
"Belum tidur?"
Nanda bangun tergesa-gesa seraya menarik baju menutupi dadanya. "Om ...."
Nuga tersenyum kecil, lalu duduk di ranjang. Bersikap seolah tidak melihat ada apa-apa. Nuga bertekat untuk tidak membuat Nanda takut, membiarkannya merasa nyaman dan aman di sisinya dulu.
"Sudah pake salep?" Tangan Nuga meraih salep yang dilemparkan Nanda tadi. "Sini biar aku bantu."
Nanda melipat bibirnya, ragu-ragu. Ia menatap Nuga tanpa mengatakan apa-apa.
"Nggak usah takut gitu, kali." Nuga tertawa sambil mendorong bahu Nanda agar memutar badan ke samping. "Buka aja! Nggak semua pria suka curi pandang ke badan cewek ... aku nggak suka ambil kesempatan saat orang lagi susah."
Nanda menoleh penuh peringatan. "Awas kalau sampai macam-macam!"
Nuga membalas itu dengan tawa tanpa suara. "Udah, buka aja! Lagian, badan kamu itu nggak menarik, nggak akan membuat aku tergoda."
"Ck ... nggak ada jaminan untuk yang satu itu! Kunti aja kalau pake lingeri, diembat juga!" Melirik sebal Nuga, Nanda memutar badan membelakanginya, menutup rapat bagian depan badannya. "Om merem!"
"Nggak bisa dipukul rata juga, kan? Apalagi yang udah seusiaku!" Nuga mengendik acuh saat mengeluarkan salep ke ujung telunjuk, lalu benar-benar menutup mata. Tangan pria itu terulur acak dan mengoleskan salep di pinggang Nanda.
"Kalau salah sentuh, aku nggak tanggung jawab, ya!"
Nanda terkejut mendengarnya, lalu secara refleks, makin merapatkan tangannya di sekitar dada. "Om jangan ngawur, ya! Buka mata kalau gitu!"
"Ck, penakut!" Nuga membuka mata, lalu mendekat sampai sisa kakinya yang terlipat sebagai jarak. Tetapi tetap menjaga jangkauan pandangannya.
Keduanya terdiam, Nanda hanya mengalihkan tangan sedikit ke depan atau ke belakang agar semua bagian yang iritasi bisa tersapu obat. Sementara Nuga, napasnya sedikit berat dan pendek.
Dia harus mengalihkan perhatian!
"Tadi jadi nonton?"
__ADS_1
Apaan itu? Jelas keadaan diluar tadi mengatakan segalanya. Tidak biasa dia menanyakan hal yang receh tak berbobot begini, kan?
"Ja—eheem, jadi." Suara Nanda sedikit serak. Permukaan tangan Nuga sedikit kasar menyentuh kulitnya, dia merasakan sesuatu yang aneh lagi, yang sebelum disentuh Nuga, sama sekali tidak pernah dirasakannya. Nuga melakukan sesuatu yang intens, yang membuatnya addict.
"Baju kamu basah?" Nuga melirik bagian baju Nanda yang berada dibawah cengkeraman tangan Nanda. "Ada baju ganti di dalam—aku ambilkan!"
Nuga berdiri kemudian melangkah cepat ke kamar ganti, semenit kemudian kembali dengan atasan piyama berwarna biru tua. "Punya mamanya Hima, keberatan nggak kamu pakai?"
Nanda menatap Nuga canggung. Mungkin sesuatu soal mama Hima berarti buat Nuga. Jadi apa dia tidak sedang mengacaukan perasaan Nuga? Apa dia akan membuat Nuga sedih ingat Arum lagi?
"Aku ambilin baju kamu, ya?" Nuga menarik kembali pakaian itu, lalu bersiap keluar.
"Om nggak apa-apa? Nggak sedih kalau baju itu dipakai orang lain? Maksudku, Om pasti sering lihat mama Hima pakai baju ini saat sama Om ... aku takut—"
"Kadang istri Yan pakai baju Arum kalau di sini. Sebagian disumbangkan, sebagian dikasih ke yang mau. Ini hanya baju, Arum nggak akan keberatan bajunya dipakai oleh kamu. Aku yang nggak sopan dengan menyuruh kamu pakai baju bekas. Harusnya, aku meluangkan waktu buat beliin kamu baju yang baru, pindahin barang kamu kesini, karena ini tempat kamu sekarang."
Nuga kembali duduk dan meletakkan baju di sebelahnya.
"Sebenarnya, selama itu ... hanya ada air mata dan perselisihan."
Tanpa diminta, Nanda mengulurkan sebelah tangan mengusap pundak Nuga. "Ungkapin apa yang jadi beban Om selama ini ... aku akan dengerin."
Nuga menoleh, tampak matanya basah, tetapi dia tersenyum. "Nggak ada beban sebenarnya, hanya selama ini memang nggak ada yang mau tau apa yang aku rasakan, jadi semua terasa berat."
Dia tahu, Nuga hanya berpikir kalau dia tidak tahu urusan pria dan wanita dewasa beserta kompleksnya hidup mereka. "Aku mau tau, aku mau denger, makanya Om cerita. Biar nggak galak lagi sama orang-orang yang nggak tau apa-apa soal Om!"
Nuga jelas mengejek anak kecil ini. Sok sekali, tapi okelah ... dia akan mencoba bicara pada gadis yang hanya tau indahnya pacaran ini. "Bapak sama Ibuk nggak pernah merestui hubungan aku dan mamanya Hima. Sampai detik ini ...."
"Kenapa? Kan sama Hima sayang? Kok sama Mamanya enggak? Tapi aku nggak lihat Ibuk atau Bapak ada sifat yang kaya gitu?" Nanda mengerut heran. Aneh sekali!
"Ada banyak hal yang membuat mereka begitu. Semua rumit dan aku sibuk memikirkan Arum. Arum sakit-sakitan, hamilnya bermasalah, Hima pas lahir juga sering di rumah sakit." Nuga kali ini benar-benar merasakan betapa saat itu adalah masa paling suram dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kami—" Nuga membuang napas keras, seakan tak siap mengatakan semuanya.
Nanda maju sedikit, "Udah, Om ... jangan lanjutin! Nggak semua harus Om katakan sekarang. Ada hal yang memang lebih baik dilupakan tanpa diungkapkan, ada yang memang harus disimpan sendiri oleh Om, biarkan yang Om ceritakan adalah yang membuat Om tak habis pikir. Menurut Om benar, tapi orang lain ngga bisa menerima. Om butuh diskusi soal itu, baru Om ungkapkan."
Nuga menoleh, terkejut sendiri mendengar ucapan Nanda barusan. Tatapan takjub itu membuat Nanda salah tingkah dan membuang muka.
"Ya, gitu ... kadang aku hanya butuh dipeluk Ibuk biar aku ada kekuatan untuk menghadapi kekejaman Yang Ti." Nanda mengatakan kalau dia selalu seperti itu selama ini. Kepada Tasya dia mengatakan segalanya karena dia percaya Tasya sepenuhnya. Kepada Ibunya, dia hanya butuh kekuatan, sebab tahu kalau Ibunya juga berada di posisi yang sulit. Kepada Bapaknya, dia tahu semua diskusi berakhir dengan solusi. Dan pada kakak-kakaknya, dia perlakukan seperti putri dan kasih sayang penuh didapatkan. Kalau keras kepala dan nekat adalah karakternya sendiri.
"Kalau gitu, beri aku kekuatan." Nuga meraih Nanda dan memeluknya seperti sedang memeluk boneka.
"Nggak gini, Om!" Nanda sedikit terkejut. "Meluknya nggak serta merta gini, harus ada perasaan terluka dan tak berdaya yang nggak ada obatnya, yang Om udah nggak ada jalan lain lagi—"
"Begini?" Nuga menelusupkan kepala di ceruk leher Nanda, seakan disana ada sesuatu yang membuat Nuga merasa nyaman. Tangannya membelit punggung polos Nanda dan mengelusnya.
"Om—" Nanda speechless. Merinding dan hangat.
Nuga bisa menerima siapa saja yang diterima dengan baik—bahkan diinginkan, oleh orang tuanya dan Hima. Biarkan dia egois ingin memiliki Nanda tanpa memikirkan perasaan Nanda untuknya. Dia ingin hidupnya damai.
Dulu, entah siapa yang punya ide menjodoh-jodohkan mereka.
"Nggak dapat Yuna, masih ada Nanda. Apalagi dia akan tinggal disini, kesempatan kamu buat mengenal Nanda jauh lebih banyak, Ga."
Sayang, saat itu dia masih sakit hati atas perlakuan keluarganya pada Arum, jadi dia tidak pernah benar-benar memikirkan. Hanya, setelah Hima selalu mengatakan pada semua orang kalau mamanya adalah Nanda, dia mulai memikirkan perasaan orang disekitarnya.
Jika ini belum terlambat, maka lakukan saja sekarang. Nanda sudah dipelukannya.
Untuk sisi hatinya yang sekarang penuh oleh perasaan lega. Semoga Nanda bisa menerimanya dengan tangan terbuka.
*
*
__ADS_1
*