuk alasannya apa, Nanda tidak sempat bertanya.


"Ndak apa-apa, Nda ... Hima masih kecil, kemana-mana bisa aku gendong. Ada Cica juga nanti, sekalian liburan walau hanya dua hari." Nur berpindah dari meja dapur ke meja makan, tangannya penuh dengan menu makanan untuk makan malam kali ini.


"Tapi kalau Pak Nuga ijinkan, kalau enggak, Hima ndak boleh bantah Ayah, ya." Nur beralih ke Hima yang duduk menyantap sosis panggang dengan khidmat. Gadis itu mengangguk.


Nur mendengus samar lalu membatin; Hima memang plin plan, harusnya dia maksa ikut. Kalau gini caranya bisa gagal misi yang dijalankan dengan Cica.


"Aku udah minum obat, kok." Hima menyela, ditatapnya Nur yang tersenyum puas padanya. "Aku akan jaga diri kalau ikut Mbak Nur, asal Nda segera punya bay—"


"Pokoknya nunggu Ayah saja, Hima ... jangan terlalu banyak berharap," sela Cica cepat.


Nuga mendengar ucapan anaknya dengan jelas dan tahu apa maksud diajaknya Hima oleh Nur. Pria itu tersenyum saat masuk ke ruang makan.


"Hima abis sakit." Sebaris kalimat yang membuat Hima merengut saat menoleh ke arah ayahnya datang. Pun dengan Nanda yang tidak tahu harus melakukan apa saking canggungnya. Biasanya, dia menggoda Nuga, mengolok pria itu mampir ke rumah Mey lebih dulu sebelum pulang. Tapi dia juga sering menyiapkan makan untuk Nuga, tanpa diperintah, sebab merasa Nuga sama dengan Bagas dan Dika.


Nuga duduk dan menatap Nanda lamat-lamat, dia tersenyum lagi. "nanti bikin repot Mbak Nur."

__ADS_1


"Ndak ada yang repot kok, Pak." Nur jelas ingin Hima bersamanya agar misi belah duren sukses. "Malah saya senang kalau Hima mau ikut ke rumah saya di desa."


"Dia kan sekolah, Nur ... masa kamu dukung Hima bolos?" Nuga menatap Nur dan Cica bergantian. Membuat Nur dan Cica tak bisa berkutik.


"Hima akan bawa obat, akan jadi anak baik, akan nurut apa yang Ayah larang! Nda kan guru Hima juga, jadi Nda tau kemana Hima pergi! Ya kan, Nda?" Hima menatap Nanda penuh permohonan sampai mengguncang lengan wanita itu.


"Ayah bilang jangan ikut, Hima!" Nuga menatap Hima penuh peringatan, kemudian beralih ke Nanda yang terkejut saat membalas tatapannya.


"Boleh, ya, Nda! Plis, Hima ingin pergi ke rumah Mbak Nur! Hima ingin hiling ke kampung dan lihat bebek!" rengek Hima di samping tubuhnya. Mata gadis itu menatap Nanda penuh harap. "Janji setelah ini Hima nggak akan bikin Nda repot, Hima akan jadi anak baik."


Nuga tersenyum licik saat mengambil gelas berisi air putih. Tatapannya melirik Nanda lagi, seolah menyiratkan sesuatu yang mengerikan seperti; semua di tangan kamu, Nda!


Nanda mengerjabkan mata saking bingungnya. Mengizinkan Hima artinya dia yang membiarkan dirinya berdua saja dengan Nuga, tidak mengizinkan dia tidak tega pada Hima.


Nanda menoleh ke arah Nuga dengan perasaan dilema. "Om ... masa kaya gini?"


"Ya, aku terserah kamu!" Nuga mengendik acuh.


Nanda menunduk lemas menghadap Hima. "Hima ... jangan ikut ya. Nanti Nda sama siapa kalau Hima ikut Mbak Nur? Sendirian dong, entar Nda kesepian gimana?"


"Ada Ayah ... nanti sama Ayah terus dan Nda bisa jadi istri yang baik buat Ayah selama Hima pergi. Setelah aku pulang, Nda bisa jadi Mama Hima lagi tanpa harus rebutan sama Ayah," jawab Hima santai dengan mata mengerjab riang.


Ya Tuhanku! Nanda hanya bisa membuang napas kasar saat Nur dan Cica pura-pura terbatuk saat meninggalkan meja makan. Sementara Nuga tak memudarkan senyumnya.


Walau sebenarnya tanpa Hima pergi ikut Nur, Nuga tetap bisa melakukan apa saja pada Nanda. Gadis itu miliknya secara sah ... walau gunung di tengah-tengahnya juga akan disingkirkan demi menyentuh Nanda.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2