
"Mas ... aku-aku—"
"Nggak apa-apa, Nda ... satu kebaya buat dua acara juga nggak akan ada yang tau. Tapi kalau kamu mau, Mas bisa belikan kamu satu." Diwa mendekati Nanda dan memanggil pegawai yang membantu Nanda mengepas kebaya Nanda.
"Mas, nggak usah." Nanda kebingungan bagaimana menolak Diwa. "Aku sudah ada kebaya buat wisudanya, kok. Ini memang untuk acara ki-kita nanti."
Ingin sekali rasanya Diwa menjadi pria yang tidak mengerti dan memahami ekspresi wanita. Melihat penolakan Nanda, yang sangat halus dan sopan itu membuat Diwa paham bahwa Nanda memang tidak ingin menikah dengannya.
"Jangan nolak rezeki, anggap saja ini hadiah dari Mas, ya." Diwa menepuk pundak Nanda lembut. Bibir pria itu tersenyum, seakan menujukkan ketulusan dari hatinya yang paling dalam.
Sejauh ini, perasaannya masih dalam batas yang wajar. Diwa belum bisa meletakkan hati sepenuhnya untuk Nanda. Ini bukan karena Nanda tidak menarik, tetapi dia belajar dari kakak dan saudara-saudaranya yang juga menikah karena dijodohkan. Ada yang gagal, ada yang bertahan. Efeknya juga random. Dia hanya tidak ingin terlihat tidak serius ketika memilih Nanda daripada Yuna, kakak Nanda.
Menurutnya, Nanda lebih menarik dan dari obrolan mereka, memang Nanda lebih menyenangkan sebagai rekan bicara. Polos dan jujur. Dia belum tentu bisa memahami Yuna yang memiliki kedudukan dalam hal pekerjaan. Yuna terlihat mendominasi, dan Diwa kalah jauh posisinya jika dibanding Yuna.
"Mas—"
"Udah ... sekali ini saja jangan tolak keinginan Mas, yo. Jika kamu keberatan menganggapku orang yang special, kamu anggap saja aku Masmu, sama kaya Mas Bagas dan Mas Dika. Oke ...!" Diwa segera mendorong Nanda ke galeri toko yang penuh dengan kebaya yang sudah jadi dalam berbagai ukuran dan model, yang sudah pasti itu hanya ada satu saja di sini.
"Mbak, tolong pilihkan yang pas untuk calon saya, ya ... saya mau dia terlihat cantik di hari wisudanya nanti." Diwa sedikit berbisik pada pegawai yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Baik, Mas." Pegawai itu sejenak mengamati Nanda dan menuju deretan kebaya yang digantung dalam plastik pembungkus khusus.
__ADS_1
Diwa membasahi bibirnya dengan perasaan cemas, saat menanti Nanda menjatuhkan pilihan.
Dan kebaya silver dengan aksen mutiara menjadi pilihan Nanda. Desain paling sederhana dan yang paling murah. Diwa tersenyum melihat itu.
"Aku suka wanita yang memikirkan isi dompet prianya," ujar Diwa saat mereka meninggalkan rumah jahit itu. Tatapan mata Diwa menyapu wajah Nanda yang salah tingkah. "Tapi walau kamu pilih yang paling mahal di sana, tetap saja tidak akan membuat aku puasa di tanggal tua, Nda."
"Aku hanya tidak mau bikin Mas repot di pertemuan pertama kita, Mas. Aku—"
"Kita makan dulu, pokoknya ... jangan bilang merepotkan, makasih atau apa sebelum kita sampai di rumah kamu nanti, oke?!" Diwa menyela, belum siap jika harus ditolak Nanda hari ini juga. "hari kita masih panjang, Nda ... Aku mau kamu ajak aku pergi ke tempat yang indah dan menyenangkan. Kerja terus bikin aku pusing."
Nanda terkekeh geli melihat ekspresi suntuk Diwa. "Mas kan kerjaannya enak. Cuma nangkep penjahat kaya yang waktu itu aku lihat di tivi."
Diwa terperangah, lalu menoleh sejenak, sebelum kembali fokus ke jalanan. "Kamu lihat Mas di acara tivi yang itu? Serius?!"
"Aku belum ada apa-apanya, Nda ... Mas Bagas itu sudah legend soal kehebatan." Diwa malu jujur saja. Bagas malah sudah menempuh pendidikan untuk menjadi anggota pasukan amfibi.
Keduanya terlibat obrolan yang santai dan menyenangkan di sisa hari itu. Nanda terpaksa menuruti Diwa sebagai bentuk terima kasih dan balas budi. Meski lelah karena sepatu haknya, Nanda mengikuti Diwa sampai malam.
Mereka pulang setelah menonton bioskop, beli oleh-oleh untuk keluarga Diwa, dan juga makan di tempat yang menurut Nanda makanannya paling enak. Resto yang merupakan favorit Hima.
"Makasih, ya, Mas ... untuk hari ini." Nanda berdiri disebelah sisi kemudi saat dia turun dari mobil.
__ADS_1
"Udah Mas bilang jangan bilang makasih, sampai kamu pulang nanti, Nda." Tangan Diwa bergerak, meminta Nanda mendekat lalu menyentil kening gadis muda itu.
"Astaga, sakit Mas ...!" Nanda mengusap keningnya, seraya meringis.
"Makanya jangan bilang makasih, karena seharusnya aku yang bilang begitu sama kamu." Diwa tersenyum, "Mas pulang, ya ... hotelnya nanti aku share loc. Mas akan cek satu persatu mulai dari harga yang paling mahal, biar kamu nggak malu kalau dateng ke hotelku."
Nanda tertawa seraya menutup mulutnya. "Mas bisa aja. Ya udah aku masuk ya, Mas ... hati-hati di jalan."
Diwa tersenyum, lalu melajukan mobilnya menuju hotel yang sudah dipesannya sejak sebelum masuk bioskop tadi.
Nanda masuk ke rumah setelah mobil Diwa lenyap dari pandangan. Senyumnya pelahan sirna, berganti rasa penat yang menemukan badan.
"Bagus, ya ... udah ganti cowok lagi? Yang kemarin sudah bosan, ya?" sembur seseorang di remang-remang taman kecil rumah Nuga.
"Jadi wanita kok cuma mikir senangnya aja! Nanti hamil baru tau rasa!"
Mata Nanda membeliak mendengar tuduhan serius itu. "Sembarangan kalau bicara!"
*
*
__ADS_1
*