
"Setiap perpisahan selalu ada alasan, bukan? Bukan soal selevel atau tidak, tapi cinta kami memang telah habis dan aku ingin berdamai dengan dunia. Beda dengan kamu yang malah ...." Yuna menerbitkan senyum sinis dengan mata naik turun mencibir Nuga. Dia bercerai bukan soal uang, tapi memang ada beberapa hal yang suaminya tidak mau menurut padanya. Yuna suka hidup teratur, sementara suaminya lebih santai. Itu yang Yuna tidak bisa terima.
Nuga hanya membuang napas seraya menahan tawa. Jika tidak dia pasti sudah terbahak-bahak sekarang. Yuna ini lucu sekali. Alasan klise orang bercerai misal cinta telah usai, beberapa hal tidak bisa sepakat, bukankah seharusnya yang disebut tidak sepakat itu bisa dikalahkan dengan salah satu mengalah demi yang lain? Konsep hidup dalam pernikahan memang dirancang untuk menyelaraskan dua kepala beserta isinya, bukan menyamakan salah satu dengan yang lain. Mereka hidup berdua, saling melengkapi, dan berbagi. Yuna menurutnya lucu.
"Jika aku dulu setuju menikah denganmu, apa aku juga akan berakhir seperti ibu dari anakmu itu? Kenapa? Apa karena kamu nggak mampu membuat dia bahagia? Kudengar dia koma setelah melahirkan, karena bayi dalam perutnya yang menolak darah ibunya."
Yuna terkesan kepo pada sesuatu yang bukan urusannya. Nuga tidak suka, tentunya. Tapi di sini bukan saatnya membuat wanita itu marah.
Semula Nuga enggan memandang Yuna, tetapi kata-kata barusan sedikit mengusiknya. Dia tahu kehamilan Arum cukup berat karena memang ada masalah sejak awal. Tapi, membicarakan ini lagi, membuat Nuga sedikit baper. Dia rindu Arum dan senyumnya. Yang terkadang—Nuga merasa, senyum itu hanya bisa ditemukan di bibir Nanda.
"Apa kamu semacam petugas penyuluhan kesehatan ibu hamil dan masalah kehamilan yang mungkin menjangkiti ibu hamil? Atau kamu sedang mengkhawatirkan Nanda dengan—"
"Tidak juga ... tapi aku khawatir adikku akan bernasib sama dengan istrimu itu." Yuna berkata seolah-olah Nuga adalah sebuah kesialan dan dia beruntung tidak menerima pinangan Nuga.
Nuga menatap Yuna meneliti, kemudian melihat jam tangannya. Ini sudah malam.
"Yuna ... disini akulah yang beruntung tidak jadi menikah sama kamu."
Yuna mengerutkan kening. Bukankah dulu Nuga sempat kecewa dan murung setelah dia menolaknya? Apa ini semacam penyangkalan fakta?
"Tidak apa-apa aku jadi duda sebelum genap setahun usia pernikahanku. Tapi menikah dengan wanita sejenis dirimu tampaknya, status duda jauh lebih cepat tersemat di KTP-ku. Bahkan mungkin dalam hitungan hari." Nuga tersenyum saat Yuna merengut masam dibuatnya.
"Urus dirimu sendiri sebelum sibuk mengurusi orang lain. Nanda bersamaku selama empat tahun lamanya, katakan saja kami telah penjajakan karakter selama ini ... jadi sekarang hanya tinggal memindahkan Nanda ke kamarku saja. Hanya setipis itu bedanya, yang lain aku dan Nanda sudah saling mengerti."
__ADS_1
Bolehlah sombong di depan wanita sok macam Yuna. Dia hanya harus menyetel keadaan jadi seperti yang barusan dia ucapkan. Ini mudah, karena banyak alasan yang akan membuat Nanda tak akan lama di sini. Nuga sudah merencanakan banyak hal untuk Nanda.
Yuna menusuk pipi bagian dalam dengan lidahnya menatap Nuga dengan perasaan mendongkol. Kesal tapi dia harus tahu, terus melawan Nuga bukan hal yang baik. Dia hanya menyesal melihat orang-orang yang dulunya tidak ada apa-apanya dimatanya, kini tampak jauh lebih berharga. Mereka berubah semakin baik. Nuga juga tampak lebih menawan dengan sikap dewasanya. Nanda bahkan berkembang jauh di luar ekspektasinya.
Mungkin waktu berputar dan menempa seseorang di luar lingkup pergaulan Yuna menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya Yuna yang tetap merasa dirinya tinggi, tak tersentuh, seakan orang lain tak akan menyamainya. Padahal sekarang dia tidak lebih buruk dari siapapun yang dianggapnya rendah dulunya. Sebentar lagi bahkan sudah akan bergelar janda. Hanya beberapa waktu lebih lama dari Nuga.
***
Dikamar ternyata Nanda benar-benar tidak bisa tidur apalagi kabur. Yang Ti sudah menunggu giliran masuk ke kamar Nanda. Jadi begitu melihat Nuga pergi, Yang Ti bergegas masuk.
Dia marah, kecewa, tetapi keadaan Nanda mengharuskan dirinya berkata lebih pelan. Tapi tetap saja, Nanda merasa dirinya terintimidasi.
"Kamu itu yang dipikirkan opo, ha? Yang Ti udah milihin calon yang baik, yang berpangkat, la kok malah milih dosen yang udah duda? Apa yang kurang dari Diwa, ha? Kamu terjamin hidupnya kalau sama Diwa ... bukan malah sama anaknya Puji itu yang...."
Ucapan Padma terhenti, dia ingat kalau Puji adalah sahabat Pras sewaktu Pras masih kecil. Puji sudah buruh di perkebunan Utomo, saat Pras masih SD. Usia mereka terpaut jauh. Kemudian Puji merantau ke kota dan bekerja sebagai buruh pabrik tekstil, menikah dengan orang sana, dan tidak kembali ke sini selain saat saudara Puji mengadakan acara atau lebaran sesekali. Puji hanya anak yatim yang ditampung keluarga sederhana di desa ini, jadi wajar kalau anak-anaknya tidak memiliki jabatan tinggi.
"Coba saja kamu nikah sama Diwa ... Kamu tinggal ongkang kaki di rumah, momong anak, ndak perlu susah-susah kerja. Sekarang, kamu mau kerja apa dengan kemampuanmu yang biasa aja itu? Yuna aja yang pinter dari taun gajah sampai sekarang ndak naik jabatan kok! Bahkan harus S2 dulu biar naik jabatan! Lah kamu yang cuma S1 bisa apa?!"
"Aku bisa banyak hal yang Yuna nggak bisa Yang Ti!" Nanda mendongak dengan mata yañg basah tetapi tidak sampai menangis. Jiwa membangkang Nanda telah kembali setelah tadi bilang bersama ciuman dari Nuga.
Padmasari terkejut hingga tubuhnya sedikit mundur.
"Kalau nggak ada aku yang bodoh, siapa yang akan Yang Ti tindas? Siapa yang akan Yang Ti paksa-paksa buat nikah sama keluarga nyinyir itu? Aku milih siapa untuk jadi suami aku itu hak aku, Yang Ti ... Aku berhak bahagia dengan jalan hidup yang aku pilih. Ini hidup aku, bukan hidup Yang Ti. Jika dulu Yang Ti ada urusan yang belum selesai dengan keluarga Mas Diwa ... Sekarang aja Yang Ti selesaikan, jangan nyuruh-nyuruh aku terus. Toh Yang Ti juga sudah menjanda. Atau Yuna itu yang mau cerai, suruh saja setelah idah nikah sama Diwa!"
__ADS_1
"Nanda! Kurang ajar kamu!" Padmasari terkejut bukan main. Ini—Ini didikan siapa? Kenapa Nanda bisa jadi wanita kasar dan pembangkang seperti ini?
"Aku kurang ajar karena Yang Ti! Yang Ti terus memaksa aku buat ngelakuin apa yang aku nggak suka! Yang Ti—"
"Nanda—!"
"Stop, Eyang Padma!" Tangan Padmasari tertahan oleh sebuah tangan yang kuat. Nyaris meremukan tulang tuanya.
"Dia sudah jadi istri saya ... jadi jangan sekali-sekali Eyang Padma membentak Nanda, karena yang berhak mendidik Nanda sekarang adalah saya!"
Bibir Padma memutih. Mata tuanya menelisik mata Nuga. Kemarahannya tertahan di dada, membuat napas senjanya kembang kempis.
*
*
*
—Duh, lapaknya sepi bet ya—
Wkkwkwkwkwkwk🤣 Nunggu seseorang komen aku tuh🤣 eh, dua ding, eh tiga ding, eh banyak ding😅
Kabur ah🤣🤣🤣 Leo up jam 12 lebih nanti karena dari sini setengah 12
__ADS_1
😘😘😘