Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
54


__ADS_3

"Jika aku kemari, berarti kalian telah mengusik kami dan Hima!"


Di dalam ruangan itu ada Yessa yang pucat pasi, ada sepasang orang tua yang syok melihat kedatangan Nuga di tengah acara makan siang mereka, juga seorang pria yang memakai celemek di pinggang, yang sedari tadi menatap heran Nuga dan Nanda. Suasana di sini, dingin, tegang, dan mencekam.


Yessa memucat di balik dress merah bunga-bunga yang seharusnya membuatnya terlihat segar. Bibirnya gemetar, tangannya saling meremas ketakutan.


Nuga bersikap seperti jauh lebih kejam dari yang biasa Nanda lihat. Dia biasa mencorat coret kertas hasil tulisan mahasiswanya tanpa rasa iba sedikitpun, itu sudah mengerikan menurut Nanda, tapi ini, Nuga bahkan terlihat seperti bukan manusia. Entah apa yang disembunyikan pria itu selama ini, sampai membuatnya marah seperti ini.


"Sudah habis uang kalian? Bosan hidup enak dengan mengutus anak kalian menghasut istri saya?" Nuga menatap tajam wanita yang duduk di meja makan menghadapi sepiring spageti yang terlihat lezat. Wanita itu menelan ludah susah payah, lalu menatap Yessa bingung.


"Saya diam selama ini atas kejahatan yang kalian lakukan pada Arum! Saya berbaik hati demi Hima. Demi cucumu, demi keponakanmu. Demi kakak kamu yang sudah mati!" Mata Nuga beralih dari ibu kandung Arum kepada Yessa. Dan Nanda kaget bukan main mendengarnya.


"Pergi kalian dari tempat ini sekarang juga! Atau saya akan melaporkan kalian atas semua kejahatan kalian di masa lalu! Lima tahun itu waktu yang lama untuk membuat kalian insyaf atau bahkan memulai hidup yang lebih baik! Tapi aku salah, kalian manusia busuk yang tidak tahu malu!"


Nanda gemetar mendengar kemarahan Nuga. Dia jelas tahu, ambang batas kesabaran Nuga pasti telah habis ketika semua makian dan kata kasar terlontar dari mulutnya.


"Pak ... Saya minta maaf—Saya nggak bermaksud mengusik kalian! Ini karena desakan istri baru Bapak yang terlalu ingin tahu dan membuat saya terpaksa menceritakan semuanya!" Yessa berlari ke depan Nuga dan berlutut, menangkupkan telapak tangan di depan dada, tanpa berani menyentuh Nuga. Atau Yessa bisa mati. Pria itu memiliki tindakan spontan yang luar biasa kuat.


"Eh, jangan fitnah ya! Kalau pun aku kepo, harusnya kamu bicara yang bener dong! Kok kamu malah bikin aku salah paham sama Om, sih? Aneh kamu, Yessa! Aku nggak bakal kesel kalau kamu bilang yang sebenarnya, Markonah!" Nanda menyela dengan gayanya yang memang suka sembarangan. Jika dia benar, dia tidak akan ada yang membuatnya takut meski Nuga sekalipun. Ya, walau di sini, dia sedikit punya alasan menyalahkan orang lain atas kekepoannya berlebihan. Yang dikatakan Yessa benar, dia yang mendesak Yessa menceritakan soal Arum, tapi bukan berarti diberi cerita mengada-ada kan?


"Aku hanya bilang kalau mereka nikah karena Arum hamil ... itu tidak salah, kan?" Yessa menatap Nanda kesal. Nanda yang masih muda pikirnya bisa dimanipulasi, dan Nuga percaya padanya.

__ADS_1


"Ya, tapi kamu nggak menjelaskan hamil sama siapa, kan? Malah kamu bilang semua orang itu hanya baik dari luar, di dalam sama saja dan punya rahasia, kamu lupa?" bantah Nanda yang membuat Yessa diam tak berkutik.


Nuga merasa Nanda telah menjelaskan apa yang terjadi di pertemuan itu, dan Nanda adalah jalan untuk memutus masa lalu Nuga dengan keluarga Arum yang mirip parasit.


"Dalam perjanjian, meski kita bertemu, kita tidak boleh bertegur sapa! Kita dua orang yang tidak saling kenal. Hima milikku sepenuhnya, aku sudah mengganti semuanya dengan kemewahan yang kalian nikmati saat ini! Tapi perjanjian itu batal karena Yessa menemui dan menghasut istri saya!"


Yessa membeliak. "Pak ...."


Nuga bergeming di tempatnya, tatapannya masih tertuju pada meja dan manusia di sekelilingnya.


"Kemasi barang kalian dan pergi dari sini! Jika kalian masih berani mengusik kami, maka suami anda akan saya laporkan atas tuduhan pemerkosaan, tindakan aborsi, penindasan, pemerasan, dan percobaan pembunuhan! Jangan pikir saya diam tanpa tahu siapa biang masalah dalam hidup Arum! Saya hanya memikirkan ucapan Arum, agar Yessa dan Jordi tidak kehilangan sosok ayah seperti dirinya dengan membiarkan suami anda tetap bebas!"


"Suami anda, Budi Suharsoyo adalah ayah dari Quenzee Himalaya. Gadis kecil yang kalian kembalikan pada saya dengan tebusan rumah dan kehidupan yang mewah!"


Nuga melirik pria bernama Budi itu dengan bengisnya. "Bapak ingat dengan jelas kan, sewaktu membawa bayi Hima keluar dari rumah sakit, dan akan melemparnya dari jembatan malam itu? Ingat bagaimana Arum memohon agar Hima dibiarkan hidup, padahal anda tau, Arum dalam keadaan lemah setelah satu ginjalnya diambil? Anda menjual anak tiri anda seperti anda menjual seekor ayam setelah menodainya secara paksa! Apa anda masih pantas disebut manusia?!"


"Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa saya melakukan apa yang anda tuduhkan!" Budi berdiri perlahan, menatap Nuga seolah kejadian itu hanya ada di dalam khayalan Nuga. "Jika saya melakukan itu, maka seharusnya detik itu juga kamu jebloskan saya ke penjara! Ini sudah terlambat kan?"


Nuga tersenyum sinis, menantang Budi dengan berani. "Saya masih menyimpan semua ini dan beruntung putri anda membuat kekacauan sebelum kasus dinyatakan ditutup! Polisi masih mencari siapa penerima uang penjualan ginjal Arum! Jika Anda mau, saya bisa bawa kemari semua buktinya!"


Wajah Budi sepucat tembok. Tatapan dari istrinya, Yessa, terlebih Jordi membuatnya tidak berdaya.

__ADS_1


"Benar kamu lakukan itu pada anakku, Mas?" Ibu Arum bercucuran air mata. Sungguh dia tidak menyangka jika Arum yang dinyatakan bunuh diri itu sudah tidak utuh lagi. "Aku sudah melakukan semua yang kamu mau, termasuk membuang Arum, menutupi pemerkosaan yang kamu lakukan, tapi masih tega kamu memanfaatkan anakku yang sudah kamu lecehkan untuk kepentinganmu sendiri?"


"Ma ... Jangan dengarkan dia! Dia jelas bohong soal itu!" Budi tergagap saat mendekati istrinya. "Ini semua demi kebaikan kita, aku nggak ada niat apa-apa selain menyelamatkan kita! Arum itu rusak, Ma ... dia pantas mendapatkan semua itu!"


"Jangan dekati aku selangkah saja, Mas, atau aku akan membunuh kamu dengan tanganku sendiri!"


Mereka berdua saling berdebat di bawah tatapan penuh tangis Yessa dan ketidakpercayaan Jordi.


"Waktumu berkemas sampai jam lima sore nanti. Besok tempat ini akan dibeli orang!" Nuga memperingati Yessa yang masih terduduk dan syok.


Perlahan mata wanita itu naik, menatap Nuga berkaca-kaca. "Pak ... apa aku tidak bisa menggantikan Mbak Arum? Saya ingin menjadi ibu Hima, dia anak kakak saya ... kami menyesal telah memberikan Hima begitu saja."


"Hima sudah punya Ibu yang sejak dia tinggal di rumahku!" Nuga meraih tangan Nanda dan menariknya lebih dekat ke sisinya. "Bagi Hima dia adalah ibunya. Tidak ada ibu yang lain selain Nda-nya!"


*


*


*


Tunggu Up nya Nayra ya🙏 Thanks ... abis ini kita uwu2an sama Dukol ya🤭

__ADS_1


__ADS_2