Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
51


__ADS_3

Kenyataannya, Nanda memang belum dewasa. Dia tidak suka sentuhan, seperti orang dewasa seusia Nuga.


Semalam hingga pagi ini, Nanda masih kukuh meminta Nuga minta maaf dan mengakui kalau dirinya salah.


"Oke ... baik!" Nuga akhirnya menyerah—marah, tetapi dia tetap tidak bisa meninggikan suaranya di depan Nanda. "Awalnya, aku mengira kamu hamil, bahkan aku yang sudah mengatakan pada Axcel kalau kamu akan dijodohkan sama pria lain ... puas?!"


Nanda bersedekap, sikapnya sejak semalam begitu dingin dan defensif. Dia memberi jarak dua lengan penuh dari Nuga, termasuk mengusir Nuga dari ranjang dengan kejam.


Sentuhan itu menjijikkan! Terkesan kalau dia gampangan hanya karena sebuah pelukan atau ciuman membara. Tidak ... Nuga masih penuh misteri, dia butuh jawaban sebelum mereka berhubungan lebih jauh.


"Tapi aku sudah bilang sama Bapak dan Ibuk kalau semua itu tidak benar sebelum aku membawamu kemari, Nda." Masih dengan suara yang lembut, yang hanya dilakukan pada Hima atau Arum dulu, Nuga menjelaskan. Di antara hanya ada udara membatasi—Nuga duduk di bawah ranjang, Nanda di seberang sana, menutup diri rapat-rapat. Minggu pagi yang penuh gerimis ini, Nanda meniupkan hawa dingin yang menambah ketegangan terasa mencekam.


"Aku bilang sama mereka kalau aku sayang sama kamu—"


"Itu bohong, kan? Nggak mungkin Om sayang sama aku!" Nanda menukas, matanya sinis melirik Nuga.


"Sebagai apapun, aku sayang sama kamu, dan sekarang ... tidak ada salahnya aku meningkatkan perasaanku menjadi cinta sama kamu, kan? Setelah menikah, wajar jika perasaan itu semakin jelas." Nuga tak mau kalah. Dia dominan dalam setiap hubungan, termasuk saat masih jadi orang yang hanya diberi mandat menjaga Nanda.


"Tapi aku enggak ... aku nggak bisa kaya Om yang tiba-tiba jatuh cinta hanya karena menikah." Nanda juga berkeras.

__ADS_1


"Justru karena menikah, perasaan harus berubah, Nda ... aku bahkan nggak butuh kamu sayang sama aku atau tidak, untuk melanjutkan pernikahan ini."


Ucapan Nuga ini membuat Nanda kembali meradang. Bisa-bisanya dia begitu?


"Nanti semua akan terjawab. Aku tahu kamu belum mengerti jalan pikiran orang dewasa, cara kerja cinta, definisi cinta pada pria dewasa. Kalau aku harus menunggu, ya, aku akan menunggu. Selama kau di sini, aku akan melakukan itu tanpa bosan."


Nanda mendengus. "Aku tahu ... dari cara Om memperlakukan, aku tau kalau pria dewasa biasanya merayakan cinta dengan sebuah percintaan yang panas."


Nuga menelan ludah untuk membasahi tenggoroakknya yang mendadak kering karena ucapan Nanda.


Tentu Nanda tau, Tasya sudah mengoceh soal itu saat melihat Nuga pertama kali.


"Aku bisa ...." Nanda menoleh, sorot matanya tajam, menikam, hingga Nuga menjadi salah tingkah. "Aku akan berikan apa yang Arum beri, tapi sebelum itu ... Om harus kasih tau aku soal Arum."


"Kita bertemu seseorang hari ini. Mandi dan bersiaplah!" Nuga menyingkap selimut, menarik Nanda keluar dari kenyamanan kasur nya yang hangat dan nyaman.


"Kenapa? Om butuh orang lain agar semua ini jelas? Om menyembunyikan apa?" Nanda bertanya dengan sinisnya, memutar tangan agar terlepas dari tangan Nuga yang jelas sekali selalu ingin menyentuhnya. Semalam, Nuga berusaha memeluk dan menciumnya, tapi dia menolak. Jelas dalam kepala pria itu hanya ada kata "bercinta menyelesaikan masalah"


Nanda tidak. Dia suka kejelasan. Dia suka urusannya selesai sebelum melangkah ke tahapan selanjutnya. Ini juga yang sebenarnya ingin dia lakukan jika bisa menghubungi Axcel. Dia ingin selesai dengan cintanya yang dulu, dan meski dia tidak suka, pernikahan sudah tidak bisa dibatalkan lagi.

__ADS_1


"Apa yang Yessa katakan padamu?"


"Soal kehamilan Arum ... dan pernikahan kalian!" Nanda menjawab tegas. Matanya menantang Nuga tanpa ragu atau takut.


"Kamu percaya padanya?"


"Ya ... memangnya aku harus percaya pada siapa lagi?" Nanda membuang muka. Percaya diri kalau Nuga tidak bisa mengelak.


"Jadi kita harus menemui orang ini, aku tidak mau kamu anggap hanya membela diri! Di depan orang ini, semua jelas tanpa aku harus adu urat sama kamu, dan menyakiti kamu! Kamu berani?" Nuga mulai kesal akan sikap Nanda. Dia tidak suka masa lalunya dikorek. Tapi sayang semua dibongkar paksa oleh seseorang.


"Kenapa harus takut?"


"Jika aku benar, maka kamu harus tanggung akibatnya sendirian! Aku baik pada anak yang baik, tapi kamu ... anak nakal yang hanya membuat aku pusing!" Nuga mendenguskan napasnya. Tangannya gatal ingin menghukum Nanda seperti dia menghukum Hima. Semua wanita yang dekat dengannya, kenapa sifatnya sama? Nakal, pembangkang, dan menyebalkan.


Untung sayang ....


*


*

__ADS_1


*


Nayra dr semalam blm lolos juga sudah 3 hari kaya gini. NT makin ketat sejak banyak otor yg curang 🥺 jadi yg nggak curang kena imbasnya🥺


__ADS_2