Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
18.


__ADS_3

Kenapa Diwa yang jadi dilema? Keterbukaan Nanda dan wajah cantik gadis itu alasannya. Ego terbesar dalam diri Diwa adalah secepatnya memiliki gadis itu sepenuhnya. Mari kita abaikan perasaan gadis itu sejenak, dan ingatkan selalu bahwa ini adalah wasiat. Diwa berkuasa sepenuhnya atas perasaannya yang egois ini.


"Seharusnya, kamu jangan dandan dan cantik begini kalau kamu nggak ada perasaan sama sekali padaku, Nda."


Orang lain pasti mengira mereka berdua telah saling jatuh hati melihat dekatnya posisi mereka. Berbisik dan tatapan malu yang memenuhi mata Nanda.


"Maksudnya, aku harus pake kaos oblong gitu, Mas?" Nanda mendengus. Jika saja boleh, Nanda dengan senang hati melakukannya. Acara ini kacau dan dia gagal dijodohkan. Dalam hati Nanda berulang kali membayangkan dengan kejam acara ini gagal, entah bagaimana caranya. Tetapi kenyataannya, acara ini terus bergulir sampai hampir ke acara inti.


Diwa terkekeh. "Kalau kamu cantik begini, aku makin susah untuk nggak makin jatuh cinta sama kamu."


"Yang terbaik memang kita harus saling jatuh cinta, kan?" Nanda merasakan getir dalam hati.


"Pasti akan sulit bagimu," sahut Diwa dengan senyumnya yang datar.


"Aku bisa, hanya butuh waktu." Helaan napas Nanda terdengar berat, dan Diwa tau, pasti Nanda berbohong.


"Pacarmu tau kamu lamaran hari ini?"


Nanda menegaskan pandangannya pada Diwa, matanya yang bulat itu semakin besar saat terkejut.


Tebakannya benar, dan sakit hati perlahan Diwa rasakan dalam hati. "Siapapun yang memiliki ekspresi sepertimu, mudah ditebak apa yang sedang dirasakannya, Nda. Kalau memang aku dan kamu tidak berjodoh, mungkin kalian dan aku bisa berteman. Setidaknya Aku tahu jodoh siapa yang sedang aku jaga selama ini."

__ADS_1


Nanda membuang muka ke arah keluarganya yang sedang asyik mengobrol dengan santainya bersama keluarga Diwa. Mereka yang membuat semua ini terasa menyakitkan, terutama untuk Diwa yang Nanda tau telah memiliki secuil perasaan padanya. Ini mulai tidak adil, kan? Nanda pun mulai mempertimbangkan Diwa. Meski bukan cinta, melainkan tidak enak hati telah menyakiti pria baik hati macam Diwa.


"Mas ...." Nanda memutar kepalanya menghadap Diwa lagi. "Andai aku tetap jadi istri Mas karena aku nggak enak hati menyakiti Mas Diwa, apa Mas Diwa akan kecewa? Jujur Aku punya seseorang yang sangat aku cintai. Susah Mas, untuk melupakan perasaanku padanya. Aku bisa saja putus, tapi setelahnya—"


"Mas ngerti, Nda ...." Diwa menyambar tepat di saat yang paling Diwa takutkan. "Sudah jujur begini, aku nggak mungkin bikin kamu makin susah. Setelah acara ini dan kita pisah lagi, akan ada banyak alasan untuk kita tidak lanjut ke pernikahan. Jangan khawatir, aku bukan orang egois, kok."


Diwa tersenyum dan mengusap lengan Nanda. "Kamu cantik, Mas nggak bisa lupa malam ini, Nda. Jika suatu saat kita nggak jadi nikah, boleh kan Mas simpan foto kamu malam ini?"


Nanda bingung, tetapi mengangguk. Entah untuk tujuan apa, tapi jika itu bisa menghibur sakit hati pria itu, kenapa tidak?


Diwa bergeser ke sisi Nanda dan mengambil foto bersama.


"Makasih, ya, Nda." Diwa mengamati hasil fotonya, dengan tersenyum dan Nanda melihat ada yang aneh dari senyum itu.


Diwa mengangkat wajahnya. Senyum kembali terbit. "Yang kamu lakukan sudah benar, Mas hargai itu."


Nanda menipiskan bibir dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di depan siapapun, Nanda belum pernah dibuat tak berkutik seperti ini.


"Kalau boleh tau, siapa pria itu, Nda?" Diwa sengaja membuang pandangnya ke arah tengah ruangan di mana semua orang mulai mengambil posisi sesuai dengan urutan yang telah disiapkan.


"Hm?" Nanda menelisik ke mata Diwa yang hanya mampu ia jangkau sedikit saja. "Oh, itu ... dia bukan orang yang luar biasa seperti Mas Diwa. Namanya A—"

__ADS_1


"Eh-eh ... udah mojok aja ya, calon mantennya?" Asti langsung mengulurkan tangan untuk meraih Nanda ke sisinya, seakan dia kesal Nanda bersama Diwa terus. "Wa, sana duduk di kursi kamu, jangan pacaran mulu, disini. Nanti acaranya ndak mulai-mulai."


Diwa mengerjapkan mata, "Biar Nanda sama saya saja, Bulik. Akan saya antar ke kursinya."


Asti merengut tetapi setuju. Melihat keduanya akur, keresahan hati semua orang sirna. Mereka bisa bernapas lega termasuk Asti.


"Ya udah, pelan-pelan bawa Nanda‐nya. Roknya terlalu rapet di bawah." Asti tersenyum ke arah Nanda. "Bulik tinggal dulu, ya."


Nanda mengangguk, dan mengantar kepergian Asti dengan tatapannya.


"Hape kamu bunyi, Nda." Diwa akhirnya memberi kesempatan Nanda untuk melihat ke dalam tas tangan yang sedari tadi bergetar tanpa Nanda sadari. Getaran yang tak putus itu sudah Diwa dengar sejak mereka duduk di sudut ruangan ini, jelas seseorang yang penting bagi Nanda sedang menghubungi. Pasti sangat penting sampai setengah jam obrolannya dengan Nanda getar itu tak berhenti.


Nanda mengambil ragu-ragu.


"Mas lepaskan kamu, Nda ... kamu bisa pergi. Pilihlah jalanmu sendiri, aku harap kamu bahagia."


Tangan Nanda yang terulur untuk mengambil tas kecilnya yang berada di depan Diwa itu gemetar. Matanya berguncang pelan dalam kebingungan. Dia bisa apa dengan keadaanya yang seperti sekarang. Ini-ini—


Diwa mengambil kunci motor dan menyerahkan pada Nanda. "Pergilah! Di sini akan jadi urusanku."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2